Di sebuah desa terpencil bernama Gumukpandan, hidup seorang pemuda penjual es kelapa muda bernama Warto Sumantri, sosok yang sederhana, pendiam, dan sering dijadikan bahan ejekan warga. Orang-orang menganggap Warto tak lebih dari pemuda gagal—tidak sekolah tinggi, berpakaian lusuh, dan hidup dari berjualan di pinggir jalan. Tak ada yang tahu bahwa di balik tubuh kurusnya, Warto menyimpan warisan ilmu Kejawen Sepuh dari almarhum kakeknya, Ki Sumantra Wiranegara, seorang punggawa spiritual yang dulu menjaga keseimbangan gaib di wilayah selatan.
Suatu malam, desa Gumukpandan diguncang oleh serangkaian kejadian ganjil—anak-anak kerasukan, sawah mengering mendadak, dan ternak mati tanpa sebab. Warga panik. Belakangan terungkap bahwa semua itu ulah seorang dukun sakti dari Desa Kandri, bernama Ki Surogendro, yang menaruh dendam karena tanah leluhurnya direbut untuk proyek irigasi desa Gumukpandan. Dengan santet, pesugihan, dan makhluk kiriman, Ki Surogendro menebar teror hingga membuat beberapa warga tewas mengenaskan.
Ketika para tokoh desa tak mampu berbuat apa-apa, Warto tiba-tiba muncul dan menyalakan dupa di dekat gerobak es kelapanya. Dengan bahasa Jawa kuno yang hampir tak dipahami siapapun, ia memanggil penjaga gaib warisan leluhurnya: Pancer Jagad Lima Arah. Dari situlah terkuak siapa sebenarnya Warto. Di balik wajah polosnya, ia menyimpan ilmu sirep angin, aji wisa balik, dan ngelmu ruwat bumi—ilmu yang membuatnya bisa melacak dan menetralkan setiap santet dari jarak jauh.
Satu per satu, murid-murid Ki Surogendro yang menjadi pengirim santet dihantam balik oleh kekuatan gaib Warto—ada yang tubuhnya membusuk hidup-hidup, ada yang ditemukan tergantung dengan mata membelalak, dan ada pula yang terbakar tanpa api. Hingga akhirnya, Warto sendiri menantang Ki Surogendro dalam perang batin di tengah kebun kelapa, tempat di mana darah dan mantra berpadu dalam badai angin yang menderu.
Tak ada warga yang tahu pasti bagaimana pertarungan itu berakhir. Namun, pagi harinya, tubuh Ki Surogendro ditemukan membatu dengan kelapa muda menancap di dadanya. Sementara Warto hanya kembali berjualan seperti biasa, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Saat orang-orang menatapnya dengan takut dan hormat, ia hanya berkata pelan,
“Bukan saya yang hebat, tapi leluhur yang belum ikhlas desanya diganggu.”
Sejak saat itu, es kelapa muda jualan Warto dipercaya bisa menyembuhkan orang yang terkena santet—asal diminum dengan hati bersih. Namun, di setiap malam Kliwon, konon terlihat sosok Warto berbicara sendiri di bawah pohon kelapa, seolah masih berdialog dengan dunia yang tak kasatmata.
selamat datang dan selamat mendengarkan cerita horror kami
#kisah misteri
#kisah horror
#kisah mengerikan
#cerita horror
#cerita seram
#cerita mengerikan
#pesugihan
#tumbal
#tumbal pesugihan
Информация по комментариям в разработке