KERIS EMPU GANDRING IKATAN PERJODOHAN - satria kekasih dewa 182
“Paman besar, keris tua ini pernah datang pada ku dan pergi begitu saja setelah aku menggunakannya!”, seru Arya Kamandanu pada Kama Kanaka.
Semua yang mendengar seruan Arya Kamandanu melayangkan tatapan penuh tanya.
“Hohohoho, jadi kamu lah panglima itu yang di cari mendiang adik Gana!”, kata Kama Kanaka manggut-manggut. Mari kita dengarkan ..
Audio latar:
YouTube Audio Free
#sandiwararadio #satriakekasihdewa #mahkotamayangkara #tuturtinular #aryakamandanu #jambunada #sakawuni #ayuwandira #aryadwipangga #meishin #dewitanjungbiru #nagapuspa #sumpahpalapa #gajahmada #gajahenggon #adytiawarman #tribuanatunggadewi #majapahit #satriadewa #kerajaan #satriamuda
Di dalam hidup ini ada tiga hal yang tak bisa kembali yakni waktu, ucapan dan kesempatan. Maka dari itu gunakan waktu, lisan dan kesempatan sebijaknya.
Ada juga tiga hal yang bisa menghancurkan hidup kita yakni amarah, keangkuhan dan dendam. Oleh sebab ini hindarilah dengan bersabarlah,bermurah hatilah dan penuhin diri kita dengan kasih sayang.
Di dalam hidup ini ada tiga hal utama yang paling berharga yakni kasih sayang, cinta dan kebaikan. Marilah kita pupuk sebaik mungkin sebelum kita menyesal.
Ketidakpastian di dalam hidup tak perlu di kejar sedemikian rupa yakni kekayaan, kejayaan dan mimpi. Lebih baik tak terlalu terobsesi untuk melengkapi hidup kita dengan tiga hal ketidakpastian itu.
Bagaimana kita membentuk watak diri? Ada tiga hal untuk itu yakni komitmen, ketulusan dan kerja keras. Bentuklah diri dengan watak yang bisa di percaya, dihargain dan dijadikan contoh untuk sesama.
Ada tiga hal yang membuat kita sukses yakni tekad, kemauan dan fokus. Tanpa ini, jangan berharap akan sukses, usahakan dengan sungguh-sungguh, jangan sampai kita terbuang layaknya sampah.
Beberapa hal yang tak pernah kita tahu yakni rejeki, umur dan jodoh. Lebih baik kita berserah diri pada Sang Pencipta daripada kita mendapatkannya dengan tidak halal.
Dan ada tiga hal dalam hidup yang memiliki kepastian hakiki yakni tua, sakit dan kematian. Apakah kita sudah mempersiapkannya dengan sebaik-baiknya sebelum Sang Maiaikat Maut membawa kita ke penghakiman terakhir.
Hidup ini seperti pertunjukan sandiwara. Lakonilah dengan benar dan berusahalah berbuat baik selalu untuk memupuk karma baik dikemudian hari.
Kita kembali pada ingatan Jambu Nada di pendapat depan rumah kediaman mendiang Gana Lokapala.
Arya Kamandanu tersentak begitu ingat tentang keris tua itu. Keris tua itu pernah dia gunakan untuk membinasakan satu-satunya musuh bebuyutan dirinya yakni Empu Tong Bajil.
“Paman besar, keris tua ini pernah datang pada ku dan pergi begitu saja setelah aku menggunakannya!”, seru Arya Kamandanu pada Kama Kanaka.
Semua yang mendengar seruan Arya Kamandanu melayangkan tatapan penuh tanya.
“Hohohoho, jadi kamu lah panglima itu yang di cari mendiang adik Gana!”, kata Kama Kanaka manggut-manggut.
“Paman besar aku tak tau tentang paman Gana, yang aku tau keris tua ini datang dengan sendirian dalam tapadaksa ku di saat aku memohon pada Sang Hyang Widiwasa untuk memberantas angkara murka seorang empu dan kronco-konconya. Saat itu aku kalah tanding dan Pedang Naga Puspa di ambil oleh lawanku yang bernama Empu Tong Bajil. Dialah ayah biologis dari Layang Samba musuh bebuyutan Jambu Nada puteraku. Atas titah Sang Prabu Wijaya memberantas gerombolan pengacau dan para pendekar dari Kediri , aku dan mendiang ibu Jambu Nada kembali menyatroni ke sarang mereka. Dengan keris tua ini, Tong Bajil binasa di tangan ku, sedangkan Pedang Naga Puspa dapat aku rebut kembali dan kepala Tong Bajil ku persembahkan pada Sang Prabu Wijaya!”, ucap Arya Kamandanu panjang lebar.
“Hohohoho, dan keris ini kembali ke pembuatnya di pusarannya!”, tambah Kama Kanaka tersenyum.
“Aku tak tau keris itu kembali ke pembuatnya, namun yang pasti keris itu setelah meminum darah Tong Bajil, lenyap begitu saja!” sahut Arya Kamandanu.
Информация по комментариям в разработке