PERANGKAP UNTUK AYU WANDIRA - satria kekasih dewa 84
Setelah bersih-bersih, jambu nada yang menggendong mawar mendengar suara-suara orang di bagian utara dari bukit kecil. Kemudian mereka berdua pergi ke suar-suara itu karena penasaran. Mari kita dengarkan ..
Audio latar:
YouTube Audio
Drifting at 432 Hz
#sandiwararadio #satriakekasihdewa #mahkotamayangkara #tuturtinular #aryakamandanu #jambunada #sakawuni #ayuwandira #aryadwipangga #meishin #dewitanjungbiru #nagapuspa #nagapuspakresna #gajahmada #gajahenggon #adytiawarman #tribuanatunggadewi #majapahit #satriakekasihdewa #kerajaan
Petang telah berganti malam, cahaya bulan sepotong menyinari hutan itu. Jambu nada berlari sambil menggendong mawar melewati jalan setapak di salah satu bukit kecil itu, Jambu nada masih ingat dengan tempat ini, ini daerah hutan alas larang, bukan hutan tarik.
Jambu nada berhenti di bawah pohon waringan yang cukup lebat.
“Kita di sini sebentar dinda!” ujar jambu nada pada mawar.
Mawar melompat turun dari punggung jambu nada dan berdiri di samping kanannya.
“Aku ingat ini hutan alas larang, bukan hutan tarik seperti yang di katakan salah satu penduduk yang kita tanyakan kemarin.” Kata jambu nada memandang sekitarnya.
Cahaya bulan cukup menerangi tempat jambu nada dan mawar berdiri.
“Mungkin maksud orang itu setelah hutan ini baru hutan tarik kakang,” balas mawar.
“Iya dinda, berarti perjalanan kita masih agak jauh. Lebih baik kita kembali ke gua,” ujar jambu nada bersiap untuk melanjutkan perjalannya ke gua itu. Tak jauh lagi, setelah melalui bukit kecil itu dan memutar ke arah timur bukit yang lebih besar, maka mereka berdua akan sampai ke tujuan.
Mawar menanggukkan kepalanya tanya iyah, saat jambu nada akan menggendong mawar, tiba-tiba dia mendengar suara-suara di balik bukit kecil yang berlawanan dengan arah tujuan mereka. Sepasang daun kupingnya bergerak ke depan, mencoba mendengar lebih cermat.
“Ada apa kakang?” tanya mawar melihat kelakuan jambu nada.
“Kakang mendengar suara-suara beberapa orang di balik bukit ini, di sana!” kata jambu nada lalu menunjuk ke arah utara.
“Ih, aku jadi takut kakang!” balas mawar mulai merasa ketakutan.
“Takut apa!” tanya jambu nada mengerutkan dahinya.
“Takut kalau itu hantu hantu penghuni hutan ini!” jawab mawar lalu tubuhnya merapat ke jambu nada.
“Bukan hantu dinda, salah satu suara itu sepertinya aku kenal,” sahut jambu nada.
“Kakang, lebih baik kita kembali ke gua dan memberitahukan ini pada eyang!” balas mawar memeluk lengan kanan yang kekar itu.
“Dinda, kita intip mereka ya!” pinta jambu nada bernada meminta persetujuan dari mawar.
“Salah satu suara yang kakang dengar itu, suara siapa?” tanya mawar penasaran.
“Seperti suara kangmbok ayu wandira!” jawab jambu nada.
“Siapa dia kakang?” tanya mawar cemberut.
“Puteri uwak arya dwipangga!” jawab jambu nada.
“Siapa arya dwipangga itu kakang?” tanya mawar merasa cemburu pada puterinya arya dwipangga.
“Itu uwak besar, kakangnya ayahku dinda!” jawab jambu nada heran mendengar pertanyaan mawar yang sepertinya bernada gimana gitu.
Mawar langsung tak cemburu lagi begitu mengetahui siapa ayu wandira dan arya dwipangga.
“Cepet kakang, kita ke sana. Siapa tau kangmbok ayu wandira dalam masalah!” ujar mawar langsung melompat ke punggung jambu nada.
“Iyah dinda, pegang yang erat-erat dinda!” balas jambu nada bersiap ke sana menggunakan saipi angin.
“Kok erat-erat kakang?” tanya mawar berbisik di telinga kanan jambu nada.
“Iyah, kakang mau berlari lebih cepat lagi, tapi itunya jangan nempel nempel!” jawab jambu nada.
“Apanya nempel-nempel kakang?” bisik mawar mengigit bibir bawahnya yang selalu basah itu.
“Itu, dadah mu dinda!” jawab jambu nada tersipu.
“Kalau tidak nempel nempel, gimana bisa peluk erat-erat kakang?” tanya mawar kesal.
“Iyah yah!”jawab jambu nada garuk garuk kepalanya.
“Cepetan kakang!” pinta mawar.
Jambu nada segera berlari ke arah suara-suara itu. Baru sebentar dia menurunkan kecepatan larinya, lalu bertanya pada mawar yang di gendongnya itu, “Kok rasanya yang nempel nempel itu lain dari biasanya dinda?”
“Aku tak pakai kemban kakang, sudah sobek sobek!” bisik mawar semakin mempererat pelukkannya.
Jambu nada jelas memerah wajahnya seperti udang rebus.
“Masa tak ada yang lain sih?” tanya jambu nada lagi.
“Tak ada lagi kakang, nanti kakang belikan ya di dekat pedukuhan ini!” jawab mawar menyandarkan kepalanya ke belakang punggung kanan jambu nada.
“Iyah,” sahut jambu nada kasihan pada mawar.
“Kakang sukakan dinda tak pakai kemban?” bisik mawar tak tau malu.
Информация по комментариям в разработке