Tari Setundok merupakan tari tradisi yang telah dikenal sejak masa kolonial Belanda dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat di Kecamatan Suak Tapeh. Tari ini berfungsi sebagai tarian penyambutan untuk menerima tamu kehormatan yang berkunjung ke wilayah Lubuk Lancang. Karakter tari menggambarkan sifat gadis-gadis setempat yang pemalu, santun, dan berperilaku halus. Penyajian tari dilakukan oleh penari perempuan dalam jumlah ganjil, yaitu tiga, lima, atau tujuh penari.
Keberadaan Tari Setundok tidak terlepas dari peran Romsadi, seniman musik dari Desa Lubuk Lancang, yang mempelajari dan menghidupkan kembali tari ini bersama putrinya, Ika, melalui pembelajaran dari penari senior (Maseha) di Desa Bengkuang. Pada awalnya Tari Setundok tidak memiliki iringan musik, namun kemudian dikembangkan oleh Romsadi bersama Raden Gunawan hingga memiliki komposisi musik pengiring yang tetap. Seiring waktu, pementasan Tari Setundok mengalami revitalisasi dari segi penyajian, struktur gerak, serta penyesuaian busana tanpa meninggalkan nilai tradisi.
Pada tahun 2008, Raden Gunawan melakukan rekonstruksi formal terhadap Tari Setundok untuk kebutuhan tampil perdana dalam program Visit Musi. Rekonstruksi ini mencakup:
• Penataan ulang urutan gerak agar lebih terstruktur.
• Penegasan karakter estetika tari.
• Penyusunan komposisi musik dengan format pertunjukan yang lebih representatif.
Setelah rekonstruksi tersebut, Tari Setundok terus berkembang dan kembali dipentaskan secara resmi pada kegiatan Gala Dinner Musi Triboatton 2016, memperkuat posisinya sebagai ikon seni budaya Banyuasin dalam event daerah dan nasional.
Tari Setundok berfungsi sebagai: Tarian penyambutan tamu kehormatan desa.
Representasi identitas perempuan Lubuk Lancang.
Media pelestarian nilai kesantunan, kerendahan hati, dan keanggunan dalam budaya Melayu Banyuasin.
Sarana memperkuat solidaritas sosial antar-generasi melalui proses pewarisan seni.
Nilai budaya yang terkandung meliputi nilai estetika tradisional, nilai etika dan kesopanan, nilai kebersamaan, serta nilai historis masyarakat Banyuasin.
Struktur Tari Setundok tersusun dari motif gerak berikut:
1. Tebeng Malu
2. Sembah Awal
3. Anjoran
4. Sedudok Bawah Kanan
5. Raup
6. Sedudok Bawah Kiri
7. Raup
8. Sedudok Atas Kanan
9. Raup
10. Sedudok Atas Kiri
11. Raup
12. Cempake Tegek Kanan
13. Raup
14. Cempake Tegek Kiri
15. Raup
16. Surah Dudok
17. Raup
18. Raup Tangge Kanan
19. Raup
20. Raup Tangge Kiri
21. Raup
22. Surah Sengeh
23. Cempake Dudok Kanan
24. Raup
25. Cempake Dudok Kiri
26. Raup
27. Surah Ragep Kanan
28. Raup
29. Surah Ragep Kiri
30. Raup
31. Surah Tegek
32. Anjoran
33. Surah Benaran Kanan
34. Raup
35. Surah Benaran Kiri
36. Raup
37. Sembah Belek
38. Tebeng Malu Belek
Gerak-gerak tersebut menekankan keluwesan, keanggunan, dan kesopanan, mencerminkan karakter perempuan Melayu setempat. Instrumen yang digunakan dalam Tari Setundok meliputi: akordion, gendang melayu, dol, gong, serta tambahan biola. Komposisi musik berkarakter lembut, harmonis, dan sesuai dengan tempo gerak yang halus. Busana awal menggunakan kebeyek landong dan songket. Dalam perkembangannya, busana dapat menggunakan baju kurung.
Riasan penari bersifat korektif natural, menonjolkan kecantikan alami perempuan tanpa teknik rias berlebihan. Tari Setundok tidak menggunakan properti tari, sehingga ekspresi estetik terfokus pada gerak tubuh dan struktur koreografis.
Информация по комментариям в разработке