Pura Campuhan Windhu Segara, yang terletak di Bali, memiliki sejarah yang relatif baru jika dibandingkan dengan beberapa pura pura lain yang cukup lama atau kuno di pulau tersebut. Pura ini mulai dibangun pada tanggal 7 Juli 2005 oleh seorang pemangku bernama Jro Mangku Gede Alit Adnyana.
Kisah unik dari awalnya pura ini dibangun, dimulai ketika Jro Mangku mengalami sakit gagal ginjal yang sulit untuk disembuhkan. Setelah mencoba berbagai pengobatan namun hasilnya tetap tidak ada. Ia merasa putus asa. Namun, dalam keadaannya yang sedang putus asa, ia menemukan sebatang kayu di pantai Padang Galak yang mengeluarkan asap. Keluarnya asap dari kayu tersebut dianggap sebagai pertanda kebesaran Tuhan, dan Jro Mangku juga mendapatkan petunjuk untuk membangun sebuah pura dikawasan ia menemukan kayu tersebut, meskipun lokasi itu hanya berlantai pasir laut. Lalu beliau pun akhirnya membangun Pura tersebut dan beliau sembuh dari penyakitnya.
Cerita magis ini menarik perhatian masyarakat, yang bersatu untuk mendukung pembangunan pura ini. Ini mencerminkan toleransi yang kuat di Bali. Dengan dukungan dari berbagai pihak, pembangunan dimulai pada tanggal 7 Juli 2005. Pembangunan pun terwujud dan sekarang sudah berdiri tegak di pinggir Pantai Padang Galak. Jro Mangku Gede Alit Adnyana kemudian pergi ke hutan selama 108 hari untuk melakukan tapa, brata, yoga, dan semadi. Dia akhirnya mendapatkan gelar Maha Guru dan mengubah namanya menjadi Mahaguru Altreya Narayana. Gelar ini diberikan kepada rohaniawan yang mendirikan pura, seperti Pura Campuhan Windhu Segara. Pura ini akhirnya diberi prasasti yang mencatat tanggal berdirinya pada tanggal 7 Juli 2005 oleh Mahaguru Altreya Narayana. Pura ini diresmikan pada tanggal 9 September 2016 oleh Gubernur Bali Imade Mangku Pastika dan dihadiri oleh Ida Dalem Semaraputra sebagai wakil dari Puri Klungkung.
Pura Campuhan Windhu Segara memiliki berbagai pelinggih, termasuk Pelinggih Betara Wisnu, Padmasana, Rambut Sedana, Kanjeng Ratu, Dewi Kwam In, Pusering Jagat, Penglukatan, Ratu Bagus Padang Galak, Ratu Manik Segara, Ratu Gede Dalem Ped, Siwa Budha, Taksu Agung, Hyang Baruna, Tajuk Kiwa, dan Tengen. Selain upacara piodalan, pura ini juga mengadakan upacara khusus seperti mesakapan pasih untuk merayakan pertemuan antara air laut dan air sungai, serta upacara metatah yang biasanya dilakukan pada manusia.
Информация по комментариям в разработке