Nenek Harti sudah berusia 70 tahun. Rambutnya putih, kulit wajahnya penuh keriput, tubuhnya kurus dan bungkuk. Ia tinggal sendirian di sebuah gubuk reyot di pinggir desa yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu rapuh. Atapnya dari rumbia yang sudah bocor di sana-sini. Kalau hujan deras turun, air menetes masuk ke dalam rumah kecil itu, membuat lantai tanah jadi becek.
Sehari-hari, nenek Harti hidup dengan kesederhanaan yang menyedihkan. Untuk makan, ia hanya mengandalkan apa yang bisa ia dapat dari hutan: daun singkong, umbi-umbian, atau kayu bakar yang ia jual murah ke tetangga. Kadang, ada tetangga yang memberi nasi atau lauk, tapi itu pun jarang. Kebanyakan orang di desa memandangnya dengan kasihan, tapi ada juga yang meremehkannya.
“Sudah tua, masih saja berkeliaran di hutan. Mau apa lagi hidup begitu?” begitu bisikan yang sering ia dengar dari orang-orang.
Nenek Harti hanya diam. Ia tidak punya keluarga lagi. Suaminya sudah meninggal bertahun-tahun lalu, sedangkan anak satu-satunya pergi merantau dan tak pernah pulang, bahkan kabarnya pun hilang. Harti sering menatap ke jalan desa, berharap ada sosok yang datang membawa berita tentang anaknya, tapi harapan itu semakin tipis seiring usianya yang makin renta.
Meski begitu, ia tetap berusaha bertahan hidup. Setiap pagi, dengan tubuh gemetar, ia membawa keranjang bambu tua di punggungnya dan berjalan perlahan ke arah hutan. Ia mengumpulkan ranting dan potongan kayu yang bisa dipakai untuk memasak. Kadang kalau beruntung, ia menemukan jamur liar atau buah hutan yang bisa dimakan. Semua itu ia bawa pulang dengan langkah tertatih.
Saat malam tiba, nenek Harti duduk sendirian di gubuknya yang gelap. Lampunya hanya sebuah pelita kecil dengan minyak yang sering habis. Ia sering berbicara sendiri, entah pada bayangan atau hanya untuk mengusir sepi.
“Besok aku harus kuat… besok aku harus cari kayu lagi…,” gumamnya pelan.
Kesepian adalah teman setianya. Kadang ia menangis diam-diam, merindukan suara anaknya yang sudah lama hilang. Hanya doa yang membuatnya bertahan. Setiap selesai sholat, ia berdoa agar ada sedikit keajaiban yang datang di sisa hidupnya.
Namun, hidup tidak pernah mudah. Pernah suatu hari, saat ia kembali dari hutan dengan kayu bakar di punggung, ia jatuh tersungkur karena kakinya terpeleset di jalan berlumpur. Kayu bakar yang susah payah ia kumpulkan berhamburan. Beberapa anak muda desa yang melihat justru menertawakannya.
“Lihat tuh, nenek tua nggak tahu diri. Harusnya duduk saja di rumah, bukan keluyuran!” salah seorang bersuara.
Hati Harti sakit mendengarnya. Tapi ia tidak membalas. Ia hanya menghela napas, mengumpulkan kembali kayu bakarnya satu per satu sambil menahan perih di lututnya yang tergores. Ia tahu, tidak ada gunanya membela diri. Ia sudah lama terbiasa diremehkan.
Semoga cerita ini menghibur , dukung trus channel ini agar trus berkembang dan menyajikan kisah kisah menarik,haru,sedih,bahagia,inspiratif,dan lainnya.
#kisahnyata
#kisahinspiratif
#ceritainspirasikehidupan
#ceritainspirasi
#harimau
#harimaubenggala
#harimaujawa
#harimaumalaya
#harimauputih
#harimausumatera
#harimauselatan
#harimauutara
#ceritainspirasi
Информация по комментариям в разработке