Logo video2dn
  • Сохранить видео с ютуба
  • Категории
    • Музыка
    • Кино и Анимация
    • Автомобили
    • Животные
    • Спорт
    • Путешествия
    • Игры
    • Люди и Блоги
    • Юмор
    • Развлечения
    • Новости и Политика
    • Howto и Стиль
    • Diy своими руками
    • Образование
    • Наука и Технологии
    • Некоммерческие Организации
  • О сайте

Скачать или смотреть Polisi Bilang "Enggak Bisa" saat Ojol Lapor Dianiaya Paspamres: Diproses setelah Viral

  • Tribun Pekanbaru Official
  • 2026-02-09
  • 53457
Polisi Bilang "Enggak Bisa" saat Ojol Lapor Dianiaya Paspamres: Diproses setelah Viral
  • ok logo

Скачать Polisi Bilang "Enggak Bisa" saat Ojol Lapor Dianiaya Paspamres: Diproses setelah Viral бесплатно в качестве 4к (2к / 1080p)

У нас вы можете скачать бесплатно Polisi Bilang "Enggak Bisa" saat Ojol Lapor Dianiaya Paspamres: Diproses setelah Viral или посмотреть видео с ютуба в максимальном доступном качестве.

Для скачивания выберите вариант из формы ниже:

  • Информация по загрузке:

Cкачать музыку Polisi Bilang "Enggak Bisa" saat Ojol Lapor Dianiaya Paspamres: Diproses setelah Viral бесплатно в формате MP3:

Если иконки загрузки не отобразились, ПОЖАЛУЙСТА, НАЖМИТЕ ЗДЕСЬ или обновите страницу
Если у вас возникли трудности с загрузкой, пожалуйста, свяжитесь с нами по контактам, указанным в нижней части страницы.
Спасибо за использование сервиса video2dn.com

Описание к видео Polisi Bilang "Enggak Bisa" saat Ojol Lapor Dianiaya Paspamres: Diproses setelah Viral

#rino

Video Editor : Rino Syahril

Kasus dugaan penganiayaan terhadap pengemudi ojek online (ojol) di Jakarta Barat menyisakan tanda tanya besar.

Bukan hanya soal kekerasan yang diduga dilakukan anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), tetapi juga sikap aparat kepolisian yang disebut enggan memproses laporan korban.

Hasan, pengemudi ojol, mengaku menjadi korban penganiayaan brutal oleh seorang pria yang diduga anggota Paspampres di kawasan Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat, Rabu pekan lalu. 

Ironisnya, peristiwa berdarah itu berawal dari persoalan sepele yakni salah alamat penjemputan penumpang.

“Saya dari Jalan Mawar itu lagi on bid, dapat penumpang ibu-ibu sendirian, minta diantar ke Jalan Haji Lebar, rumah pelaku, tapi dia enggak tahu jalan,” kata Hasan saat dihubungi, Senin, 9 Februari 2026. 

Karena penumpang tidak mengetahui rute, Hasan mengikuti titik peta di aplikasi. Namun setibanya di lokasi, alamat tersebut dinyatakan salah. Upaya Hasan meminta petunjuk justru berujung kekacauan.

Penumpang kemudian mengirim fitur share location dari pelaku, tetapi tidak bisa dibuka. Hasan akhirnya mengikuti titik merah di peta menuju Jalan Kecapi, sekitar dua kilometer dari lokasi awal. Di sana pun rumah yang dimaksud tak kunjung ditemukan.

Hasan lalu meminta penumpangnya menghubungi pelaku. Telepon diserahkan agar ia bisa bertanya langsung. Namun, respons yang diterima justru penuh makian.

“Saya bilang, ‘Pak, saya di Jalan Kecapi nih, rumah Bapak ke mana lagi ya?’ Terus dia jawabannya malah kasar, marah-marah. ‘Ngapain kamu di Jalan Kecapi? Situ kan udah saya share-loc!’” kata Hasan.

Saat Hasan mencoba menjelaskan dengan tenang, emosi pelaku makin memuncak.

“Saya bilang, ‘Bapak ngapain marah-marah? Saya kan cuma nanya alamat’. Terus malah dia bilang, ‘Monyet kamu ya! Sini kamu kalau berani!’”

Meski sempat ragu, Hasan tetap mengantar penumpang hingga ke rumah pelaku karena rasa iba.

“Karena saya kasihan, ibu-ibu sendirian sudah malam juga, enggak tahu jalan lagi, ya sudah saya antar aja,” tuturnya.

Namun setibanya di lokasi, situasi justru berubah panas. Anak pelaku sudah menunggu dengan sikap menantang.

Cekcok berujung perkelahian. Anak pelaku menendang motor Hasan, memicu aksi saling pukul. Di tengah keributan itu, pelaku utama keluar rumah sambil membawa batang besi.

Akibatnya, Hasan mengalami luka serius. “Saya luka berdarah di dahi kiri, ngucur darahnya.”

Warga melerai dan membawa Hasan ke rumah RT setempat. Di sanalah identitas pelaku mulai terkuak.

“RT-nya bilang, katanya pelakunya itu anggota Paspampres,” jelas Hasan.

Hasan kemudian melakukan visum dan melapor ke Polsek Kembangan. Namun, harapannya untuk mendapatkan keadilan justru terganjal.

“Di situ kepolisian bilang, ‘Wah kalau Paspampres kita enggak bisa, harus ke Pomdam,’” kata Hasan menirukan ucapan polisi.

Merasa laporannya mandek, Hasan akhirnya meluapkan kekecewaannya melalui media sosial. Unggahannya viral dan memicu sorotan publik. Barulah setelah itu ia kembali dipanggil polisi untuk pemeriksaan lanjutan.

Kasus ini memantik pertanyaan publik: apakah hukum benar-benar berlaku sama bagi semua orang? Ataukah status dan seragam masih menjadi tameng kekuasaan?

Hasan berharap aparat bertindak adil dan profesional.

“Ya, semoga ditindaklanjuti lah. Jangan ada orang-orang yang punya jabatan begitu bisa seenaknya,” pungkasnya. 

Jangan lupa follow akun-akun sosial media TribunPekanbaru.com untuk mendapatkan beragam informasi terkini dan updatenya:

YouTube:    / @tribunpekanbaruofficial  
Facebook:   / tribunpekanbarufanspage   
Saluran WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaLZ...
TikTok:   / tribunpekanbaru  
Instagram:   / @tribunpekanbaru  

Комментарии

Информация по комментариям в разработке

Похожие видео

  • О нас
  • Контакты
  • Отказ от ответственности - Disclaimer
  • Условия использования сайта - TOS
  • Политика конфиденциальности

video2dn Copyright © 2023 - 2025

Контакты для правообладателей [email protected]