Banyak orang, bahkan ulama, yang tidak memahami esensi ilmu secara mendalam. Terkadang, muncul anggapan meremehkan sumber ilmu yang berasal dari teknologi modern, seperti Google, dengan menyebut "guru Google" atau "kiainya Google" secara merendahkan. Sikap semacam ini justru mencerminkan pelepasan puncak kewarasan manusia, yaitu akal. Tapi mereka lumrah memakai kalkulator dalam berjualan. Bukankah ini ada "slip" akal sedikit atau akal yang agak tergelincir pada diri kita? Nangkep, nggak? Artinya, Google, internet, kalkulator—hanyalah fasilitas.
Baik teknologi seperti Google maupun kewajiban agama seperti shalat, sama-sama menegaskan peran penting akal dalam kehidupan manusia, hanya saja diterapkan dalam konteks yang berbeda—yang satu sebagai alat bantu praktis, dan yang lainnya sebagai dasar dalam menjalankan tanggung jawab spiritual.
Shalat tidak diwajibkan lagi kalau kita gila atau sudah hilang akal. Artinya, Allah memang menyiapkan akal untuk kita agar bisa memilah mana yang benar dan mana yang salah.
Sekolah agama di tempat paling top, ulama paling top nomor satu, tidak ada yang bisa memprogramkan, menancapkan flashdisk ke otak kita, lalu kita langsung menyerap seluruh ilmunya. Karena ada konsep akal tadi.
Dalam konteks agama, tidak sedikit ulama besar yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal di lembaga-lembaga resmi, baik di zaman modern maupun masa lampau. Namun, mereka tetap mampu menjadi ulama yang bijak dan berilmu tinggi karena tekun dalam mencari ilmu secara mandiri. Contohnya adalah ulama terkenal di zaman modern ini, yaitu Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Beliau tidak pernah mengecap pendidikan formal di institusi keagamaan, tetapi dikenal sebagai seorang ahli hadits yang disegani di dunia Islam. Keilmuannya diakui karena ketekunan, kecermatan, dan dedikasinya dalam mengkaji hadits-hadits secara mendalam. Ini menunjukkan bahwa ilmu bukanlah monopoli institusi, melainkan hasil dari usaha, ketekunan, dan kemampuan mengolah informasi.
Ironisnya, sebagian ulama yang berlindung di balik otoritas institusi resmi, terkadang menunjukkan kelemahan dalam logika berpikir. Padahal, inti dari ilmu adalah bagaimana akal mengolah dan memahami informasi, bukan sekadar dari mana informasi tersebut diperoleh. Jika input ilmu sama tetapi menghasilkan output yang berbeda, jelas ada peran akal yang bekerja di sana.
Bukankah sering seseorang itu beralih dari ulama A ke ulama B karena menurut akalnya ini yang paling sesuai dengan dalil?
Menghadiri kajian bukanlah hal yang salah, bahkan ada keutamaan pahala bagi yang melakukannya. Namun, kajian semacam ini sering kali terbatas pada paparan satu arah tanpa ruang diskusi mendalam. Seseorang hanya mendengarkan, bertanya sebentar, lalu selesai tanpa adanya eksplorasi lebih lanjut. Sebaliknya, belajar dari berbagai referensi terbuka, baik dari arsip online, toko buku, maupun sumber digital lainnya, justru memperkaya wawasan karena memungkinkan eksplorasi lebih luas dan mendalam.
Banyak orang atau ulama lupa bercerita tentang kehebatan-kehebatan ulama zaman dulu. Mereka ke sana kemari, ke kota A, ke kota B, dan seterusnya mencari ilmu. Artinya, ada diskusi, ada perdebatan, ada penyangkalan, dan seterusnya. Artinya, bukan dari satu sumber seperti kita duduk pada jam tertentu, hanya 30 menit atau 1 jam di satu tempat, lalu kita merasa itulah pendidikan agama mentok sampai di situ? Apa metodologinya ulama terdahulu? Mereka dengar, catat, dengar, catat—tidak berdiskusi? Tidak berdebat santun? Debat ilmiah? Berarti Anda sungguh orang yang naif.
Justru pencapaian ulama dulu, yang misalnya memerlukan waktu bertahun-tahun, sekarang berkat mereka kita lebih mudah belajar karena teknologi yang sudah semakin modern.
Dalam dunia ilmiah di luar agama, penilaian terhadap karya seseorang didasarkan pada manfaat dan kesesuaiannya dengan dalil-dalil ilmiah, bukan latar belakang pendidikan formal. Hasil karyanya berbicara sendiri tanpa perlu ditanya di mana ia bersekolah. Hal ini menunjukkan bahwa logika dan akal tetap menjadi fondasi utama dalam menilai validitas sebuah pemikiran.
Saya pribadi, dalam dunia keilmuan, saya tidak pernah terbersit sedikitpun menanyakan seseorang itu sekolah di mana, dari mana, segala macam. Setiap saya berinteraksi dengan seseorang yang kebetulan berhubungan dengan keilmuan saya, saya langsung saja berdiskusi ataupun berdebat. Bahkan kadang-kadang saya lupa menanyakan namanya siapa, saking saya menghormati akal. Bahkan beberapa kali, saya berhubungan dengan seseorang tanpa tahu namanya, lalu terjadi komunikasi panjang sampai berbulan-bulan, dari YouTube ke WhatsApp. Pas pada waktu berjanji untuk bertemu offline, baru saya menanyakan namanya.
Sayangnya, ada kecenderungan sebagian orang untuk mengabaikan fakta-fakta ilmiah hanya karena tidak mengenal latar belakang pendidikan formal seorang ulama. Sikap ini secara tidak langsung membunuh peran akal yang seharusnya menjadi alat utama dalam memahami dan menilai kebenaran. Dalam Islam,
Информация по комментариям в разработке