GONG ROTE -- MEKO By Tony Lalay
Gong Rote atau Meko (bahasa Rote) merupakan alat musik Pentatonis seperti layaknya alat musik tradisional lainnya didunia seperti China, Jepang, Afrika dll. Meko menggunakan Tangga nada Pentatonis A dengan nada c,d,e,g,a,dan c^ (6 nada= do,re, mi, sol, la, do^).
Meko terdiri dari 9 (sembilan) anak gong dan sebuah tambur labu. Gong dan Tambur dimainkan oleh 6 (enam) orang yang terdiri dari :
1. Meko Inak/Mai terdiri dari tiga buah gong dengan nada e (mi), g (sol) dan a (la).
Ketiga gong mai ini dinamakan inak tenak, inak kelada dan inak su yang dimainkan
oleh satu orang.
2. Meko Nggasa (k), terdiri dari dua gong dengan nada c (do) dan d (re) yang dimainkan
oleh satu orang
3. Meko Leko, terdiri dari dua gong dengan nada e (mi) dan g (sol) yang dimainkan oleh
satu orang
4. Meko Anak, terdiri dari dua gong dengan nada c (do) dan a (la) yang dimainkan oleh
dua orang
5. Tambur Labu sebagai penentu/pemandu/pengisi (fill in) beat, dimainkan oleh satu
orang
Notasi atau Ragam pada Meko ada 20 Ragam sampai hari ini. Lima Ragam Pertama/asli yakni Ne'eseselu atau Mudipapa, Taibenu, Te'o Rendak (h), Kakamusu dan Bobouk. Setelah dikembangkan oleh para budayawan awal dan generasi budayawan maka terciptlah ragam baru seperti Batu Matia, Anamat, Li Ndao, Engga Lutu, Te'o Tonak, Meado, Ofalangga, Tia Tasi dll. Kelima ragam asli ini juga mempunyai tariannya masing-masing beserta syairnya. Baik ragam/tarian Tai Benu ini mempunyai pasangannya yakni Kaka Musu.Secara umum baik notasi dan tarian dipulau Rote (Kale Oen Lahena' Daen) mempunyai arti dan tujuan masing-masing, dimana awalnya semua notasi dan tarian itu bisa untuk kebutuhan apa saja dan tidak dikhususkan seperti kelahiran, pernikan, kematian, pembuatan rumah baru, penyambutan dll.
Kelima notasi/ragam asli Ne'e Seselu, Tai Benu, Te'o Rendah, Kakamusu dan Bobouk ini menggambarkan atau mencertakan :
1. Ne'e Seselu atau Mudipapa adalah musyawarah untuk mencapai mufakat seperti
filosofi dari Meko :
a. Meko Anak melambangkan rakyat/masyarakat
b. Meko Leko melambangkan tokoh masyarakat atau tokoh adat
c. Meko Ngasa melambangkan pemerintah bawahan
d. Meko Inak/Mai melambangkan pemerintah atas
e. Tambur melambangkan Raja (sebagai penentu)
2. Tai Benu mengambarkan sosial budaya (kearifan)
3. Te'o Rendak (h) (Te'o merendahkan hati/diri) adalah sapan dari seorang ibu untuk
saling menghormati dan menghargai kepada keluarga (mengajak, menyapa,
menghargai, merendahkan diri kepada sesama)
4. Kaka Musu berarti perang tanding (sportifitas), saling mempertahankan (perjuangan)
5. Bobouk adalah seruan atau panggilan (bobouk) untuk saling bertemu (berkumpul)
Keunikan cara bermain tambur pada Meko karena ada sinkopasi dan aksen yang saling mengisi dari bunyi gong ( rhythm dan melodi ) dimana hal ini sama seperti musik jazz dan blues. Keunikan yang lain ada pada bunyi salah satu anak Gong yang sedikit pecah (distorsi) dengan mata gong yg dibuat pecah, sound seperti juga menjadi ciri khas Jimmy Hendrix dengan merobek konus speaker monitor agar tercipta sound distorsi ( asal muasal terciptanya distorsi ).
Semoga Budaya pukul gong ini terpelihara dan terus dikembangkan menjadi suguhan entertain musik yang bisa dinikmati juga oleh penikmat musik.
Nara Sumber :
1. Elias Ledoh (Faeanak, Pulau Rote)
2. Daud Tungga (Faeanak, Pulau Rote)
3. Herman Ledoh (Busa Langga, Pulau Rote)
4. Bp. Hengky A. Lai (Taklale, Kab.Kupang)
Penari (Faeanak, Noas dan Ingguinak) :
1. Yuliana Tungga
2. Nip Ledo
3. Oliander Lambak (olis)
4. Welmince Elimanafe
Pemain Gong (Faeanak, Noas dan Ingguinak) :
1. Marthen Elimanafe (tambur pada Ne'e Seselu, Tai Benu dan Te'o Rendah/k)
2. Daud Tungga
3. Tobias Tungga
4. Gersang Tungga
5. Samuel Mbuik
6. Elias Elimanafe
7. Thomas Ledoh
8. Kobis Elimanafe (tambur pada Li Ndao, Kakamusu, Bobouk dan Foti Bebas)
.
Информация по комментариям в разработке