PUISI SUFI DI AMBANG PINTU-MU #BANI313
Di ambang pintu-Mu, Tuhanku,
kuketuk dengan tangan kosong,
membawa kehinaan diri,
dan seuntai harap yang tak pernah padam.
Di dalam dadaku,
ada padang tandus yang menunggu hujan,
ada sumur kering yang merindukan sumber,
ada hati yang letih berkelana
namun tak menemukan rumah,
kecuali pada-Mu.
Kuberbisik dalam hening:
“Tambahkanlah untukku, jangan Kau kurangi,
angkatlah derajatku, jangan Kau hinakan,
bukakanlah jalan, jangan Kau halangi,
pilihlah aku, jangan Kau tinggalkan,
ridai aku, dan jadikan aku ridha.”
Seketika aku tahu,
bahwa rizqi bukan sekadar harta,
melainkan kelapangan dada,
ketenangan malam,
dan jernihnya air mata
yang jatuh dalam sujud panjang.
Dan kehinaan bukan sekadar kekurangan,
melainkan hilangnya arah pulang
ketika Engkau tiada dalam hati.
Maka kubiarikan jiwaku berserah,
seperti debu yang pasrah pada arah angin,
seperti daun yang percaya pada ketentuan musim,
seperti ombak yang tak pernah melawan
takdir pantai.
Dan di saat semua pintu dunia tertutup,
pintu-Mu terbuka tanpa syarat.
Di sana aku belajar,
bahwa kehilangan adalah panggilan pulang,
bahwa kesempitan adalah isyarat,
bahwa kelapangan adalah ujian,
dan bahwa cinta-Mu
tak pernah diberi untuk meninggalkan,
melainkan untuk menemukan.
Maka izinkan aku menjadi hamba,
yang menerima sebelum memohon,
yang ridha sebelum dikaruniai,
yang bersyukur sebelum ditambah,
dan yang mencintai sebelum disapa.
Karena siapa saja yang Kau pilih,
tak akan pernah tersesat;
dan siapa saja yang Kau tinggalkan,
tak akan pernah menemukan arah.
Dan aku berseru dalam sujudku:
“Cukuplah Engkau bagiku, Tuhanku.
Tanpa-Mu, segala yang melimpah adalah kosong;
bersama-Mu, segala yang sedikit adalah luas.
Информация по комментариям в разработке