MALANGTIMES - Cita rasa kopi Dampit memang istimewa. Bahkan dua pengusaha kopi asal Belanda pun mengakui keistimewaan produk pertanian unggulan Kabupaten Malang itu.
"Baunya juga harum sekali," ujar Michel saat mencium kopi yang baru digiling barista Cafe Amadanom Dampit di stan milik Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang.
Michel pun memanggil rekannya, Paul, untuk ikut membaui bubuk robusta itu. "Paul, kesini. Coba cium, kuat sekali," ujarnya.
Michel dan Paul adalah dua di antara ratusan pengunjung Gelar Promosi Produk Perkebunan Jawa Timur yang diselenggarakan pemerintah provinsi di Hotel Harris. Pameran tersebut dilangsungkan dua hari, mulai hari ini (21/11/2017) hingga besok (22/11/2017).
Merasa penasaran, Michel pun ingin menjajal cita rasa kopi dampit segar itu. Dia pun meminta pada barista untuk membuat satu cangkir. "Satu espresso, yang pekat (strong)," ujar Michel.
Barista Ekowisata Kebun Kopi Cafe Amadanom Dampit Frangky Johan Iswara pun dengan cekatan mulai meracik. Sembari memanaskan air, dia menimbang bubuk kopi lalu menempatkannya di rok presso, alat khusus membuat espresso.
Dia pun membasuh cangkir keramik dengan air panas terlebih dahulu. Lalu menyiram kopi di alat itu dengan seksama. Setelah tersaring sempurna, satu cangkir espresso pun diserahkan pada Paul. Tak langsung diminum, Paul sempat menghirup aroma wangi dari uap yang mengepul dari dalam cangkir. "Wow, ini enak. Rasa asam dan sepintas rasa kacangnya pas," ujarnya.
Dia pun membagi satu cangkir itu dengan Michel. Saat ditawari untuk dibuatkan gelas tersendiri, Michel menolak. "Ini cukup, rasanya benar-benar kuat. Saya tidak mau begadang, minum sedikit rasanya sudah ditendang (kick me)," ujarnya.
Paul dan Michel merupakan dua pengusaha kopi asal Belanda. Perusahaan mereka, CoffeeClick.nl merupakan distributor yang memasok kopi ke perusahaan-perusahaan di Amsterdam dan sekitarnya. "Kami baru turun darai Bromo, diajak mampir ke pameran ini untuk melihat-lihat kopi. Saya baru tahu kopi Dampit ini, rasanya istimewa," terangnya.
Selain menjajal kopi, mereka juga sempat merasakan olahan ketela pohon (singkong) berupa tiwul dan gatot. "Enak, ini manis dengan (parutan) kelapa. Saya belum pernah makan ini sebelumnya," ujar Michel.
Kopi dan olahan singkong instan tersebut hanya sedikit dari berbagai produk pertanian unggulan yang dipamerkan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang. "Yang kami bawa banyak, selain kopi ada juga jeruk Dau. Mulai jenis jeruk baby, keprok siam, dan Batu 55," ujar Kabid Hortikultura DTPHP Kabupaten Malang Menil Wahyuningsih.
Pameran tersebut, menurut Menil merupakan salah satu cara mempromosikan kekayaan potensi Kabupaten Malang. Dia menguraikan, kopi yang dihasilkan di Desa Amadanom, Kecamatan Dampit tergolong istimewa. Sebab diproduksi dengan konsep kopi organik.
Bahkan, tahun ini produk kopi tersebut mengantongi sertifikat organik dari Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman. "Kami juga mempromosikan ekowisata kopi, agar wisatawan mau datang dan mengenal kopi lebih dekat," pungkasnya.
sumber: http://malangtimes.com
Информация по комментариям в разработке