Revitalisasi bahasa ibu bukan sekadar program, melainkan gerakan bersama untuk menjaga jati diri dan mewariskan kearifan lokal kepada generasi penerus. Rangkaian kegiatan diawali dengan audiensi kepada para pemangku kepentingan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota sebagai langkah strategis membangun komitmen bersama. Melalui dialog terbuka dengan pemerintah daerah, dinas pendidikan, tokoh adat, dan komunitas bahasa, disepakati pentingnya kolaborasi dalam pelindungan dan pengembangan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya Kalimantan Barat.
Tahap berikutnya adalah pelaksanaan diskusi kelompok terpumpun (DKT) yang berfokus pada penyusunan dan pengayaan bahan ajar. Para ahli bahasa, praktisi pendidikan, dan penutur jati duduk bersama merumuskan materi yang kontekstual, menarik, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Diskusi ini menghasilkan draf bahan ajar yang tidak hanya menekankan aspek kebahasaan, tetapi juga memuat nilai budaya, sastra lisan, serta kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat.
Penguatan kapasitas dilanjutkan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi Pengajar Utama di Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Mempawah, dan Kabupaten Sanggau. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi pedagogis dan metodologis para pengajar dalam mengimplementasikan bahan ajar revitalisasi bahasa ibu di sekolah maupun komunitas. Para peserta mendapatkan penguatan strategi pembelajaran aktif, teknik pengajaran berbasis budaya, serta praktik langsung penyusunan perangkat ajar.
Ilmu dan pengalaman yang diperoleh tidak berhenti di ruang pelatihan. Para Pengajar Utama melaksanakan pengimbasan kepada rekan sejawat serta tunas-tunas muda di sekolah dan komunitas. Kegiatan ini menjadi ruang berbagi praktik baik sekaligus memperluas dampak revitalisasi bahasa ibu secara berkelanjutan. Generasi muda diajak tidak hanya belajar bahasa daerah, tetapi juga menggunakannya dalam berbagai aktivitas kreatif, seperti membaca puisi daerah, bertutur cerita rakyat, dan menulis karya sederhana dalam bahasa ibu.
Untuk menjamin mutu pelaksanaan program, dilakukan monitoring dan evaluasi secara berkala. Tim pelaksana meninjau proses pembelajaran, efektivitas bahan ajar, serta respons peserta didik dan guru. Hasil monitoring menjadi dasar perbaikan dan penguatan program agar semakin adaptif terhadap kebutuhan lapangan. Pendekatan ini menegaskan bahwa revitalisasi bahasa ibu adalah proses dinamis yang memerlukan refleksi dan penyempurnaan berkelanjutan.
Sebagai bentuk optimalisasi, dilakukan pula penyusunan dan penyempurnaan silabus pengajaran bahasa daerah. Silabus dirancang lebih sistematis, terstruktur, dan terintegrasi dengan kurikulum yang berlaku sehingga pembelajaran bahasa daerah memiliki arah dan capaian yang jelas. Optimalisasi ini diharapkan mampu memperkuat posisi bahasa ibu dalam sistem pendidikan formal maupun nonformal.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan perayaan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat kota/kabupaten hingga provinsi. Festival ini menjadi panggung apresiasi bagi para peserta didik untuk menampilkan kemampuan terbaiknya dalam berbahasa dan bersastra daerah. Lebih dari sekadar ajang kompetisi, FTBI merupakan ruang selebrasi keberagaman, kebanggaan, dan semangat generasi muda dalam menjaga bahasa ibu tetap hidup di tengah arus globalisasi. Dengan demikian revitalisasi bahasa ibu pun menjadi gerakan bersama yang menyatukan komitmen, kompetensi, dan kecintaan terhadap warisan budaya bangsa.
#HariBahasaIbuInternasional #HBII2026
#RevitalisasiBahasaDaerah
Информация по комментариям в разработке