Benny Moerdani yang Menakutkan
Wartawan senior ini sampai baca doa sebelum bertemu Benny Moerdani. Wartawan senior yang dimaksud adalah Salim Said. Ia wartawan senior Tempo, bahkan tercatat sebagai salah satu pendiri majalah politik terkemuka di Indonesia tersebut. Di kemudian hari, Salim menjadi pengamat militer terkemuka di Indonesia dan menjadi Guru Besar di Universitas Pertahanan.
Ada pun Benny Moerdani, adalah mantan Panglima ABRI yang dijuluki Raja Intel Indonesia. Benny, ketika menjadi Panglima ABRI menjadi sosok yang ditakuti banyak orang. Apalagi dengan penampilannya yang dingin dan misterius.
Dalam bukunya, Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto, Salim Said bercerita, telah menjadi kebiasaannya memberikan transkrip rekaman wawancara kepada tokoh penting yang ia wawancara. Maksudnya untuk menghindari keliru catat, dan sekaligus memberi kesempatan kepada narasumber mengoreksi atau bahkan mengubah hasil wawancaranya.
"Hal yang sama saya lakukan juga kepada Benny Moerdani" kata Salim Said dalam bukunya.
Salim Said masih ingat beberapa hari setelah transkrip terkirim melalui CSIS, ia kebetulan berjumpa dengan mantan Pangab itu di Markas Besar Angkatan Darat (MBAD).
Pada hari itu, 10 Juni 1997, diselenggarakan upacara timbang terima KSAD dari Jenderal Hartono ke Jenderal Wiranto. Salim memberi salam kepada Benny. Jawab yang ia peroleh bukan salam, tapi pertanyaan bernada menuduh.
“Whom you are working for? Atau kau kerja untuk siapa? Khas pertanyaan seorang intel yang memang selalu hidup penuh curiga terhadap sekelilingnya," kata Salim.
Salim pun kaget, kenapa ia dicurigai kaki tangan orang lain. Salim pun segera menjawab.
“General, I am a scholar. I work for nobody.” Saya tidak tahu dari mana saya tiba-tiba mendapat keberanian menantang sang mantan Raja Intel dan mantan Panglima ABRI. Kata saya, saya ingin jumpa Pak Benny," kata Salim mengenang kembali pembicaraan singkatnya dengan Benny Moerdani.
Beberapa jam kemudian, tak lama setelah Salim tiba di rumah, telepon berbunyi. “Dari CSIS,” kata istrinya. Pesannya,“Pak Benny menunggu Pak Salim hari Rabu siang di Tanah
Abang.”
Hari itu Senin, jadi besok lusanya Salim akan jumpa Benny di CSIS.
Hari Rabu pun tiba. Dalam perjalanan ke CSIS pagi itu segala doa yang pernah diajarkan almarhum Ayahnya, yang harus
dibaca kalau ingin jumpa pembesar, Salim baca dengan khusyuk. Doa-doa itu, menurut ayahnya akanmelunakkan hati sang pembesar yang akan ditemui.
"Harus saya akui hari itu saya masuk ke gedung CSIS dengan rasa takut. Benny resminya memang tidak lagi berkuasa, tapi bagi saya, masih tetap saja menakutkan," kata Salim.
Dugaan Salim, mantan anak didik serta perwira-perwira binaan Benny di kalangan intel masih banyak di dalam ABRI.
Ketika pintu Salim ketuk, Benny membukakan sendiri pintu bekas kantor Ali Murtopo, tempat wawancara berlangsung. Bisa diduga, dengan wajah datar, tanpa emosi, dan pasti tanpa senyum, Benny menyambutnya.
Melihat langsung ke matanya, kalimat pertama Salim setelah duduk: “Pak Benny, saya itu takut pada Anda.”
Moerdani menjawab dengan dingin. “Kalau saya tidak percaya pada you, tidak akan you sampai di tempat ini.”
"Ketakutan sayamendadak sirna. Doa saya dikabulkan Allah. Alhamdulillah," tulis Salim dalam bukunya.
Dalam suasana yang lebih santai, pertanyaan Salim makin berani. “Ada apa sebenarnya yang terjadi antara Anda dan Pak Harto, kok bisa sampai Anda dimusuhi?”
Menurut Salim, tidak jelas jawaban Benny. Mungkin dia memang tidak suka menjawab pertanyaan tersebut. “Pak Benny tidak ingin membicarakan soal itu,” kata seorang mantan anak buahnya. Mungkin juga tidak ingin orang tahu dia ada persoalan dengan mantan bosnya.
Harry Tjan, yang sejak beberapa menit lalu bergabung ke majelis wawancara tersebut, diam sembari terus memperhatikan wajah Benny. Menanti agak lama, Salim memberanikan diri menjawab sendiri pertanyaan saya: “Di mata Soeharto Anda sudah sangat kuat, dan itu menakutkan sang Presiden.”
Информация по комментариям в разработке