Nasib Sial Mayjen Rukman, Jenderal Kostrad yang Sempat Diusulkan Soepardjo Gantikan Ahmad Yani
Ini sekelumit cerita tentang nasib sial Mayjen Rukman, Jenderal Kostrad yang sempat diusulkan Soepardjo gantikan Ahmad Yani. Mengutip buku," Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia," yang diterbitkan Sekretariat Negara Republik Indonesia, sekitar pukul 13.00 Presiden Soekarno di Halim memimpin rapat membahas pengganti Jenderal Ahmad Yani. Yang hadir dalam rapat antara lain, Waperdam Leimena, Laksdya Laut R.E Martadinata, Laksdya Udara Omar Dhani, Irjen Pol Soetjipto Joedodihardjo, Brigjen Suthardio, Brigjen Soenarjo, Brigjen Sabur dan Brigjen Soepardjo.
Dalam rapat tersebut diusulkan beberapa nama jenderal calon pengganti Ahmad Yani. Nama para jenderal yang diusulkan adalah Mayjen Mursjid, Mayjen Pranoto Reksosamodro, Mayjen Basuki Rachmat, Mayjen Soeharto, dan Mayjen Rukman. Menurut buku," Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia," terbitan Sekretariat Negara Republik Indonesia, Mayjen Pranoto dan Mayjen U Rukman adalah calon-calon yang diajukan oleh Brigjen Soepardjo.
Dua nama jenderal ini, adalah nama yang juga dipilih pimpinan Gerakan 30 September jadi pengganti Ahmad Yani. Akhirnya Bung Karno memutuskan menunjuk Mayjen Pranoto sebagai caretaker Menpangad untuk menjalankan tugas rutin sehari-hari.
Siapa Mayjen Rukman, jenderal Kostrad yang sempat diusulkan Soepardjo gantikan Ahmad Yani? Mayjen Rukman atau yang bernama lengkap Umar Rukman lahir di Majalengka Jawa Barat pada 2 Juli 1923.
Ia mulai mengenal dunia kemiliteran saat ikut pendidikan di Seinen Dojo atau Pusat Latihan Pemuda di Tangerang pada tahun 1943.
Setelah kemerdekaan, Rukman bergabung dengan TNI. Ia pernah jadi Komandan Batalyon I, Brigade XIII KRU "Z", Divisi Siliwangi. Pada bulan Agustus 1948 atau sebelum peristiwa Madiun, pasukan yang dipimpin Rukman kembali dari Solo ke Jawa Barat.
Rukman juga pernah jadi Komandan Brigade Infanteri 13/Galuh yang dijabatnya dari mulai tanggal 11 September 1949 sampai dengan 12 Maret 1951. Setelah itu diangkat jadi Komandan Komando Garnizun Kota Bandung.
Kemudian, Rukman ditarik ke Kostrad untuk menjadi Panglima Divisi II Cadangan Umum Angkatan Darat pada tahun 6 Februari 1963. Rukman juga pernah ditunjuk jadi Komandan Kontingen Indonesia Irian Barat.
Pada bulan April 1963, Rukman dipercaya jadi Panglima Komando Daerah Militer XVII/Cenderawasih. Setelah itu, pada tahun 1964, Rukman diangkat jadi Panglima Komando Daerah Pertahanan Indonesia Timur. Pada bulan Agustus 1965, pangkatnya naik jadi Mayor Jenderal.
Nasib sial mulai menimpa Rukman usai peristiwa G30S PKI. Rukman ditangkap untuk kemudian ditahan karena dianggap terlibat dalam peristiwa G30S PKI. Jenderal Soemitro yang juga kawan baik Mayjen Rukman dalam buku biografinya,"Dari Pangdam Mulawarman Sampai Pangkopkamtib," menceritakan alasan penangkapan Rukman. Menurut Soemitro, Rukman ditangkap karena ada bukti, berdasarkan laporan intelijen, dia pernah bertemu dan menggelar rapat dengan DN Aidit, Ketua PKI dan Sjam Kamaruzaman, Ketua Biro Khusus PKI sebelum peristiwa G30S PKI meletus.
"Saya memperoleh dan membawa bukti-bukti bahwa dia adalah PKI, bersama Sjam, tokoh PKI," kata Soemitro dalam buku biografinya.
Victor M Fic dalam bukunya,"Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi tentang Konspirasi," juga mencatat, pada bulan Agustus 1965, Rukman bersama beberapa perwira lainnya di Siliwangi, sempat menghadiri rapat bersama Aidit dan Sjam yang datang ke Bandung.
Информация по комментариям в разработке