Raja dengan Tangan Berd4rah,
Leopold II dan Neraka Bernama Kongo
Di buku sejarah Eropa, nama Raja Leopold II sering ditulis rapi: raja Belgia, pembangun kota, visioner abad ke-19. Tapi di tanah Afrika, khususnya Kongo, namanya dibisikkan dengan cara lain—sebagai simbol teror, mutilasi, dan kematian massal.
Antara 1885 hingga 1908, Leopold II menguasai wilayah luas di Afrika Tengah yang ia beri nama Negara Bebas Kongo. Ironisnya, kata “bebas” di sana hanyalah ilusi. Kongo bukan koloni Belgia, melainkan properti pribadi Leopold II.
Ia memperlakukan negeri itu layaknya perusahaan raksasa—dan manusia di dalamnya tak lebih dari alat produksi.
🔳 Kongo: Ladang Uang, Kuburan Manusia
Di bawah kekuasaan Leopold, Kongo diperas habis-habisan demi gading dan karet, komoditas mahal di Eropa saat Revolusi Industri. Demi memenuhi ambisi kekayaan, rakyat Kongo dipaksa bekerja dengan sistem kerja paksa yang kejam dan kuota mustahil.
Gagal memenuhi target?
Konsekuensinya bukan denda—melainkan nyawa.
🔳 Kekejaman Tanpa Batas
Leopold membentuk tentara bayaran bernama Force Publique, pasukan bersenjata yang menjalankan teror secara sistematis. Inilah beberapa metode kebiadaban yang terdokumentasi:
📌 Mutil4si Massal
Tangan dipotong. Bukan satu dua, tapi ribuan—bahkan an4k -4nak. Potongan tangan dijadikan “bukti” bahwa peluru tidak disia-siakan dan hukuman telah dijalankan.
📌 Pembvnuhan & Teror Desa
Cambukan brutal, pemerkosaan, pembakaran desa, hingga eksekusi massal menjadi pemandangan sehari-hari.
📌 Gen0sida Sunyi
Sejarawan memperkirakan 10–15 juta orang Kongo tewas—sekitar setengah populasi saat itu—akibat pembunuhan, kelaparan, penyakit, dan kerja paksa. Dunia menyebutnya salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang lama disembunyikan.
🔳 Leopold II: Raja yang Bersembunyi di Balik Topeng Filantropi
Yang bikin merinding, Leopold II tak pernah menginjakkan kaki di Kongo. Ia mengelola neraka itu dari jauh, sambil di Eropa tampil sebagai raja dermawan, pendukung misi kemanusiaan, dan pembangun Brussel. Uang dari Kongo ia pakai untuk membangun istana, monumen megah, dan proyek prestisius—sementara darah Afrika mengalir diam-diam di baliknya.
Ia juga lihai memainkan propaganda, menyebut penjajahannya sebagai “misi peradaban” dan “pemberantasan perbudakan”, padahal yang ia bangun justru perbudakan versi modern.
🔳 Dunia Akhirnya Terbangun
Kebusukan ini akhirnya terbongkar berkat jurnalis dan aktivis seperti E.D. Morel dan Roger Casement. Laporan, foto, dan kesaksian menggegerkan Eropa dan Amerika. Tekanan internasional memuncak, dan pada 1908, pemerintah Belgia terpaksa mengambil alih Kongo, mengakhiri kekuasaan pribadi Leopold II.
🔳 Warisan Berdar4h yang Tak Pernah Selesai
Hingga hari ini, nama Leopold II masih memicu kemarahan. Patung-patungnya dicoret, dirubuhkan, atau diturunkan. Raja Belgia modern bahkan telah menyampaikan penyesalan resmi, meski luka sejarah itu belum benar-benar sembuh.
Kisah Leopold II adalah pengingat pahit:
kekejaman bisa tampil rapi, berdasi, dan disebut “raja”.
Dan sejarah, betapapun lama disembunyikan, selalu menemukan cara untuk bersuara.
#RajaBerdarah #LeopoldII #KongoBukanBebas #SejarahKelam #Kolonialisme #GenosidaAfrika #SejarahDunia #LukaKolonial
Информация по комментариям в разработке