Jembatan Pandansimo yang menjadi penyambung terakhir Jalur Jalan Lintas Selatan atau JJLS, telah memiliki progres 83%. Kemajuan pembangunan jembatan dengan total panjang 1,9 km ini sangat pesat, dan akan rampung pada Maret 2025 mendatang.
Dihubungi melalui telepon, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.4 Satker PJN DIY Setiawan Wibowo mengatakan, proyek ini didanai oleh APBN dengan nilai kontrak sebesar Rp 814 miliar. Jembatan dengan total panjang 1.9 km ini terdiri dari jalan pendekat, slab on pile, dan jembatan utama dengan tipe multiarch bridge yang menggunakan CSP (corrugated steel plate) dan mortar busa.
Proyek ini dikerjakan secara simultan di empat segmen, dengan segmen awal hingga STA 0+615 berupa timbunan tanah dan MSE Wall, STA 0+615 hingga 0+800 dan STA 1+475 hingga 1+900 berupa pekerjaan slab on pile, serta STA 1+475 hingga STA 1+900 berupa bentang utama jembatan sepanjang 675 m. Secara fisik, struktur konstruksi sudah sampai Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur. Beberapa pekerjaan konstruksi yang telah dilakukan antara lain yaitu pekerjaan fondasi, dinding CSP dan mortar busa, concrete barrier, dan pemasangan railing pedestrian. Selain itu, pekerjaan pengaspalan pada jalan pendekat juga sudah hampir selesai. Pada Januari 2025 nanti, diharapkan struktur jembatan telah selesai tersambung dan membentang di atas Sungai Progo.
“Untuk targetnya, tersambung dan bisa transfer itu di Bulan Januari, tapi memang cuaca dengan curah hujan yang sangat luar biasa sedang terjadi pada Bulan November ini. Saat ini sedang kami kejar terutama pada bentang utama. Namun pada area tengah sungai mengalami sedikit keterlambatan karena akses untuk masuk ke tengah sungai memang terendam air akibat dari curah hujan tinggi, dan Sungai Progo yang banjir dengan debit air tinggi,” jelas Setiawan pada Selasa (12/11).
Setiawan menjelaskan, jembatan sebetulnya ditargetkan tersambung pada akhir Bulan November, namun terhambat kendala berupa curah hujan sangat tinggi sehingga area pekerjaan di tengah sungai terendam sudah lebih dari seminggu. Hal inilah yang menyebabkan pekerja tidak dapat mengakses ke area tengah sungai karena debit air Sungai Progo yang sangat tinggi.
“Semoga kondisi banjir ini tidak berlangsung lama sehingga nanti bisa langsung kami kejar lagi progresnya, terutama konstruksi bentang utama yang berada di tengah sungai,” kata Setiawan.
Guna mengatasi masalah banjir yang kerap menggenangi area sekitar proyek, diterapkan sejumlah strategi baru. Salah satunya adalah dengan meninggikan tanggul dan memberikan ruang bagi aliran air di sekitar jalur konstruksi. Selama periode banjir, pekerjaan juga diarahkan untuk melalui jalur alternatif sehingga memungkinkan kegiatan konstruksi tetap berjalan meskipun area utama terendam. Proses ini akan dilakukan secara bertahap, dengan menyesuaikan tinggi tanggul pada bagian-bagian tertentu
Jembatan Pandansimo didesain dengan mempertimbangkan mitigasi bencana karena berada di daerah yang rawan gempa dan letaknya berjarak sekitar 10 KM dari Sesar Opak. Teknologi mitigasi bencana yang diterapkan dalam desain jembatan diantaranya yaitu mortar busa dan LRB (Lead Rubber Bearing) yang berguna untuk menyerap dan mereduksi energi gempa sehingga mampu melindungi struktur utama jembatan. Selain itu, terdapat penambahan konstruksi fondasi jembatan sebanyak 200 fondasi untuk meningkatkan keamanan jembatan dari ancaman bencana likuifaksi. Tambahan pekerjaan fondasi tersebut dilakukan setelah dilakukan kajian ulang terkait potensi bencana yang dapat terjadi di lokasi pembangunan Jembatan Pandansimo.
Lebar jembatan direncanakan sekitar 24 m yang dibagi menjadi 4 lajur kendaraan dengan separator yang akan dihiasi dengan tanaman. Selain mengutamakan keamanan, Jembatan Pandansimo juga mengakomodasi kebutuhan pejalan kaki berupa jalur pedestrian di sepanjang sisi kanan dan kiri jembatan, serta tersedia anjungan khusus bagi pejalan kaki untuk menikmati keindahan Sungai Progo. Kehadiran fasilitas ini menunjukkan perhatian lebih terhadap pejalan kaki, menjadikan jembatan ini bukan hanya sebagai sarana mobilitas, tetapi juga sebagai destinasi wisata.
Jembatan Pandansimo juga mengusung desain megah dengan ornamen budaya Jawa, sekaligus mengakomodir kenyamanan bagi pengguna jalan dan ruang terbuka pada pedestrian. "Desain jembatan ini dilengkapi dengan dua lajur pedestrian, tiga plaza di tengah jembatan, serta paving block khusus bagi penyandang disabilitas. Harapannya, desain jembatan ini bisa memberikan ruang terbuka bagi masyarakat untuk bersosialisasi," ujar Setiawan.
Jembatan Pandansimo ini merupakan salah satu penyambung rangkaian dari Jalur Jalan Lintas Selatan Pulau Jawa. Kepingan terakhir JJLS ini akan menjadi penguat konektivitas yang menghubungkan DIY hingga Jawa Tengah.
“Semoga jembatan ini bisa meningkatkan perekonomian, terutama di sisi selatan DIY dan bisa lebih meningkatkan potensi-potensi pariwisata pantai di selatan Jogja,” tutup Setiawan. (uk/han/rd/stt/yci)
Humas Pemda DIY
Информация по комментариям в разработке