TRIBUN-VIDEO.COM, SOLO - Keraton Kasunanan Surakarta adalah salah satu cagar budaya yang ada di Kota Solo.
Berpindah dari Kartasura ke Desa Solo pada masa pemerintahan Susuhunan Pakubuwono (PB) II yang kemudian pembangunan istana kerajaannya diteruskan putranya, PB III.
Perpindahan dari Kartasura ke Solo ini pun tak sembarang.
Raja dan para sesepuh saat itu perlu melakukan "semedi" memohon petunjuk dari penguasa laut Selatan, Nyi Roro Kidul.
Harapannya, istana kerajaan yang akan dibangun nanti memiliki daya magis dan leluhur Mataram terdahulu turut menjaga Keraton dan masyarakat di Negari Surakarta.
Diyakni, para leluhur Mataram sampai saat ini terus menjaga tiap jengkal tanah yang ada di keraton Kasunanan Surakarta.
"Setiap jengkal tanah yang ada di keraton Kasunanan Surakarta ada semacam penunggu gaibnya," kata Sentono dalem atau keluarga kerjaan, Bendara Raden Mas Nugroho Iman Notopuro.
Cucu PB XI itu menyebut upaya yang dilakukan para leluhurnya itupun membuahkan hasil.
Istana keraton yang dibangun sejak akhir tahun 1700 hingga 1800an itu sampai saat ini masih lestari.
Dan semua memiliki daya magis yang masih sangat kuat.
Karena memang sampai saat ini, selain di jaga oleh abdi dalem atau petugas kemanan, para leluhur Mataram juga turut menjaga Keraton Surakarta.
"Jadi memang keraton mempunyai daya magis seperti itu," jelasnya
Dia yang juga pelaku spiritual sangat bisa merasakan raya magis keraton Kasunanan Surakarta ini.
Bahkan di era modern seperti sekarang ini, masih kental dengan aura-aura gaib.
"Ya itu sebetulnya memang menurut rasa spritual dan masih kental sekali. Terutama kalau menginjak kaki di keraton. Mulai dari pintu Kamandungan hingga ke dalam Keraton," ujar dia.
Dia yang sejak kecil berkecimpung dalam dunia spiritual cukup merasakan aura yang besar itu.
"Saat menginjak pasir sangat merasakan aura spiritual yang tinggi," jelasnya.
Dia menyebut pencuri yang tak bisa keluar itu masih beruntung.
Sebab, Keraton Kasunanan Surakarta ini punya daya magis yang kuat terhadap sesuatu yang tidak dikehendaki.
Daya magis yang dimiliki Keraton mampu membawa dampak buruk bagi siapapun yang berniat buruk bagi keraton.
Mulai dibuat linglung hingga bisa tertimpa hal buruk bagi pelakunya.
"Keraton Kasunanan punya hajat yang besar kalau membuat sesuatu yang tidak dikehendaki oleh alam leluhur Mataram," kata dia.
Dia mengaku, kekuatan magis yang ada di keraton ini tak lepas dari para sentana atau abdi dalem yang masih terus melakukan ladosan.
Ladosan merupakan pemberian ubo rampe seperti bunga mawar, kemenyan, telur dan lain sebagainya disetiap bangunan-bangunan keraton.
Memang, saat memasak Kori Kamandungan, sudah terasa aura gaibnya.
Di beberapa sudut lantai bawah juga terlihat adanya mangkuk dari tanah yang berdiri bunga.
Selain itu ada juga sisa dupa yang telah habis dibakar.
Hal ini dirasakan juga oleh pengunjung Keraton.
"Tadi begitu masuk ke kompleks ini (Kedhaton) suasananya berbeda. Lebih adem ayem (tenang)," kata Ida salah satu pengunjung.
Anto salah satu abdi dalem Keraton Kasunanan mengatakan, keraton Kasunanan Surakarta ini memiliki beberapa kompleks.
Dia menyebut secara rinci kompeks bangunan dari Utara yang dimulai dari kompleks Alun-alun Lor.
Dari jalan raya Slamet Riyadi terdapat Gapura Gladag, Pamurakan, Alun-Alun Lor.
Di sebelah timur laut alun-alun Lor itu terdapat Gapura Bathangan lalu dan sebelah barat ada Masjid Agung Surakarta.
Kemudian ada Bale Pewatangan, Bale Pekapalan, di sebelah selatan alun-alun dan Gapura Klewer di barat daya.
Ada Kompleks Pagelaran Sasana Sumewa, Kompleks Siti Hinggil Utara, Kompleks Kamandungan Utara.
Pada kompleks ini terdapat gerbang masuk bernama Kori Brajanala atau Kori Gapit dan Bangsal Wisamarta.
Sementara itu, di Kompleks Sri Manganti Utara, ada halaman Sri Manganti.
Di sana terdapat dua bangunan utama yaitu Bangsal Marakata di sebelah barat dan Bangsal Marcukundha di sebelah timur.
Di sisi barat daya Bangsal Marcukundha terdapat sebuah bangunan segi delapan yang disebut Menara Sanggabuwana.
Bangunan ini yang paling ikonik di keraton.
Dibangun pada masa PB III pada tahun 1782.
Menara ini menjadi tempat bertemunya raja dengan Ratu Laut Selatan.
Di panggung Sanggabuwana ini Raja kerap melakukan meditasi.
Fungsi utama menara setinggi 30 meter ini adalah tempat untuk memata-matai Belanda pada masa penjajahan.
Sementara itu, di Kompleks Kedhaton ada beberapa bangsal.
Kompleks Kamagangan dan Sri Manganti Selatan.
Kompleks Kamandungan Selatan, Kompleks Siti Hinggil Selatan, Alun-Alun Selatan. (*)
Artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul Cerita Tentang Daya Magis Keraton Solo, Cucu PB XI Ungkap Masih Ada: Dilindungi Penunggu Gaib, https://solo.tribunnews.com/2022/12/2....
Penulis: Tri Widodo | Editor: Ryantono Puji Santoso
Информация по комментариям в разработке