saya saat ini sedang dalam perjalanan menuju pura kerta buana giri wilis, yang terletak di dusun curik, desa bajulan, kecamatan loceret, kabupaten nganjuk, jawa timur. di depan sudah tampak, pintu gerbang masuk desa bajulan, berarti lokasi yang akan saya tuju sudah dekat.
akses jalan menuju dusun curik di kaki lereng gunung wilis ini, sudah lumayan bagus dan beraspal.
bila ditempuh dari pusat kota nganjuk, jaraknya sekitar 25 kilometer arah selatan. dengan berkendaraan sepeda motor, dengan kecepatan 40 kilometer per jam, seperti saat saya berkendara ini, hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke lokasi pura. tidak jauh kan?
selama perjalanan, saya juga dimanjakan dengan pemandangan panorama alam lereng wilis yang mempesona. di kanan kiri banyak ditumbuhi pepohonan hiterogen, seperti pohon jati, pinus, trembesi, sengon dan lain-lain. di bawah tegakkan, saya juga melihat banyak bebatuan besar, jumlah sangat banyak. mulai pertama masuk desa bajulan tadi, sudah terlihat pemandangan bebatuan tersebut di sepanjang kanan-kiri jalan.
sebentar yaaa.., saya berhenti dulu, untuk mengabadikan bebatuan besar itu.
di sela-sela bebatuan, juga terdapat aliran sungai, yang airnya mengalir sangat jernih.
mari kita lanjutkan perjalanan menuju dusun curik!!
iyaaa, saya sekarang sudah memasuki dusun curik, sampai pada pertigaan. saya mengambil jalur lurus dan sedikit mulai menanjak. bila mengambil jalur yang ke kiri, adalah jalur menuju obyek wisata roro kuning dan petilasan panglima jenderal sudirman di bajulan.
jalur menuju dusun curik terus menanjak, namun tidak terasa. berjarak sekitar 200 meter dari pertigaan pertama tadi, saya bertemu pertigaan lagi. saya harus mengambil arah kiri. jangan sampai salah memilih jalur yang lurus, bisa-bisa sampai ke tengah hutan dan sulit untuk kembali.
kondisi perjalanan, benar-benar sepi, tidak banyak kendaraan yang lalu lalang. selama perjalanan, saya hanya beberapa kali berpasan dengan pengendara lain. mereka warga setempat yang sedang mencari rumput dari hutan.
tampaknya mereka sudah akrab dengan lingkungan tengah hutan heterogen tersebut.
iyaaa. sekarang saya sudah mulai mendekati kompleks pura, tinggal beberapa menit saja, sudah sampai.
entah apa yaaa, yang ada di dusun curik ini yang mayoritas penduduknya beragama hindu.
mari kita ikuti terus perjalanan penelusuran sejarah ini dan nanti saya tanyakan langsung kepada pemangku pura.
wah...wah....waaaaah.... saya sekarang benar-benar telah sampai di depan pura, yang berada di tepi jalan, menghadap ke selatan, arah puncak gunung wilis. ternyata benar kata teman-teman saya, yang pernah datang lebih dulu ke tempat ini. benar-benar seperti datang ke pulau bali. panorama alamnya sungguh luar biasa. sejauh mata memandang, tampak hijau. udaranya sejuk, dan berhembus angin yang segar dan bersih.
itu...., di dalam kompleks tampak sudah ada beberapa orang yang sedang ngobrol. mungkin salah satu dari mereka adalah pemangkunya. mari kita dekati dan kita lihat apa yang ada di dalam kompleks pura.
wauuuw, semakin kedalam, ternyata lokasinya sungguh menakjubkan. benar-bener seperti berada di pulau dewata bali. arsitek bangunan pura, tidak kalah menarik dengan yang ada di bali.
tampak, pemangku sedang asyik ngobrol dengan tamu. saya biarkan saja mereka menikmati ngobrol bersama tamunya, yang tampaknya bukan orang dari nganjuk.
saya mencoba untuk melihat-lihat suasana dan lokasi di sekitar candi saja. coba kita dekati orang yang sedang sibuk bekerja itu. mereka sedang membangun apa itu, tampaknya juga bangunan yang menyerupai pura. tapi yang ini, bangunan lebih kecil. kita tanyakan langsung saja kepada salah satu orang yang tampak asyik membersihakan bagian bangunan yang setengah jadi itu.
wah beruntung sekali, ternyata dia adalah pemangkunya, yang bernama bapak damri. tidak salah lagi, orang yang ingin saya temui sejak dalam perjalanan tadi, ternyata sudah ada di depan mata.
Информация по комментариям в разработке