PAHALA SEBANDING DENGAN KHUSYUK
Ustadz Ammi Nur Baits حَفِظَهُ الله تعالى
🗓️ Rabu, 27 Agustus 2025
🏢 Masjid Al Marhamah, Candi Gebang, Yogyakarta
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Melanjutkan pembahasan Buku Tafsir Shalat, perihal pahala shalat sebanding dengan khusyuk, amalan shalat ini adalah amalan lahir & batin, oleh karena itu jika ada orang shalat lahir saja maka tidak ada unsur batin, pada posisi tidak khusyuk seperti ini pahalanya akan berkurang, sebagaimana kita membaca Al Quran dan berdzikir hanya di lisan saja tanpa perenungan maka pahalanya berbeda. Perlunya belajar khusyuk dalam shalat agar terhubung antara hati dengan fisiknya.
Dalam hadis dari Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda,
إنَّ الرَّجلَ لينصَرِفُ وما كُتِبَ لَهُ إلَّا عُشرُ صلاتِهِ تُسعُها ثُمنُها سُبعُها سُدسُها خُمسُها رُبعُها ثُلثُها نِصفُها
Seorang hamba yang shalat, dia tidak mendapatkan pahala dari shalatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau setengahnya. (HR. Ahmad 18894 dan dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth).
Abdul Wahid bin Yazid — rahimahullah — pernah mengatakan, Ulama sepakat bahwa seorang hamba tidak mendapatkan pahala dari shalatnya selain apa yang dia renungkan dari shalatnya. (Ihya’ Ulumiddin, 1/161).
Riwayat yang menegaskan hal ini adalah keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Pahala dari shalatmu hanya senilai apa yang kamu pikirkan dari shalatmu.” (Imam al-Albani menilai: shahih dari sebagian salaf - Silsilah al-Ahadits Dhaifah, 14/1026).
Khusyuk dan merenungkan isi shalat adalah isi shalat dan bagian inti dari shalat, karena itulah, orang yang tidak khusyu’ dalam shalatnya, maka tidak ada pahalanya. Ibnul Qayim mengatakan, Khusyu’, fokus memikirkan shalat adalah ruh shalat, tujuan shalat, dan inti dari shalat. Maka bagaimana mungkin shalat seseorang akan diperhitungkan, sementara ruh dan intinya tidak ada. (Madarijus Salikin 1/526).
Bahkan sebagian ulama menyebutkan, shalat yang tidak khusyu’ lebih dekat kepada hukuman dari pada pahala.
Al-Hasan al-Bashri mengarakan, Semua shalat yang tidak menghadirkan hati, lebih dekat kepada hukuman dari pada mendapat pahala. (Qutul Qulub, Abu Thalib al-Makki, 2/170).
Tidak sekedar memperbanyak shalat tapi asal-asalan namun seharusnya shalat yang benar dengan kualitas yang terbaik.
Manusia tidak akan melihat Allah kecuali ketika telah meninggal dunia, dalam Al Quran Allah menjelaskan tentang Nabi Musa yang ingin melihat Allah & diajak bicara langsung oleh Allah,
وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَن تَرَىٰنِى وَلَٰكِنِ ٱنظُرْ إِلَى ٱلْجَبَلِ فَإِنِ ٱسْتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوْفَ تَرَىٰنِى فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ
Artinya: Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".[Al-A’raf Ayat 143]
wallahu'alam
Youtube; • Pahala Sebanding Dengan Khusyuk | Ustadz A...
Facebook; / ustadzamminurbaits
#pahala #shalat #khusyuk #hadits
Информация по комментариям в разработке