AKHIR DARI KEUSILAN KAMA KANAKA - satria kekasih dewa 98
“Ayahmu menua, mungkin akibat luka yang didapatnya, kita berdua musti selamatkan ayahmu dari gerombolan bajak laut ini dan dari pak tua yang bawa joran pancing itu. Tadi aku menyerangnya, dia hanya tau loncat ke sana ke sini, huh!” ucap Ayu Wandira pada Jambu Nada yang menahan tawa. Mari kita dengarkan ..
Audio latar:
YouTube Audio
Drifting at 432 Hz
#sandiwararadio #satriakekasihdewa #mahkotamayangkara #tuturtinular #aryakamandanu #jambunada #sakawuni #ayuwandira #aryadwipangga #meishin #dewitanjungbiru #nagapuspa #sumpahpalapa #gajahmada #gajahenggon #adytiawarman #tribuanatunggadewi #majapahit #satriakekasihdewa #kerajaan
Setelah rasa nyeri di perut kanannya mereda, namun bekas kuku Mawar tetap menorehkan luka di mana kulit perut itu terkelupas. Ganas cewek ini.
Mau tak mau Jambu Nada menjelaskan tentang apa yang dia dengar menggunakan Ilmu Bisikkan Angin Selaksa Tombaknya.
Mawar yang mendengarkan penjelasan Jambu Nada bukannya tertawa, malahan menyuruh Jambu Nada ke dak depan kapal supaya kangmboknya tak di prank terus oleh Gagak Seta dan Kama Kanaka.
“Kakang, kasihan kangmbok Ayu Wandira, dia pasti lelah, letih, lesu dan kecapekan. Kakang temuin lah kangmbok Ayu Wandira, itu orang-orang tua rentah taunya bercanda, ini sudah kelewat batas kakang!” seru Mawar pada Jambu Nada yang kembali cekikikan mendengar pembicaraan antara Gagak Seta dan Kama Kanaka.
“Dengar tidak sih kakang?” tanya Mawar kesal di cuekin.
“Iyah, iyah, aku ke sana!” jawab Jambu Nada tapi tak beranjak dari tempatnya duduk bersila.
Melihat kelakuan Jambu Nada itu, Mawar mengancamnya, “Yah terserah kakang lah, aku mau ke bilik, mau ku buang cermin itu, tak ada gunanya lagi!”
Mendengar ancaman itu, Jambu Nada langsung berdiri dan pergi ke dak depan kapal.
Jambu Nada sempat berkata, “Tolong jaga ayahku ya.”
Tak lama Jambu Nada sudah di samping kiri Kama Kanaka, Ningram masih berdiri di samping kanan Kama Kanaka.
“Hiat,ciat,hiat,ciat.hiat,cciiaatt,”
Nampak Ayu Wandira menyerang Gagak Seta berkali-kali, namun semua serangan Ayu Wandira berhasil di elak Gagak Seta.
“Berhenti!” teriak Jambu Nada pada Ayu Wandira.
Otomatis Ayu Wandira menghentikan setengah serangannya pada Gagak Seta di mana Ayu Wandira meloncat ke atas bermaksud menyerang ubun-ubun kepala Gagak Seta. Begitu dia mendengar suara yang dia kenal sebagai suara dari Jambu Nada, dia langsung menotol punggung kaki kiri menggunakan ujung jari kaki kanannya lalu berputar balik dua kali kemudian dengan ringan menapakkan kedua telapak kakinya ke permukaan dak yang terbuat dari kayu ulin.
“Kangmbok!” sapa Jambu Nada mendekati Ayu Wandira.
“Oh, Jambu Nada, kamu tak napa-napa?” tanya Ayu Wandira lalu melayangkan pandangannya ke sekeliling di mana puluhan wanita anak didik Lokapala sudah menggurung dirinya dan yang bikin dia kesal, Gagak Seta sudah di samping kiri Kama Kanaka.
“Aku tak apa-apa Kangmbok!” jawab Jambu Nada senang bertemu kembali dengan Ayu Wandira.
“Ayahmu menua, mungkin akibat luka yang didapatnya, kita berdua musti selamatkan ayahmu dari gerombolan bajak laut ini dan dari pak tua yang bawa joran pancing itu. Tadi aku menyerangnya, dia hanya tau loncat ke sana ke sini, huh!” ucap Ayu Wandira pada Jambu Nada yang menahan tawa.
“Ayok Kangmbok kita selamatkan ayah!” teriak Jambu Nada.
Mereka berdua langsung meloncat dan melayangkan serangan pada Gagak Seta. Jelas Gagak Seta terkejut.
“Apa-apaan ini!” teriak Gagak Seta.
“Maaf Eyang Seta, aku hanya sedikit olah tubuh!” kata Jambu Nada menggunakan ilmu pengirim suara yang dia pelajarin dari Kama Kanaka.
“Tapi, tak seperti ini juga!” balas Gagak Seta pada Jambu Nada.
Информация по комментариям в разработке