Industri Malaysia Tidak profesional. Chew Kin Wah bandingkan Industry Film Indonesia yang lebih “proper” dibanding malaysia
—--
Chew Kin Wah ungkap Industry Malaysia tidak “proper” dibanding Indonesia
—--
Hallo Guys, Selamat datang di informasi. kali ini kita akan membahas Tentang Aktor Malaysia yang kini aktif di Indonesia, Chew Kin Wah, membagikan pengalamannya serta perbandingan antara industri film Malaysia dan Indonesia. Dalam wawancara yang diadakan oleh platform Malay Mail, Chew Kin Wah menyoroti sejumlah perbedaan mencolok terkait dengan kondisi produksi film di kedua negara. Salah satunya adalah mengenai peran kru dan sistem kerja di balik layar.
Menurut Chew, saat bekerja di Malaysia, ia merasa kesulitan untuk memberikan kritik terhadap kru apabila hasil produksi kurang maksimal. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah upah kru yang relatif rendah. Di Malaysia, kru yang terlibat dalam produksi film atau serial umumnya sangat terbatas, bahkan jumlah kendaraan yang digunakan untuk membawa kru hanya berkisar antara dua van saja. Hal ini tentu berbeda jauh dengan kondisi di Indonesia, di mana kru yang terlibat dalam produksi bisa mencapai lebih dari 100 orang.
Selain itu, Chew juga menyoroti bagaimana di Indonesia, persiapan untuk sebuah produksi film lebih terorganisir. Sebelum produksi dimulai, setiap adegan, sudut kamera, dan jumlah pengambilan gambar telah dipersiapkan dengan matang. Semua detail tersebut tercatat dalam catatan produksi yang memudahkan pengarah fotografi dan kru lainnya dalam menjalankan tugas mereka. Dengan persiapan yang sedemikian matang, pengarah fotografi di Indonesia tidak perlu lagi teriak-teriak atau memberi instruksi yang mendasar, seperti yang sering kali terjadi di Malaysia.
Berbeda dengan Indonesia, Chew mengungkapkan bahwa industri film di Malaysia sering kali mengedepankan improvisasi dan kebanggaan terhadap proses yang dilakukan tanpa skrip yang jelas. Pada peluncuran sebuah serial di Malaysia, banyak orang yang mengklaim bangga bekerja tanpa skrip dan mengapresiasi kemampuan sutradara dalam mengatur situasi di lokasi syuting. Chew Kin Wah sangat menentang pandangan ini dan menyebutnya sebagai omong kosong. Ia menegaskan bahwa sebuah produksi film membutuhkan skrip yang matang untuk mengatur storyboard, pengambilan gambar, dan semua elemen teknis lainnya. Bagi Chew, tidak ada yang patut dibanggakan dari sebuah film yang dibuat tanpa persiapan yang matang.
Pernyataan Chew tentang pentingnya skrip ini juga mencerminkan keprihatinannya terhadap kualitas produksi film di Malaysia. Ia menyayangkan bahwa banyak orang yang terlibat dalam produksi film tanpa memiliki latar belakang yang memadai di industri perfilman. Sikap ini, menurut Chew, hanya menciptakan budaya "sekadar membuat film" tanpa memperhatikan kualitas yang seharusnya dijaga.
Chew Kin Wah juga menyinggung soal fragmentasi industri film di Malaysia, yang terbagi berdasarkan etnis yaitu Melayu, Cina, dan India. Ia merasa bahwa pembagian ini justru menghambat perkembangan industri film di negara tersebut. Sementara itu, di Indonesia, meskipun memiliki berbagai suku dan bahasa, industri filmnya terintegrasi dengan satu bahasa yang digunakan secara nasional, yaitu bahasa Indonesia. Hal ini menurut Chew mempermudah kolaborasi dan memperkuat identitas bersama dalam dunia perfilman.
Melalui wawancara ini, Chew Kin Wah berharap dapat memberikan pencerahan bagi para profesional film di Malaysia, agar mereka lebih menghargai pentingnya persiapan yang matang, skrip yang terstruktur, serta pemahaman yang lebih dalam tentang seni dan teknik pembuatan film. Ia juga mengajak untuk melihat industri film dengan pandangan yang lebih profesional, agar kualitas produksi dapat lebih ditingkatkan.
Dengan wawasan dan pengalaman yang dimilikinya, Chew Kin Wah berpendapat bahwa industri film Malaysia masih memiliki banyak ruang untuk berkembang, dan ia berharap agar para pembuat film di negara ini dapat belajar dari pengalaman-pengalaman yang sudah terbukti di Indonesia dan negara lainnya.
---
Music: Crunchy Leaves by Vlad Gluschenko is licensed under a Creative Commons License.
https://creativecommons.org/licenses/...
Support by RFM - NCM: https://bit.ly/2xGHypM
---
Информация по комментариям в разработке