ILMU TONGKAT SAKTI BADAI PURBA - satria kekasih dewa 153
Ketika akhirnya tiba di puncak, dia melihat muridnya sudah berada dipuncak pula, dan agaknya telah mengumpulkan ranting kering untuk kayu bakar. Akan tetapi muridnya itu sedang menggunakan sebatang ranting dan menggerak-gerakkan ranting itu seperti orang berkanuragan . Bukan gerakan kanuragan seperti yang dia ajarkan, melainkan gerakan kanuragan yang membuat pertapa tua itu terbelalak. Tentu saja dia mengenal gerakan itu, karena itu adalah satu di antara ilmu kanuragan nya sendiri yang dia andalkan ilmu Tongkat Sakti Badai Purba! Mari kita dengarkan ..
Audio latar:
YouTube Audio Free
#sandiwararadio #satriakekasihdewa #mahkotamayangkara #tuturtinular #aryakamandanu #jambunada #sakawuni #ayuwandira #aryadwipangga #meishin #dewitanjungbiru #nagapuspa #sumpahpalapa #gajahmada #gajahenggon #adytiawarman #tribuanatunggadewi #majapahit #satriadewa #kerajaan
Dengan penuh kasih sayang , Giri Seta mulai mengajarkan iImu kepada Rangga Mandaka yang baru berusia lima tahun.
Dia digembleng dengan dasar ilmu kanuragan tinggi, dilatih cara menghimpun tenaga dalam tanpa paksaan agar tidak menghambat pertumbuhan tubuhnya, juga dia disuruh
membaca banyak kitab kuno dan kebiasaan membaca ini dengan sendirinya memperdalam pengetahuannya tentang sastra. Dan seperti yang dapat nampak oleh pertapa tua itu pada pertemuan pertama, benar saja bahwa Rangga Mandaka memiliki bakat yang amat baik dalam ilmu kanuragan . Dia memiliki keluwesan gerakan, kelincahan dan mudah menangkap inti suatu gerakan. Biarpun Rangga Mandaka tinggal di kelenteng, namun Gemi tidak merasa kehilangan. Ia dapat bertemu dengan anak itu kapan saja ia kehendaki dan sering ia datang berkunjung, bahkan Rangga Mandaka selalu mendapat perkenan Guru nya setiap kali dia hendak turun bukit menengok ibunya.
Tiga warsa kemudian, pada suatu pagi, Giri Seta sudah keluar dari kelenteng dan berjalan-jalan ke puncak. Usianya sudah sembilan puluh tiga lebih, dan biarpun dia masih nampak segar, namun harus diakuinya bahwa usia telah menggerogoti kekuatan tubuhnya. SegaIa sesuatu di permukaan bumi ini akhirnya akan menyerah kalah terhadap waktu, pikirnya sambil tersenyum ketika dia melangkah mendaki puncak bukit. Akan tetapi dia tidak pernah mau menyerah terhadap waktu, karena dia mengenal waktu. Baginya yang ada hanyalah saat ini, sekarang, tidak mau dipengaruhi waktu lalu ataupun waktu mendatang. Waktu lalu hanya mendatangkan kenangan, waktu mendatang hanya menimbulkan bayangan. Waktu lalu sudah mati dan waktu mendatang hanya mimpi, Saat ini yang penting, saat ini yang menentukan. Ketika akhirnya tiba di puncak, dia
melihat muridnya sudah berada dipuncak pula, dan agaknya telah mengumpulkan ranting kering untuk kayu bakar. Akan tetapi muridnya itu sedang menggunakan sebatang ranting dan menggerak-gerakkan ranting itu seperti orang berkanuragan . Bukan gerakan kanuragan seperti yang dia ajarkan, melainkan gerakan kanuragan yang membuat pertapa tua itu terbelalak. Tentu saja dia mengenal gerakan itu, karena itu adalah satu di antara ilmu kanuragan nya sendiri yang dia andalkan ilmu Tongkat Sakti Badai Purba! ltulah gerakan yang dilakukan Rangga Mandaka , walaupun hanya sepotong-sepotong dan tidak sempurna! Bagaimana mungkin anak itu dapat melakukan gerakan itu? Padahal , dia ingat benar bahwa dia belum pernah mengajarkan ilmu tongkat itu, walaupun sedikit, dan dia tidak percaya di daerah itu ada yang mampu memainkan ilmu kanuragan tongkat
itu. Ketika Rangga Mandaka kebetulan membalikkan tubuhnya dan melihat gurunya, segera dia melepaskan ranting itu dan berlari menghampiri kakek itu.
"Guru! Sepagi ini Guru sudah mendaki ke puncak?", sapa Rangga Mandaka santui.
Giri Seta menghapus peluh dari dahinya dengan ujung lengan bajunya yang lebar, tersenyum.
Информация по комментариям в разработке