Legenda alas roban, jalur yg terkenal angker.
Banyak cerita cerita tentang keangkeran alas Roban ini, salah satunya adalah kisah warung ghaib di kilometer 15.
Ada netizen yg membagikan pengalaman mistis jalur Alas Roban. Kisah yang dia bagikan itu dialami sekitar tahun 2001-2005 oleh sebuah keluarga yang tinggal di Secang.
Kala itu, satu keluarga ini berencana hendak mudik ke Jakarta melalui jalur Alas Roban. Mereka berangkat sore, supaya perjalanan lebih santai dan tak bertemu dengan lalu lintas yang ramai.
Mereka berangkat sekitar pukul 16.00 WIB. Keluarga itu tak merasakan firasat apapun saat memulai perjalanan. Sekitar pukul 21.30 WIB, mereka mulai memasuki area Alas Roban.
Jalanan berliku mulai terasa. Begitu juga dengan suasana mencekam yang turut terasa, Si Bapak yang mengendalikan laju mobil pun mengurangi kecepatan mobil karena kondisi jalan yang semakin gelap, berkelok, dan penuh tanjakan.
Sisi kanan dan kiri jalan adalah jurang. Sebenarnya, rasa ganjil mulai hinggap sejak pertama masuk ke jalur ini. Mereka merasa tak berpapasan dengan kendaraan lain, artinya hanya ada mobil mereka yang sedang melintas di jalur tersebut. Padahal jalur tersebut adalah rute yang harusnya ramai kendaraan menuju Kota Tegal.
Tapi tiba-tiba di tengah perjalanan, mobil yang mereka tumpangi menabrak sesuatu. Si Bapak dan kakak turun untuk melihat kondisi, tak lupa membawa senter. Sedangkan si Ibu dan kedua adik tetap di dalam mobil.
Anehnya, tak ada apapun yang ditabrak. Bekas berupa lecet ataupun lumpur yang menempel pun tak terlihat di sepanjang bodi mobil. Pemeriksaan kondisi mobil itu pun dilakukan berulang kali. Tapi hasilnya masih sama.
Heran pasti, tapi perjalanan lantas dilanjutkan. Sekitar tengah malam, hujan mulai turun. Meski rintik-rintik tapi cukup mengganggu pandangan pengendara. Maka, si Bapak terus membunyikan klakson setiap akan memasuki tikungan tajam.
Tak lama, dari kejauhan terlihat ada cahaya neon. Merasa bersyukut, karena merasa sudah melihat pemukiman. Tapi rupanya itu hanya sebuah warung makan pecele lele kecil yang berada di sudut tikungan di bawah pohon.
Keluarga itu memutuskan singgah sebentar. Di pasak penanda jalan yang tak sengaja menyandung kaki si Kakak, tertera keterangan Kilometer 15.
"Kok jam segini masih buka, pak? Bapak jualannya sendirian?" si kakak iseng bertanya saat memesan makanan dan minuman panas.
"Iya mas, ini sudah mau tutup kok, eh masnya dateng, saya jualan sama istri saya. itu istri saya, mas," jawab si pedagang.
Keberadaan istri yang ditunjuk itu mengherankan si bapak dan kakak. Pasalnya, si istri itu berdiri di pintu, sedangkan saat mereka masuk tak ada yang menyadari keberadaan si istri. Tapi hal itu tak terlalu dipikirkan.
Setelah kenyang menyantap makanan yang rasanya cocok di lidah mereka, keluarga itu melanjutkan perjalanan lagi. Tapi saat masuk mobil, untuk kedua kalinya si kakak tersandung pasak penanda Kilometer 15.
Kondisi area Alas Roban masih hujan rintik-rintik tapi tak menghalangi mereka melanjutkan perjalanan. Kali ini lancar, karena tak lama mereka keluar dari jalur Alas Roban dan menuju Tegal
Tapi perjalanan yang 'lancar' itu terjawab saat keluarga tersebut kembali ke rumah mereka melalui jalur yang sama. Kali ini, mereka memilih berangkat dari Jakarta pagi hari.
Siang hari sekitar pukul 13.00 WIB mobil keluarga tersebut memasuki jalur Alas Roban. Rasa lezat warung pecel lele itu belum terlupakan, hingga mereka ingin singgah kembali. Tapi sayangya warung tersebut buka sore menjelang malam.
Si adik pun ingin buang air kecil. Karena jalur tersebut adalah hutan, maka si bapak menepikan mobil dan menyuruh adik buang air kecil mepet mobil.
Sembari menunggu adik menyelesaikan hajatnya, menikmati pemandangan Alas Roban adalah pilihan. Tak sengaja, kakak melihat pasak penanda kilometer 15. Iya, pasak itu adalah pasak yang sama yang saat perjalanan menuju Jakarta membautnya tersandung.
Sudah pasti kaget. Posisi pasak itu rupanya persis di tepi jurang. Mereka masih ingat posisi warung pecel lele yang mereka singgahi itu berada sekira tiga meter di belakang pasak.
Merasa aneh, kakak memanggil ibu dan bapak, lalu menunjukkan pasak dan lokasi warung. Setelah diamati, tikungan tempat mereka berhenti siang itu adalah tempat yang sama dengan malam mereka makan ayam goreng di warung pecel lele.
Begitu pula dengan pohon besar di tepi dalan, dan tentu pasak bertuliskan kilometer 15. Satu meter di belakang pasak itu adalah jurang yang sangat dalam.
Hal itu membuat mereka sadar bahwa saat malam itu, mereka makan di pinggir jalan tepat melayang di atas jurang. Tak ada hal yang bisa menjelaskan apa yang keluarga tersebut alami, selain pemikiran mereka bahwa warung pecel lele itu adalah warung gaib
Информация по комментариям в разработке