Lotim vs Loteng: Analisis Fiskal dan Kolaborasi Pariwisata NTB
1. Polemik Pengusiran Boatman (Pemandu Wisata) Pantai Ekas:
Insiden pengusiran pemandu wisata (boatman) asal Lombok Tengah di Pantai Ekas, Lombok Timur, telah memicu polemik yang meluas. Kejadian ini bukan sekadar sengketa wilayah, melainkan mengungkap perbedaan kinerja pembangunan dan fiskal antara Lombok Timur (Lotim) dan Lombok Tengah (Loteng), serta mendesak perlunya kolaborasi yang lebih erat untuk kemajuan pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB).
2. Perbandingan Kinerja Pembangunan dan Fiskal:
Secara fiskal, Lotim menunjukkan keunggulan yang signifikan. APBD Lotim mencapai 3,42 Triliun dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) 523,9 Miliar, jauh melampaui Loteng dengan APBD 2,78 Triliun dan PAD 438,8 Miliar. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lotim juga jauh lebih besar (29,29 Triliun vs 22,6 Triliun), didukung luas wilayah yang lebih signifikan (1.606 km² vs 1.169 km²). Namun, Rasio Kapasitas Fiskal Daerah (RKFD) Lotim (1,017) dan Loteng (0,886) masih rendah, mengindikasikan perlunya peningkatan pengelolaan pendapatan di kedua kabupaten. Meskipun Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita Loteng lebih tinggi (20,37 Juta vs 18,59 Juta), angka ini tidak sepenuhnya mencerminkan kesejahteraan karena mengabaikan distribusi pendapatan, akses layanan, dan faktor sosial lainnya. Kepadatan penduduk Loteng yang lebih tinggi (966 jiwa/km² vs 894 jiwa/km²) juga perlu dipertimbangkan. Penting untuk diingat bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kedua daerah relatif seimbang, dengan Lotim 71,48 dan Loteng 71,19.
3. Pariwisata sebagai Program Prioritas Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal:
Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, telah menetapkan pariwisata sebagai salah satu fokus utama pembangunan lima tahun mendatang, bersama ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan. Hal ini semakin menggarisbawahi pentingnya sinergi antara Lotim dan Loteng.
4. Kolaborasi Kedua Daerah dalam memajukan pariwisata, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mencapai kemandirian fiskal yang lebih tinggi:
Insiden Pantai Ekas seharusnya menjadi momentum untuk membangun kolaborasi yang lebih efektif antara Lotim dan Loteng. Kedua kabupaten perlu mengembangkan strategi pariwisata berkelanjutan, meningkatkan aksesibilitas, dan memastikan pembagian manfaat yang adil. Kolaborasi ini akan meningkatkan pendapatan daerah, mencapai kemandirian fiskal yang lebih tinggi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Dengan mengesampingkan ego sektoral dan mengedepankan kepentingan bersama, Lotim dan Loteng dapat menciptakan model pembangunan pariwisata yang sukses dan berkelanjutan di NTB. Keberadaan KEK Mandalika dan Bandara Internasional Lombok di Loteng, sebagai pintu gerbang utama pariwisata NTB, harus dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata dan berkelanjutan di seluruh NTB.
#PolemikPantaiEkas #Lotim #Loteng #LombokTimur #LombokTengah #PariwisataNTB #PembangunanNTB #EkonomiNTB #KolaborasiDaerah #KesejahteraanRakyat #IPMNTB #RKFD #APBD #PAD #PDRB #KEKMandalika #BandaraLombok #PariwisataBerkelanjutan #PembangunanBerkelanjutan #IndonesiaMaju #EkonomiIndonesia #NTBGemahRipah #DestinasiNTB #GubernurNTB #LaluMuhamadIqbal #MiqIQBAL #SemetonIQBAL #BupatiLombokTimur #AmrillahPraya
Информация по комментариям в разработке