• Panca Datu Dalam Pedagingan
Panca Datu Dalam Pedagingan
#PedagingaItuApaDanDigunakanKapan?
#MengapaAdaUnsurPancaDatuDalamSetiapBangunan
#SiapaYangMempeloporiPenggunaanPancaDatuDalamTradisiBali
Dalam tradisi Hindu di Bali dikenal istilah Panca Datu, suatu keyakinan yang dilambangkan dengan lima unsur logam, yaitu [1] emas [2] perak [3] kuningan [4] besi, dan [5] tembaga. Secara etimologi istilah Panca Datu berasal dari kata Panca artinya lima dan Datu sesungguhnya berasal dari kata Jatu dalam Bahasa Bali yang berarti unsur. Kepercayaan atau keyakinan ini dikaitkan dengan kisah serta tapak-tapak suci Maharsi Markandeya, salah satu tokoh yang telah berjasa dalam penyebaran agama Hindu di Bali yang disebut dengan jagad kertha bangsul (tertib sesuai dengan aslinya) untuk mengembangkan ajaran Kasewaan suatu ajaran Ida Bhagawan Agastya. Dalam perjalanan dan Upaya penyebaran agama Hindu di Bali Maharsi Markendya banyak mendapat tantangan dan cobaan. Banyak pengikut belaiu yang tewas karena sakit, jatuh dan sebagainya sehingga Maharsi Markendeya memutuskan untuk kembali ke Jawa. Setelah beberapa waktu tinggal di Jawa kemudian beliau mendapat wahyu: “jika mau datang lagi ke Bali untuk menanam Panca Datu”. Perintah ini beliau laksanakan sehingga kunjungan untuk kedua kalinya ke Bali disertai dengan menanam lima unsur logam mulai. Dalam penelitian Dr. Ketut Donder “Panca Datu Atom, Atma, dan Anisme” (2004: 79) disebutkan Panca Datu terdiri dari elemen sebagai berikut. [1] Emas atau Aurum-Au Dewanya Mahadewa, binatangnya Capung. [2] Perak atau Agentum-Ag dewanya Iswara, binatangnya belalang. [3] Tembaga atau Cupum-Cu, Dewanya Brahma dan binatangnya penyu. [4] Besia tau Ferrum-Fe, Dewanya Wisnu dan lambangnya perkakas swah, dapur, dan alat tenun. [5] Timah atau dalam istilah kimia dan fisikanya Statum yang sering ditulis dengan simbol Sn dan diwakili dengan bentuk jarum. Selain lima unsur di atas, pedagingan atau pepedeman juga masih dilengkapi dengan unsur-unsur: a] Potongan cendana, Mirah, Rempah-rempah, Biji-bijian, Beras, Ung Kepeng, Bubuk Wewangian, bisa dalam bentuk minyak, Minyak Kelapa, Benang, Kain, Tempat/Wadah Pedagingan “Rapetan”; b] Rempah-Rempahnya: Katik Cengkeh, Jebugarum, Merica, Ketumbar, Majekeling, Majekane, Majamuju, Sampar Wantu, Ganti, Lungid, Galuga, dll; c] Kacang-Kacangan di antaranya Kacang merah, Kacang Hijau, Kacang Komak, Jagung, Kacang Botor; d] Beras di antaranya Beras putih, Beras merah, Beras ketan, beras Injin; e] Mirah seperti halnya Windhu Sara (White Safir) permata yg ada titik putihnya di Tengah Ruby (Red Safir), Mirah Cepaka (Yellow Safir), Bangsing (Black Safir), Mirah Brumbun (Coloring Safir); f] Minyak yang berasal dari Kelapa Be Julit/ Nyuh Gadang/ Nyuh Mulung, Kelapa Sangket/ Kelapa Dingding Ai/ Kelapa Surya, Kelapa Giri/ Nyuh Bulan, dan Kelapa Sudamala; dan terakhir g] Canang Yasa, yaitu Canang Lenge Wangi, Canang Burat Wangi, Canang Pasucian, Canang Sari.
Bagaimana penjelasan selanjutnya, silahkan simak sesuluh Yudha Triguna melalui Yudha Triguna Channel pada Youtube, juga pada Dharma wacana agama Hindu.
Untuk mendapatkan video-video terbaru silahkan Subscribe
https://www.youtube.com/channel/UCB5R
Facebook: www.facebook.com/yudhatriguna
Instagram: / yudhatrigunachannel
Информация по комментариям в разработке