Irul duduk sendirian di bawah pohon jambu belakang rumahnya. Angin sore mengusap pelan wajahnya yang penuh luka memar. Di pipi kirinya, lebam membiru. Di bibirnya, ada sobekan kecil bekas pukulan. Tapi bukan rasa sakit itu yang membuat dadanya sesak. Yang lebih menyakitkan adalah hinaan, umpatan, dan caci maki dari orang-orang di desanya sendiri.
“Pemuda pengangguran! Malu-maluin desa aja!”
“Kamu itu cuma beban, Irul! Sudah miskin, nggak bisa kerja, malah bikin repot!”
Itulah kata-kata yang sudah biasa didengar Irul sejak ia berusia remaja. Bahkan sekarang, di usia 23 tahun, keadaan tidak berubah. Ia tetap dipandang rendah oleh hampir semua warga Desa Taruna Jaya. Meski begitu, Irul tidak pernah membalas. Ia hanya diam, menggenggam tangannya erat-erat, dan menahan air mata.
Irul tinggal berdua bersama ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Rumah mereka kecil, berdinding kayu tua yang sudah mulai lapuk. Atapnya bocor di beberapa bagian. Tiap kali hujan datang, Irul harus siap menadah air dengan ember dan baskom. Tapi rumah itulah satu-satunya tempat berteduh mereka.
Ayah Irul meninggal dunia saat Irul masih duduk di bangku SD. Sejak itu, ibunya menjadi tulang punggung keluarga. Ia berjualan jajanan keliling, hingga suatu hari jatuh sakit parah dan tak bisa lagi berjalan jauh. Irul pun mengambil alih semua tanggung jawab. Sayangnya, tidak banyak pekerjaan di desa itu. Irul hanya bisa bekerja serabutan — mencangkul kebun milik orang, membantu panen padi, atau memperbaiki kandang ayam. Upahnya kecil, kadang hanya diberi makan, kadang malah tidak dibayar sama sekali.
Hari ini, Irul baru saja pulang dari ladang milik Pak Rasim, seorang tetua desa yang sangat dihormati warga, tapi terkenal sombong dan suka merendahkan orang. Irul disuruh membersihkan gulma di pinggir sawah. Tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba Pak Rasim memarahinya.
“Kerja kamu lambat! Pemalas!” teriak Pak Rasim sambil melempar cangkul ke tanah.
Irul hanya menunduk. “Maaf, Pak. Saya sudah berusaha sekuat tenaga…”
“Banyak alasan! Dasar anak nggak tahu diri. Sudah dikasih kerjaan, malah ngeluh!”
Belum sempat Irul menjelaskan, Darto — anak Pak Rasim yang juga dikenal suka mem-bully — datang dan menendang ember berisi rumput di dekat kaki Irul.
“Pergi sana! Bikin kotor tempat orang aja!” bentaknya sambil mendorong tubuh Irul sampai jatuh.
Irul hanya mengusap luka di tangannya. Tak ada kata keluar dari mulutnya. Ia tahu, kalau ia melawan, semuanya akan makin buruk. Ia sudah terlalu sering menjadi sasaran kekerasan. Tapi yang paling menyakitkan adalah ketika warga lain melihat kejadian itu dan... tidak ada satu pun yang membela.
Semoga cerita ini menghibur , dukung trus channel ini agar trus berkembang dan menyajikan kisah kisah menarik,haru,sedih,bahagia,inspiratif,dan lainnya.
#kisahnyata
#kisahinspiratif
#ceritainspirasikehidupan
#ceritainspirasi
#harimau
#harimaubenggala
#harimaujawa
#harimaumalaya
#harimauputih
#harimausumatera
#harimauselatan
#harimauutara
#ceritainspirasi
Информация по комментариям в разработке