Desa dengan hamparan sawah hijau, sungai jernih, serta udara sejuk, kini menghadapi kehancuran akibat ulah manusia. Wayan Wiratma, seorang tokoh desa yang dihormati, tergoda oleh janji manis seorang investor yang berencana membangun pabrik di desa mereka. Dengan dalih membawa kemakmuran bagi warga, ia mengabaikan peringatan tentang dampak buruk terhadap lingkungan.
Awalnya, warga desa menyambut baik pembangunan pabrik, berharap kehidupan mereka akan menjadi lebih baik. Namun, harapan itu segera berubah menjadi mimpi buruk. Limbah beracun mencemari sungai yang menjadi sumber kehidupan mereka, menyebabkan ikan mati dan lahan pertanian menjadi tandus. Sawah yang dahulu subur kini penuh dengan sampah dan limbah, membuat para petani gagal panen. Udara yang sebelumnya bersih kini dipenuhi asap beracun, menyebabkan banyak warga jatuh sakit. Eksploitasi alam yang berlebihan, ditambah dengan ketidakpedulian warga dalam menjaga lingkungan, memperburuk keadaan. Pohon-pohon ditebang tanpa kendali, menyebabkan banjir dan tanah longsor yang menghancurkan rumah-rumah mereka.
Semara, putra Wayan Wiratma, menyaksikan kehancuran ini dengan hati yang pedih. Merasa bertanggung jawab akan apa yang terjadi pada desanya, Wayan akhirnya mengambil langkah drastis dengan menjual lontar warisan leluhur demi menutupi dampak dari kehancuran yang terjadi. Semara mencoba melarang ayahnya untuk menjual lontar warisan mereka, namun Wayan tetap teguh pada keputusannya, percaya bahwa ini adalah satu-satunya jalan untuk membenahi apa yang sudah terjadi pada desanya.
Sementara itu, Ratih, seorang gadis desa yang memiliki kecintaan mendalam terhadap alam, menolak tinggal diam. Ia bertanya kepada neneknya, Ni Tantri, tentang langkah awal yang harus diambil untuk menyelamatkan desa mereka. Ni Tantri, seorang tetua desa yang bijaksana, memberikan nasihat berharga, mengingatkan Ratih akan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Dengan cerita-cerita warisan leluhur, ia menekankan bahwa sejak awal penciptaan, manusia diberi keistimewaan dengan Tri Pramana—bayu, sabda, dan idep—yang harus digunakan dengan bijak untuk menjaga keharmonisan dengan lingkungan. Dengan kebijaksanaan dan kasih sayangnya, ia berhasil membangkitkan rasa tanggung jawab warga untuk memperbaiki kesalahan mereka.
Bersama warga yang mulai menyadari kesalahan mereka, Ratih memimpin gerakan pemulihan desa. Dengan bimbingan Jro Mangku, mereka memulai reboisasi, membersihkan sungai, dan menggelar upacara permohonan maaf kepada Sang Hyang Widhi. Mereka percaya bahwa hanya dengan kesadaran kolektif dan usaha nyata, mereka dapat mengembalikan keseimbangan alam.
Filosofi Sang Hyang Semara Ratih menjadi pijakan perjuangan mereka. Harmoni dan cinta kasih tidak hanya berlaku dalam hubungan antar manusia, tetapi juga antara manusia dan alam. Wayan Wiratma, yang akhirnya menyaksikan perubahan positif di desanya, tersadar akan kesalahannya. Dengan penuh penyesalan, ia memilih untuk menebus kesalahannya dengan bergabung dalam upaya pemulihan desa. Ia meminta maaf kepada warga dan berjanji untuk memperbaiki kesalahan yang telah diperbuatnya.
Secara perlahan, Desa Lestari mulai bangkit. Sungai kembali jernih, tanah menjadi subur, dan warga belajar untuk hidup berdampingan dengan alam tanpa merusaknya. Harmoni antara manusia dan alam kembali terjalin, seperti yang diajarkan oleh Sang Hyang Semara Ratih. Film ini menjadi cerminan bahwa keserakahan dan eksploitasi alam tanpa batas hanya akan membawa kehancuran. Namun, dengan kesadaran, cinta kasih, dan kerja sama, keseimbangan dapat dipulihkan, dan kehidupan bisa kembali harmonis.
Информация по комментариям в разработке