Om Swastiastu
Di zaman Kaliyuga seperti saat ini, kita menyaksikan begitu banyak perilaku manusia yang mulai menyimpang dari norma kebenaran dan kebaikan. Nilai-nilai luhur yang dahulu dijunjung tinggi perlahan mulai tergerus oleh ego dan kepentingan pribadi. Sangat berbeda dengan zaman Kertayuga, di mana umat manusia hidup dalam
kesadaran dharma, menjunjung tinggi kejujuran, kerendahan hati,
serta saling menghormati satu sama lain.
Salah satu perilaku yang kini kerap kita jumpai di tengah masyarakat adalah sikap Belog Ajum. Sebuah istilah yang menggambarkan seseorang yang kurang
pengetahuan atau kurang wawasan, namun bertingkah angkuh dan sombong.
Merasa diri paling benar, paling pintar, tidak pernah mau menerima masukan, serta selalu ingin dipuji dan dihormati.
Perilaku ini muncul dari ego yang berlebihan. Seseorang yang sejatinya belum
memahami banyak hal, namun ingin terlihat hebat di hadapan orang lain.
Dalam bahasa sederhana sering dikatakan “Sing nawang ape”, tidak benar-benar
memahami apa yang dibicarakan, namun berani tampil seolah-olah paling tahu.
Ibarat tong kosong yang nyaring bunyinya — semakin kosong isinya, semakin keras
suaranya.
Tanpa disadari, sikap Belog Ajum justru akan menjadi bumerang bagi diri sendiri.
Kesombongan yang dipelihara hanya akan memperlihatkan kebodohan yang
sesungguhnya. Sementara orang-orang yang bijak akan tetap berjalan dengan tenang, mengingat pepatah: anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu, serta
air beriak tanda tak dalam. Orang yang benar-benar berilmu tidak perlu banyak bicara untuk membuktikan dirinya.
Oleh karena itu, marilah kita kembali memegang teguh nasihat luhur para leluhur Bali:
“De ngaden awak bisa, depang anake ngadanin.”
Jangan pernah merasa diri paling bisa; biarlah orang lain yang menilai kemampuan kita.Kerendahan hati adalah cerminan kebijaksanaan sejati.
Berangkat dari kegelisahan melihat fenomena tersebut, kami dari
STT Yowana Jaya Winangun Br. Merta Jaya tergerak untuk menuangkan kritik sosial ini dalam bentuk karya seni. Melalui kreativitas dan semangat kebersamaan, kami mengekspresikan perilaku Belog Ajum ke dalam sebuah karya seni ogoh-ogoh sebagai simbol peringatan sekaligus refleksi bagi kita semua.
Karya ini tidak semata-mata untuk menghakimi, melainkan sebagai pengingat agar kita mampu bercermin dan terus memperbaiki diri. Semoga melalui karya seni ini, pesan moral dapat tersampaikan, dan kita semua semakin sadar pentingnya rendah hati,
belajar tanpa henti, serta selalu berjalan di jalan dharma.
Berawal dari kegelisahan kami, untuk meluapkan segala kritik, dan sebagai
pesan moral, maka terwujudlah sebuah karya yang kami beri judul
“BELOG AJUM”
Om Shanti, Shanti, Shanti Om.
Dukung kami dengan LIKE 👍
COMMENT 💬
dan SUBSCRIBE 🔔 agar budaya Bali terus hidup dan berkembang.
#belogajum
#mertajaya
#kesangafestival
#ogohogoh2026
Информация по комментариям в разработке