Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru
BALIKPAPAN - Kehidupan santri nyatanya tak bisa lepas dari bentuk pengabdian untuk masyarakat. Mulai dari pengabdian berbentuk sosial di tengah masyarakat, hingga berdakwah di daerah-daerah terpencil.
Hal inilah yang dijalani Pengasuh Pondok Pesantren Al Izzah Balikpapan, KH. Muhammad Muhlasin.
Ponpes Al Izzah berada di Jalan Sungai Wain, Km 15, Karang Joang, Balikpapan Utara. Dari pusat Kota Balikpapan, Kalimantan Timur kurang lebih 15 Km ke arah utara.
Sebelum memimpin ponpes tersebut, dirinya sudah lebih dulu tinggal di lingkungan santri.
Terlebih, dirinya lahir di Blitar, Jawa Timur, kota yang dikenal sebagai Kota Santri. Tak ayal, sejak kecil dunianya tak jauh dari tradisi kepesantrenan.
"Ibarat kata, kami kecil, tumbuh memang sudah di lingkungan pesantren. Otomatis orang tua kami mindset-nya adalah anak-anaknya harus nyantri. Alhamdulillah pertama saya pesantren di tempat Mbah saya sendiri," ungkapnya, Sabtu (14/2/2026).
Perjalanan menuntut ilmunya dimulai di pesantren milik sang kakek, saat duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (SD). Tepatnya di Pondok Pesantren Hidayatul Mustafidin, Blingi, Kabupaten Blitar. Namun, setelah lulus, ia melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Raudhatul Ulum, Kediri.
Tak berhenti disitu, Muhlasin muda kembali menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari Balikpapan pada 1986. Setelah orangtuanya membawanya merantau ke Kota Beriman -- sebutan Kota Balikpapan hingga tahun 1990.
Kemudian, Kiai Mukhlasin kembali ke Tanah Jawa untuk melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Dzalām, Pasuruan, Jawa Timur, di bawah asuhan KH. Anwar Siraj.
Siapa sangka, sosok inilah yang paling membekas dan menginspirasi dalam perjalanan hidupnya.
"Beliau itu bukan hanya seorang kiai, pengasuh pesantren, tapi maqam-nya sudah sampai murabbi. Murabbi itu yang mendidik dan mendampingi rohani kita," jelasnya.
Kesederhanaan serta kesungguhan KH. Anwar menginspirasi pribadi Kiai Muhlasin dalam mendidik dan memimpin pondoknya hingga saat ini.
Termasuk juga, KH. Ahmad Sarwani Zuhri yang dulu juga sempat membentuk sisi kedisiplinan dan kepemimpinannya.
Bekal inilah yang membawanya aktif berorganisasi. Mulai dari Ketua Ranting NU, Ketua PCNU Balikpapan dua periode, hingga kini dipercaya sebagai Katib Syuriah PBNU Kalimantan Timur.
"Itulah yang membawa dan membentuk kepribadian saya walaupun tidak mungkin bisa sesempurna guru-guru saya. Juga dengan tidak mengurangi guru-guru yang lain, karena kiai-kiai itu memiliki karakter khas tersendiri di antara satu sama lain. Tapi saling melengkapi," kenangnya.
Editor Video: Indra Mahendra
Информация по комментариям в разработке