LENGKUR NAKAN
Music :
@Mangmoyr
@BawiKahayan
Bagian 1
Lengkur Nakan tidak terlalu jauh dari pinggir sungai Tewei, kira-kira berjarak 100 meter dari bibir sungai. karena sudah jarang di datangi, jalan menuju lokasi sudah mulai tidak terlihat. Dan terpaksa kami membuat jalan baru.
Tempat ini di namakan Lengkur Nakan yang artinya Gunung Cempedak, lengkur nakan meliputi area kuburan, perkampung dan benteng Dayak waktu melawan Belanda. Lengkur Nakan adalah sebuah perkampungan Dayak jaman dulu yg sekarang sudah di tinggalkan dan masyarakatnya sudah pindah ke Desa Hajak.
Orang Dayak zaman dulu jika meninggal akan dikuburkan bersamaan dengan harta benda miliknya seperti guci, mandau,piring malawen, kalung,cicin, batu pusaka, dan sebagainya.
Sebagian besar benda pusaka ini merupakan tembikar yang berasal dari cina, ini di buktikan dengan adanya motif dan tulisan cina di guci dan piring-piring malawen milik Dayak, yg artinya di dapatkan dari pedagang-pedagang cina yg masuk ke Indonesia kala itu.
Sehingga sebagian besar budaya ,adat istiadat Dayak dipengaruhi oleh budaya cina.
Sangat disayangkan lokasi kuburan ini sudah ratusan kali dijarah oleh orang yang tidak bertanggung jawab, makamnya digali dengan tujuan mengambil harta benda yang dikuburkan bersama dengan jenazah. Sehingga yang tersisa dan yang kami temukan dilokasi hanyalah pecahan-pecahan sisa dari para penjarah tersebut.
Alasan para penjarah menggali kuburan ini adalah dikarenakan harga dari benda pusaka tersebut sangat mahal, bisa di hargai ratusan juta sampai miliaran rupiah. Itu disebabkan oleh semakin tua nya suatu benda maka akan semakin bernilai dan bersejarah sehingga mengakibatkan harganya sangat tinggi, dan benda pusaka tersebut di jual ke pengoleksi benda antik bahkan sampai di jual ke luar negeri. Maka nya tidak jarang kalau benda-benda pusaka milik Indonesia di temukan di museum-museum Negara lain.
Selanjutnya, kami menemukan pecahan dari sebuah piring secara satu persatu seperti sebuah puzel, dan setah 4 buah pecahan di satukan membentuk sebuah tulisan cina kuno yg sampai hari ini tidak diketahui artinya.
Seandainya lokasi makan ini tidak di jarah, dan digali maka akan menjadi sebuah lokasi makan dayak kuno yg pastinya sangat bersejarah. Karena terdapat banyak sekali peninggalan-peninggalan benda pusaka Dayak di makam ini, bahkan bisa dijadikan jagar budaya.
Bagian 2
Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah benteng Dayak, saat melawan Belanda pada masa penjajahan. Tempatnya tepat berada di hilir kuburan.
Untuk menuju benteng tersebut kami kembali menggunakan kelotok, dan kebetulan airnya juga sedang pasang jadi sangat mempermudah pergerakan kami.
Benteng Dayak saat melawan Belanda, berada tepat di sebelah kiri, benteng ini merupakan sebuah tebing tinggi yg di selimuti oleh pepohonan dan semak belukar yg sangat lebat, ini merupakan tempat yg pas untuk bersembunyi dari kapal-kapal belanda.
Saat sampai ke Benteng ini, kami merasa terharu, bahkan merinding, dikarenakan mengingat dan membanyangkan bagaimana para leluruh kami suku Dayak berjuang mati-matian melawan belanda yang datang.
Memang lokasi ini tidak terlihat seperti sebuah benteng, dan lebih mirip seperti tebing tinggi. Tetapi memang orang Dayak jaman dulu menjadikan tebing sebagai benteng dan tempat mengintai musuh, kemudian goa sebagai tempat tinggal lalu lebatnya hutan sebagai tempat bersembunyi. Makanya Belanda saat menjajah kalimantan mengalami kesulitan karena di hadang oleh pasukan-pasukan Dayak yg menyatu dengan alam bahkan orang Dayak di juluki oleh orang belanda sebagai pasukan hantu karena susah di lihat dan diperkirakan pergerakannya.
Menurut cerita yg kami dengar, saat Belanda datang melewati Benteng ini, orang dayak akan menggulingkan pohon dan batu besar dari atas, sehingga mengakibatkan kapal Belanda melambat, bocor, bahkan tenggelam, selanjutnya pasukan Dayak akan turun secara bersama-sama untuk melawan menggunakan Mandau, tombak, dan sumpit, dan yg mengakibatkan belanda kalah dan bagi yg masih hidup mundur putar balik kembali. Makanya Kapal-kapal Belanda sangat susah masuk ke sungai kalimantan karena setiap kampung Dayak pasti memiliki benteng di pinggir sungai.
Memang sampai hari ini, bukti-bukti nyata untuk mendukung bahwa benar ini merupakan lokasi Benteng Dayak belum ada, karena lokasi ini sudah tidak pernah di jelajah oleh masyarakat. Karena ada beberapa mitos dan larangan yg berkembang di masyarakat supaya tidak mendatangi tempat ini, seperti tidak boleh menebas pohon dan tumbuhan liar di sana, katanya jika di tebas akan mengeluarkan darah dari tanaman tersebut, dan masih banyak lagi mitos lainnya.
Yg kami yakin, mitos dan cerita seperti itu bertujuan untuk melindungi lokasi tersebut dari penjarah makam dan mengrusakan alam oleh manusia yg tidak bertanggung jawab.
Информация по комментариям в разработке