Immanuel Kant mengajak kita melihat, bahwa dunia yang kita kenali sebenarnya lahir dari cara pikiran kita bekerja: segala sesuatu hadir sebagai fenomena yang sudah disaring oleh ruang, waktu, dan kategori-kategori akal yang kita bawa sejak awal. Dari sana, ia menunjukkan bahwa moralitas bukan soal aturan luar, tetapi soal keberanian bertindak berdasarkan prinsip yang bisa kita pertanggungjawabkan secara universal.
Kebudayaan pun, dalam pandangannya, bukan sekadar hiasan hidup, melainkan kelanjutan alami dari upaya manusia mendisiplinkan diri, mengatasi naluri liar, dan membangun kehidupan bersama yang lebih rasional.
Melalui semua ini, Kant seperti mengingatkan bahwa menjadi manusia berarti terus belajar: memahami batas pengetahuan, memilih tindakan yang benar, dan bersama-sama membentuk dunia yang lebih bebas dan beradab.
Catatan Kuliah:
https://ytpustakamatahari.blogspot.co...
Full season Metafisika Kebudayaan: https://ytpustakamatahari.blogspot.co...
Seri Kuliah Metafisika Kebudayaan
Prof. Bambang I. Sugiharto
00:00:00 - intro
00:04:02 - 1. Kritik atas rasio murni (Kritik der reinen Vernunft, 1781)
apa yang dapat saya ketahui (hakikat "pengetahuan")
3 jenis pengetahuan:
1. Pengetahuan analitis - a-priori ('lingkaran itu bulat')
2. Pengetahuan Sintetis -a-posteriori
( pengetahuan yang muncul dari pengalaman faktual - 'sebuah lingkaran di buat di papan tulis oleh si amir.'
3. Pengetahuan Sintetis -a-priori - ilmu pasti + filsafat (metafisika) = spekulatif
00:14:37 - Proses Pengetahuan
yang dapat kita ketahui bukan benda an sich (Noumena); melainkan benda sejauh tampak pada indera kita - Erscheinungen; Fenomena
proses = benda - ditangkap oleh indera: a priori ruang dan waktu - dilempar ke akal (verstand): dicerna melalui a priori - 12 kategori
kuantitas - satu, banyak, keseluruhan
kualitas - realitas, negasi, imitasi,
Relasi - substansi/aksiden, sebab-akibat, interaksi
modalitas - mungkin/tidak mungkin, ada/tidak, mutlak/kebetulan
-- di tarik ke arah pengertian budi (vernunft)
a priori : ide regulatif: Tuhan, Jiwa, Dunia
00:31:00 - Metafisika
Metafisika berpretensi membangun pengetahuan tentang ketiga ide regulatif menggunakan kategori-kategori lebih rendah - tidak mungkin.
00:36:53 - 02. Kritik atas Rasio Praktis (Kritik der praktischen Vernunft, 1788)
a. apa yang harus saya lakukan
perilaku manusia de facto di atur oleh banyak kaidah:
1. Maksim = kaidah pribadi yang subjektif
2. Undang-undang = kaidah umum yang objektif
3. Imperatif Hipotetis = kaidah bersyarat - bila ingin x, harus lakukan y
4. Imperatif Kategoris = keharusan mutlak dan umum
Tujuan moral = kebahagiaan - untuk bahagia orang mesti bersifat rasional: Sintesa kaidah pribadi dengan kaidah umum.
Tapi masalahnya: banyak orang baik tidak bahagia.
perlu di yakini 3 Postulat: ada Tuhan, Jiwa dan Kebebasan.
00:54:21 - 03. Kritik atas kemampuan menilai (keputusan) - [Kritik der Urteilskraft, 1790]
keputusan-keputusan tentang: tujuan, nilai, indah, buruk dan sebagainya.
diantara pengetahuan dan tindakan
Kebudayaan - soal Purposiveness
Intrinsik = tujuan intrinsik alam - mekanisme - lahirkan manusia dengan nalarnya - melahirkan kebudayaan - untuk mencapai kebahagiaan manusia - sekaligus menciptakan hidup yang rasional dan bebas.
Ekstrinsik
Dalam keadaan konkrit: Kebudayan terbagi dua:
Skill (keterampilan teknis, praktis
Pola-pola pendisiplinan
~ perlu, namun melahirkan kesenjangan/kelas-kelas sosial - penyebab bentuk-bentuk keresahan sosial (social instability)
maka diperlukan hukum-hukum - perlu kesadaran hukum pada masyarakat (civil society)
pada skala lebih luas, maka stabilitas di jamin apabila ada "Cosmopolitan System of All States."
01:14:53 - Pola-pola Pendisiplinan
Perlu untuk atasi sisa-sisa "karakter kebinatangan" manusia
fungsi kebudayaan - membawa pada Dunia Rasional dan Berkebebasan memilih.
Sosok pendisiplinan: Science, Art,
01:18:30 - 4. Agama dalam batas Rasio/Nalar saja.
Die Religion innerhalb der Grenzen der blo en Vernunft-1793
Agama-agama tradisional tidak begitu penting, sebab Tuhan bicara langsung melalui "Coelum stellatum supra me, lex moralis intra me"
Agama berdasarkan "pengetahuan" (yang ketat) tak mungkin - melainkan hanya berdasarkan tindakan moral.
Perbedaan Agama - hanyalah bermacam wajah dan bentuk dari kesadaran moralitas saja. - agama-agama perlu di teliti secara kritis.
#ImmanuelKant #FilsafatKant #KritikRasioMurni #KritikRasioPraktis #KritikKemampuanMenilai #Epistemologi #EtikaKantian #ImperatifKategoris #Kebudayaan #FilsafatModern #Pencerahan #FenomenaNoumena #FilsafatMoral #Teleologi #ReligionWithinReason #CivilSociety #Kosmopolitanisme #SejarahFilsafat #PemikiranModern
Информация по комментариям в разработке