• BANTEN AYABAN
BANTEN AYABAN
#BantenAyaban
Menurut lontar Yadnya Prakerti: banten pinaka raganta twi, artinya banten itu adalah simbol dirimu sendiri, dapat dimaknai bahwa persembahan banten bermakna mempersembahkan diri sendiri, badan yang sekala niskala inilah yang sepatutnya dipersembahkan karena badan ini anugerah dari Beliau, Oleh karena itu simbol diri sendiri. Lontar-lontar sebagai rujukan pembuatan banten di Bali sangat banyak, di antaranya: Rare Angon, Tutur Rare Angon, Dewa Tattwa, Widhi Sastra, dan Pelutuk Dewa Yadnya.Banten sebagai simbol diri, strukturnya dihubungkan dengan tubuh manusia melalui konsep Tri Angga, terdiri dari kepala (hulu), badan, dan kaki. Misalnya, sekelompok banten odalan terdiri dari tiga bagian yaitu bagian hulu-kepala berupa banten-banten yang dipersembahkan di sanggar, bagian badan berupa banten ayaban (di arepan Widhi), dan kaki berupa banten segehan atau caru. Kata ayaban berasal dari kata ayab menjadi kata ngayab (menghaturkan sesajen), ayaban (haturan berupa sesajennya). Sesajen dari kata saji, dalam bahasa Jawa Kuno artinya keperluan atau kebutuhan, apa yang disajikan. Jadi ayaban berarti kebutuhan manusia berupa makanan pokok yang dijadikan persembahan. Kelompok banten ayaban (sebagai badan dalam sistem banten) banyak jenisnya, dari tingkat nistaning nista sampai tingkatan utamaning utama, di antaranya: rayunan (terkecil), ajuman, dampulan, kelanan, pejatian, peras-penyeneng (tumpeng 5), sorohan tumpeng 7, sorohan tumpeng 11, sorohan tumpeng 21/22 disebut pamereman (atau pasarean, pakoleman), sorohan tumpeng 33 (pabangkit alit), sorohan tumpeng 38 (pabangkit bogem), dan yang terbesar adalah sorohan tumpeng 44 (pabangkit agung). Kalau diperhatikan isi banten ayaban terkecil, yang disebut rayunan: wadahnya berupa tamas bundar isinya dua buah pangkonan, satu celemik/tangkih berisi sepotong telor dan kacang-saur. Di atasnya diisi canang. Pangkonan terbuat dari nasi, telor adalah dagingnya, dan saur bersama kacang sebagai sayur dan kacang adalah biji/buahnya. Tiga jenis bahan pangan ini, nasi, daging, buah/sayur merupakan makanan dasar yang menghidupi manusia. Karena bahan-bahan ini menghidupinya maka disebut amerta (menjadikan tidak mati maksudnya hidup). Unsur-unsur makanan pokok inilah anugerah bagi umat Hindu yang menghidupinya, oleh karenanya bahan-bahan ini pula dipersembahkan kembali kepada Ida Sanghyang Widhi sebagai wujud rasa terimakasih. Sebagai persembahan, tiga jenis bahan 1 pokok tadi, oleh umat Hindu diolah dan dibentuk sedemikian rupa sehingga layak menjadi persembahan yang terbaik. Melihat persembahan yang demikian bisa jadi muncul pertanyaan, mengapa umat Hindu mempersembahkan makanan kepada Tuhan, apakah Tuhan itu lapar sehingga harus diberi makanan ? Banten ayaban yang lebih besar tingkatannya adalah ajuman, isinya sama dengan rayunan ditambahkan dengan jajan dan pisang (raka-raka). Dilihat unsur-unsurnya masih tetap sama yaitu nasi, daging, dan buah/sayur, hanya kelengkapannya yang ditambah/diperbesar. Demikian juga banten dampulan, unsur-unsurnya masih sama dengan rayunan dan ajuman, hanya saja nasinya kini diperbesar menjadi dua buah tipat dampulan. Oleh karena nasinya sebesar tipat 2 buah sudah tentu dagingnya menyesuaikan maka digantilah dengan sebutir telor. Unsur lainnya masih tetap. Demikian juga kelanan, tipat dampulan tadi diganti dengan tipan sebanyak 6 buah yang disebut akelan, walaupun demikian unsur-unsurnya tetap seperti di dahulu. Demikian seterusnya, sekelompok/sorohan peras –penyeneng tumpeng 5, tumpeng 7, tumpeng 11, tumpeng 21/22, sampai yang terbesar tumpeng 44 disebut pabangkit agung unsur-unsurnya dasarnya masih tetap sama hanya bentuk dan kelengkapan lainnya yang ditambahkan sesuai tingkatannya. Perubahan nasinya: dari pangkonan menjadi: tipat, tumpeng, sekartaman/pulegembal, pabangkit alit/gerombong, pabangkit bogem/macagak, dan pabangkit agung makaras, bisa juga berubah menjadi sarad. Perubahan dagingnya: dari sepotong telor berubah menjadi: sebutir telor, seekor ayam panggang, babi guling, gayah puspus, gayah sari, gayah utuh. Perubahan buah/sayur: dari kacang saur diganti dengan buah-buahan lebih besar, pajegan buah, palabungkah-palagantung, saji tungguh, barong palabungkah palagantung. Makna dari persembahan ayaban: realisasi dari ajaran Tri Rna yang berimplikasi pada pelaksanaan Panca Yadnya. Tiga rangkaian unsur-unsur pembentuk banten ayaban dijelaskan dalam Teori Segitiga Kuliner (Tri Angle Culinaire). Seni budaya yang dibuat umat Hindu yang didasari rasa tulus iklhas sebagai persembahan terbaik kepada Tuhan menghasilkan karya seni yang bernilai tinggi.
Bagaimana penjelasan selanjutnya, silahkan simak sesuluh Yudha Triguna melalui Yudha Triguna Channel pada Youtube, juga pada Dharma wacana agama Hindu.
Untuk mendapatkan video-video terbaru silahkan Subscribe
https://www.youtube.com/channel/UCB5R
Facebook: www.facebook.com/yudhatriguna
Instagram: / yudhatrigunachannel
Информация по комментариям в разработке