Dari luar, dunia idol kelihatan kayak tempat yang penuh glitter dan senyum manis. Tapi kayak lagu dangdut koplo, di balik gemerlap panggung dan kostum lucu, ada tekanan mental, jam kerja gila, dan tuntutan buat selalu "sempurna". Perfect Blue bukan cuma cerita tentang seorang gadis, tapi tamparan keras ke wajah glamornya industri hiburan.
Mima Kirigoe adalah anggota grup idol fiktif bernama CHAM!, yang sangat populer. Dia digambarkan sebagai idol ideal: manis, polos, dan penuh energi. Tapi Mima punya mimpi lebih besar — dia ingin jadi aktris. Dia pengen lepas dari citra idol yang "imut" dan membuktikan diri sebagai seniman sejati. Pilihan ini jadi titik awal kejatuhan mentalnya.
Perubahan karier Mima bikin fans-nya ngamuk. Beberapa ngerasa "dikhianati". Ada fans misterius yang nguntit dia, ngancem via surat dan pesan anonim, bahkan sampai ngirimin... bom. Di sini kita lihat gimana cinta fans bisa berubah jadi obsesi. Fenomena toxic fandom jadi fokus utama film ini — relevan banget sama dunia fanbase K-Pop zaman sekarang.
Langkah Mima ke dunia akting bukan berarti dia bebas. Justru di sana dia makin dikontrol. Sutradara dan agen paksain dia buat ambil peran berani, termasuk adegan pemerkosaan dalam serial TV yang dia bintangi. Adegan itu disturbing, bukan cuma karena kontennya, tapi karena itu jadi simbol "kehancuran" identitas Mima. Dia makin jauh dari citra idol-nya, dan makin bingung siapa dirinya yang asli.
Mima mulai ngeliat versi lain dari dirinya: “Mima yang lama”, versi idol yang senyum terus dan nari dengan lincah. "Mima Lain" ini sering muncul di cermin, layar TV, bahkan di jalan. Dia terus mengejek dan menekan Mima. Apakah itu delusi? Hantu? Atau simbol trauma dan kehilangan identitas? Film ini bikin kita mempertanyakan semuanya.
Satoshi Kon dikenal sebagai master editing non-linear. Lo bisa tiba-tiba nonton adegan yang lo kira nyata, tapi ternyata itu cuma adegan syuting. Atau lo kira itu mimpi, ternyata kejadian beneran. Film ini bikin lo ikut merasakan disorientasi Mima — lo nggak tau lagi mana realita dan mana khayalan. Gaya penceritaan kayak gini bikin Perfect Blue jadi masterpiece yang nggak gampang dilupakan.
Kaca dan pantulan jadi motif visual yang dominan. Setiap kali Mima ngeliat dirinya di kaca, dia ngeliat versi berbeda dari dirinya — kadang Mima yang senyum sinis, kadang Mima yang terlihat kacau. Pantulan ini adalah metafora dari ekspektasi publik dan konflik identitas internal. Kita semua pernah ngerasa kayak gitu — jadi versi yang "diinginkan" orang lain, bukan diri sendiri.
Film Black Swan (2010) sering disebut mirip banget sama Perfect Blue. Dan memang banyak paralelnya: karakter utama yang perfectionist, tekanan mental, dan kemunculan "bayangan" diri. Sutradara Darren Aronofsky bahkan beli hak atas adegan Perfect Blue buat dipakai di film Requiem for a Dream. Tapi tetap aja, banyak yang ngerasa Black Swan adalah versi "Hollywood" dari Perfect Blue.
Ironisnya, karena ini anime, justru sensasi horor psikologisnya jadi makin terasa. Transisi antar adegan bisa fluid banget. Wajah Mima bisa berubah di tengah scene, latar bisa mencair, dan “Mima Lain” bisa muncul tanpa efek CGI yang norak. Animasi memungkinkan Kon buat eksplorasi psikologis yang dalam tanpa batas teknis live-action.
Perfect Blue mungkin rilis tahun 1997, tapi temanya makin relevan sekarang. Kita hidup di dunia yang selalu online, penuh tekanan sosial dan tuntutan untuk selalu tampil sempurna. Media sosial bikin kita ngerasa harus jadi versi terbaik dari diri sendiri setiap saat. Kalau lo ngerasa harus “filter” kehidupan lo biar diterima publik — lo udah ngerti dikit gimana rasanya jadi Mima.
Perfect Blue punya pengaruh besar di dunia film. Gaya editing dan storytelling-nya jadi inspirasi banyak sineas. Bahkan film Hollywood seperti Inception dan Black Swan dianggap punya “roh” Perfect Blue. Selain itu, film ini juga membuka pintu buat genre anime dewasa yang berani eksplorasi tema mental illness dan obsesi.
Perfect Blue bukan cuma film. Ini pengalaman emosional yang bakal nempel lama di kepala lo. Film ini berhasil membongkar ilusi dunia hiburan dan tekanan sosial dengan cara yang jujur dan mengerikan. Dalam era digital yang penuh tekanan buat tampil sempurna, Perfect Blue jadi pengingat buat kita semua bahwa jadi diri sendiri itu jauh lebih penting daripada jadi "sempurna" di mata orang lain.
Kalau lo belum nonton, wajib tonton. Dan kalau udah nonton, coba tonton ulang — mungkin lo akan nemuin pantulan diri lo di mata Mima.
-------------------------------------------------------------
Social Media Jurno
Instagram : / jurnoid
Tiktok : / jurnoid
Twitter : / jurno_id
Discord : / discord
Threads: https://www.threads.net/@jurnoid
Website
https://jurno.id/
Информация по комментариям в разработке