Kisah Mantan Ajudan Bung Karno Diajak Aidit dan Sudisman Bergabung Ikut Gerakan PKI
Buku Kronik 65: Catatan Hari Per Hari Peristiwa G30S Sebelum Hingga Setelahnya (1963-1971)," yang disusun Kuncoro Hadi dan kawan-kawan mencatat dengan rinci kronologi peristiwa G30S PKI sebelum dan sesudah penculikan dan pembunuhan para jenderal pimpinan Angkatan Darat terjadi.
Salah satu yang dicatat adalah peristiwa saat Brigjen Sugandhi bertemu dengan Sudisman dan DN Aidit di Istana Negara. Brigjen Sugandhi tak lain adalah mantan Ajudan Bung Karno. Sementara Sudisman dan DN Aidit, merupakan petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI). Kedua pemimpin PKI itu baru saja menghadap Presiden Soekarno.
Satu hari, pada tanggal 27 September 1965, Brigjen Sugandhi yang sedang ada di Istana Negara berpapasan dengan Sudisman, seorang petinggi PKI. Saat bertemu Sudisman itulah, Brigjen Sugandhi bertanya kepada petinggi PKI itu soal kabar penggalian sumur-sumur yang dilakukan para kader PKI di kampung-kampung. "Man, ini ada apa kok di kampung-kampung ada persiapan dan pembuatan sumur?" begitu pertanyaan yang dilontarkan Sugandhi kepada Sudisman.
Ditanya seperti itu, Sudisman justru mengajak Sugandhi agar bergabung dengan PKI. Tentu saja ajakan Sudisman langsung ditolak mentah-mentah oleh Sugandhi. Kata Sugandhi, dirinya tidak mungkin gabung PKI, karena dirinya seorang yang beragama.
Mendengar jawaban Brigjen Sugandhi, dengan nyinyir Sudisman berkata. Kata Sudisman, Sugandhi telah dicekoki Nasution. Nasution yang dimaksud Sudisman adalah Jenderal Abdul Haris Nasution yang ketika itu menjabat sebagai Menko Hankam merangkap Kepala Staf Angkatan Bersenjata. "Bukan soal dicekoki, tapi soalnya adalah ideologi," jawab Sugandhi.
Tidak berapa lama, DN Aidit ikut gabung mengobrol. Ketua PKI itu juga mengajak Sugandhi agar ikut bergabung dalam gerakan yang akan dilakukannya. Kata Aidit, gerakan itu akan dimulai dalam satu, dua atau tiga hari lagi untuk menindak para jenderal yang tergabung dalam Dewan Jenderal.
Mendengar itu, Sugandhi menolaknya. Dengan tegas Sugandhi mengatakan, ia masih berpegang teguh pada doktrin Sapta Marga. Sudisman ikut menyela. Kata Sudisman, tindakan kepada jenderal-jenderal yang dianggap tidak loyal kepada presiden, sudah diketahui oleh Presiden Sukarno.
Kuncoro Hadi dan kawan-kawan dalam buku yang sama juga mencatat, bahwa pada tanggal 30 September 1965, Brigjen Sugandhi menghadap Presiden Soekarno di Istana Negara. Sugandhi menghadap Bung Karno pada pukul 11.00. Kepada Presiden Soekarno, Sugandhi menceritakan pertemuan dan obrolannya dengan Sudisman dan Aidit pada tanggal 27 September 1965. Kata Sugandhi pada Soekarno, dirinya diajak Aidit dan Sudisman untuk bergabung melawan Dewan Jenderal.
Sugandhi juga coba mengkonfirmasi kepada presiden soal kebenaran rencana tindakan PKI terhadap jenderal-jenderal yang dianggap tidak loyal pada Bung Karno. Mendengar itu, menurut pengakuan Sugandhi, Presiden Sukarno menghardiknya dengan nada marah. "Kamu jangan jadi PKI phobi." Begitu pengakuan Sugandhi soal hardikan Bung Karno padanya seperti dicatat Kuncoro Hadi dalam bukunya.
Victor M Fic dalam buku Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi tentang Konspirasi, lebih rinci menceritakan pertemuan Brigjen Sugandhi dengan Bung Karno. Menurut Victor dalam bukunya, dalam pertemuan pada 30 September 1965 itu, Brigjen Sugandhi menanyakan kepada Bung Karno apakah sudah tahu soal rencana PKI yang akan menindak para jenderal yang disebut bagian dari Dewan Jenderal.
Tapi alih-alih menjawab, Bung Karno menurut pengakuan Sugandhi justru menghardiknya. Soekarno minta mantan Ajudannya itu jangan anti atau takut oleh PKI. Mendapat hardikan seperti itu Sugandhi menjawab, jika memang ada jenderal yang tak loyal, Presiden Soekarno bisa memecatnya. Sebagai panglima tertinggi, Bung Karno punya wewenang untuk itu. Sugandhi juga menegaskan jika Dewan Jenderal itu tidak ada. Yang ada hanya Wanjakti.
"Kalau ada jenderal-jenderal brengsek ya dipecat saja to Pak. Kan wewenang ada di tangan Bapak. Dewan Jenderal itu ndak ada Pak. Yang ada adalah Wanjakti yang tugasnya membantu Menteri Pangad untuk peneropongan kolonel-kolonel yang akan dinaikkan jadi jenderal, jadi bukan untuk tujuan lain," kata Sugandhi.
Dijawab seperti itu oleh mantan Ajudannya, Bung Karno tambah marah. Ia menyebut Sugandhi telah dicekoki Nasution. Mendengar itu, kembali Sugandhi berkata. "Betul Pak, Dewan Jenderal itu tidak ada. Kan Pak Yani sudah bicara sendiri dan menyatakan pada Bapak, bahwa Dewan Jenderal tidak ada. Dan lagi Pak Yani itu kan orang yang sangat setia pada Bapak."
Setelah itu, Sugandhi pamit. Sugandhi juga disebut, sempat mencoba menghubungi Jenderal Ahmad Yani soal rencana PKI. Tapi, teleponnya tak dijawab, karena malam pada tanggal 30 September itu, Ahmad Yani sedang menerima Brigjen Basuki Rachmat di rumahnya.
Информация по комментариям в разработке