group PAKUMAS (PAGUYUBAN KUDA KEPANG BANYUMAS) KORCAM LUMBIR dalam rangka PENTAS SENI TRADISIONAL BANYUMASAN ELING-ELING WONG ELING BALIA MANING live grumbul Jetis desa canduk kecamatan lumbir kabupaten Banyumas provinsi Jawa tengah INDONESIA
FANJAYA PRO AUDIO
“Sambel Kemangi” adalah salah satu lagu atau gending Banyumasan yang bernuansa jenaka, segar, dan penuh keakraban khas masyarakat desa. Judulnya sendiri merujuk pada hidangan sambal yang dicampur daun kemangi—aroma harum, rasa pedas, dan kesederhanaan yang menggugah selera. Nuansa inilah yang tercermin dalam lagu: menggambarkan pergaulan rakyat kecil, suasana kumpul keluarga, obrolan ngalor-ngidul, serta guyonan renyah yang meleburkan batas sosial.
Secara musikal, “Sambel Kemangi” biasanya dimainkan dengan tempo sedang, berpola ritme ringan dan menghentak namun tetap santai. Tabuhan calung, kentongan, kendang, serta saron dan gong Banyumasan berpadu membentuk kesan “ngapak” yang hangat dan apa adanya. Melodinya sering dibawakan dengan vokal yang nakal, ceplas-ceplos, serta terkadang menyelipkan pantun atau lirik improvisasi yang membangkitkan tawa.
Dalam konteks pertunjukan, lagu ini kerap hadir pada:
Lengger Banyumasan, sebagai pengiring suasana riang di tengah sesi tarian
Ebeg (kuda lumping), saat jeda atau transisi menuju bagian yang lebih meriah
Hajatan dan pesta rakyat, seperti mantenan, khitanan, hingga sedekah bumi
Acara nongkrong desa, sekadar hiburan sambil menikmati teh panas dan gorengan
Makna atau rasa yang ingin disampaikan “Sambel Kemangi” bukan sekadar soal makanan, tetapi simbol:
Kesederhanaan hidup yang membahagiakan
Kenikmatan berkumpul bersama
Karakter blakasuta masyarakat Banyumasan — jujur, terbuka, apa adanya
Humor rakyat sebagai ruang melepaskan penat
Dengan karakter ringan dan menyenangkan, lagu ini terasa seperti sajian sambal pedas dengan kemangi yang segar—membuat siapa pun yang mendengarnya ikut “ngangeni” dan ingin kembali merasakan suasana desa yang hangat dan penuh canda.
“Sambel Kemangi” is one of the Banyumasan songs or gendings that carries a playful, refreshing nuance filled with the warmth and togetherness of village life. Its title refers to a sambal dish mixed with basil leaves—fragrant aroma, spicy taste, and simple yet tempting sensation. This nuance is reflected in the song, illustrating the social life of common folk, family gatherings, casual conversations, and light-hearted jokes that erase social boundaries.
Musically, “Sambel Kemangi” is usually played at a moderate tempo, with a rhythmic pattern that is light, stomping, yet relaxed. The sound of calung, kentongan, kendang, along with Banyumasan saron and gong blend together, forming a warm and straightforward “ngapak” character. The melody is often sung with a cheeky, spontaneous manner, sometimes inserting pantun-like verses or improvised lyrics that spark laughter.
In performance contexts, this song often appears in:
Lengger Banyumasan – accompanying lively moments during the dance session
Ebeg (kuda lumping) – as an interlude or transition toward a more festive sequence
Village celebrations and community festivities – such as weddings, circumcisions, and harvest thanksgiving rituals
Casual village gatherings – simply as entertainment while enjoying hot tea and fried snacks
The meaning or essence conveyed by “Sambel Kemangi” is not merely about food, but stands as a symbol of:
The joy found in simple living
The delight of being together
The blakasuta nature of Banyumasan society — honest, open, and straightforward
Humor as a space for releasing everyday burdens
With its light and delightful character, the song feels like a spicy sambal dish with fresh basil—making anyone who hears it long to return to the warm, humorous, and heartfelt atmosphere of the village.
#sambelkemangi #gendingjowo #genidingjawa #gendingbanyumasan #gending #ebegwangon #gendingjawaklasik #kudalumping #kudakepang #jarankepang #jaranan #jathilan #jatilan #ebeg #ebegbanyumasan #ebegpakumas #pakumas #pakumaskorcamlumbir
Информация по комментариям в разработке