Perkuliahan ini mengajak kita memahami filsafat ilmu sebagai perjalanan reflektif yang hidup, dengan memadukan pendekatan diakronik—menelusuri sejarah ilmu dari Pra-Modern, Modern, hingga Pos-Modern—dan pendekatan sinkronik yang membedah persoalan ilmu di sini dan kini, sehingga kita sadar bahwa sains bukanlah bangunan netral, melainkan hasil pergulatan panjang paradigma, kebudayaan, dan kekuasaan sebagaimana ditunjukkan oleh Thomas S. Kuhn. Dari pengetahuan lokal dan dunia mitos yang hidup dalam budaya lisan, manusia perlahan beralih ke Logos Yunani yang rasional, konseptual, dan bertumpu pada tulisan, namun mitos tidak pernah lenyap karena ia tetap menjadi bahasa makna bagi paradoks kehidupan, sebagaimana ditegaskan oleh Mircea Eliade.
Modernitas menjadikan Logos begitu dominan hingga dunia berhasil dijelaskan, diukur, dan dikendalikan, tetapi justru kehilangan kehangatan maknanya—sebuah keadaan yang oleh Max Weber digambarkan sebagai dunia yang mengalami disenchantment. Dari sinilah kegelisahan posmodern muncul, bukan untuk menolak rasio, melainkan untuk mengimbanginya dengan membuka kembali ruang simbol, cerita, dan keberagaman makna yang tak bisa direduksi menjadi angka.
Dalam konteks Indonesia—sebagaimana sering diingatkan oleh Clifford Geertz—tantangannya bukan memilih salah satu, melainkan menempatkan Mitos dan Logos secara proporsional, agar sains tetap ketat secara metodologis dan agama tetap kaya secara simbolik, sehingga filsafat ilmu menjadi ruang refleksi yang membantu kita memahami ilmu sekaligus memahami diri dan zaman kita sendiri.
Seri Kuliah Filsafat Ilmu - Bagian 12
Pemateri Bapak Bambang I. Sugiharto
00:01 Pendekatan Diakronik dan Sinkronik dalam Filsafat Ilmu
Penjelasan mengenai metode perkuliahan yang dibagi menjadi dua pendekatan: diakronik (melihat sejarah: pra-modern, modern, pos-modern) dan sinkronik (analitis: syarat keilmiahan, metode, dan persoalan mendasar).
04:24 Pengetahuan Lokal vs Sains Yunani
Pemaparan bahwa setiap kelompok etnik sebenarnya memiliki sistem pengetahuannya sendiri. Namun, bentuk pengetahuan yang kemudian berkembang menjadi "Sains" modern secara spesifik berakar dari tradisi berpikir Yunani.
07:10 Pergeseran dari Mitos ke Logos
Menjelaskan perubahan paradigma fundamental pada abad ke-6 SM dari Mitos (menjelaskan misteri hidup melalui struktur naratif/cerita) ke Logos (menjelaskan melalui hubungan konseptual dan logis).
13:11 Karakteristik Dunia Logos: Hitam-Putih dan Distingsi
Dunia Logos (ilmiah) bekerja dengan pemilahan atau distingsi yang ketat (hitam-putih) dan definisi yang jelas. Berbeda dengan dunia Mitos yang bersifat metamorfis, di mana segala sesuatu bisa berubah dan batas-batasnya cair.
20:14 Paradoks Kehidupan dan Relevansi Mitos
Logika ilmiah sering kali terbatas dalam memahami kehidupan yang penuh paradoks (tidak hitam-putih). Oleh karena itu, Mitos tidak pernah hilang dan tetap relevan (misalnya melalui seni, film, sastra) untuk melukiskan misteri kehidupan yang tak terjangkau logika.
26:57 Budaya Lisan vs Budaya Tulisan
Infrastruktur Mitos adalah budaya lisan yang mementingkan "aura" dan kesan bunyi, sedangkan Logos bertumpu pada budaya tulisan yang mementingkan pengertian/makna. Dibahas juga konteks Indonesia yang budayanya masih sangat kuat di lisan.
40:08 Gejala Posmodern dan Perubahan Kualitatif
Zaman sekarang (posmodern) dianalogikan mirip dengan abad ke-6 SM, di mana terjadi perubahan kualitatif serempak di berbagai bidang (seni, politik, pengetahuan), menandakan kerangka pikir lama yang mulai tidak memadai.
43:00 Konflik Sains dan Agama: Kreasionisme vs Evolusi
Contoh benturan spektakuler antara Mitos dan Logos terlihat dalam debat Kreasionisme (ranah mitos/pesan moral) versus Evolusi (ranah logos/ilmiah). Keduanya memiliki sasaran berbeda dan seharusnya tidak perlu dipertentangkan secara kaku.
49:32 Peran Imaji dalam Sains dan Validitas Matematika
Diskusi mengenai sains yang ternyata tidak lepas dari imaji/metafora (contoh: alam semesta sebagai jam). Dijelaskan pula bahwa matematika lebih mengejar validitas (kesahihan logis) daripada kebenaran faktual (kebenaran realitas).
58:42 Mitos, Logos, dan Fungsi Otak
Mengaitkan dikotomi Mitos/Logos dengan fungsi otak kanan (holistik/imajinatif) dan otak kiri (hitung/ukur). Dibahas juga mengenai potensi "otak tengah" dan fenomena kemampuan manusia yang belum terjelaskan sepenuhnya.
01:11:51 God Spot dan Kecerdasan Spiritual (SQ)
Penjelasan tentang God Spot dalam otak, yaitu bagian yang merespons makna hidup. Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual adalah kebutuhan biologis otak akan makna, terlepas dari ada atau tidaknya agama formal.
Catatan kuliah: https://ytpustakamatahari.blogspot.co...
Full Season: Kuliah "Filsafat Ilmu" bersama Pa Bambang Sugiharto: https://ytpustakamatahari.blogspot.co...
Информация по комментариям в разработке