SEJARAH PENEMUAN CANDI BOROBUDUR
-- DAYAK IN BOROBUDUR --
Tomi, S. Pd.,M.E.
Asal mula penemuan Candi Borobudur ceritanya bermula di akhir abad ke-18 Masehi ketika negeri Belanda diduduki oleh pasukan Prancis pimpinan Kaisar Napoleon. Berita pendudukan ini dengan cepat juga menyebar ke seluruh koloni Belanda di Asia Tenggara. Gusar dengan suasana politik di Eropa, para petinggi EIC (East India Company), serikat dagang Inggris Raya untuk wilayah Asia Tenggara, memimpin pasukan untuk memasuki wilayah Malaka, Penang, Palembang, dan akhirnya Jawa, dengan tanpa perlawanan berarti. Tujuan awalnya semata untuk menjaga wilayah-wiayah koloni Belanda ini agar tak turut jatuh dalam pengaruh dan kekuasaan Perancis.
Pada masa itu, Thomas Stamford Raffles, seorang pegawai karir di EIC yang mula-mula ditempatkan di Penang oleh Lord Minto, karena pengetahuannya yang luas akan bahasa dan kebudayaan Melayu, tak punya pilihan lagi selain ikut dalam rombongan ekspedisi militer menuju pulau Jawa.
Sesampainya di Jawa, Lord Minto menyerahkan tongkat komando ke Raffles, ia kembali ke India. Sepeninggal Lord Minto, Raffles dipercaya menempati jabatan Letnan Gubernur. Di tengah tahun 1814 M, seperti rutinitas harian biasa, ia menerima laporan dari para bawahannya. Tumpukan laporan itu umumnya berisi kabar perkembangan berbagai urusan pemerintah dari soal ekonomi pulau Jawa, sampai masalah politik di Eropa. Kabar soal pasukan Inggris yang telah menduduki kota Paris juga ia terima di Batavia. Selain berita soal Paris, ada satu dokumen dalam tumpukan itu yang menarik perhatiannya.
Dalam perjalanan inspeksi di Semarang, sejumlah serdadu Inggris melaporkan mengenai penemuan serpihan bebatuan yang berukir dan diduga sudah ada sebelum masuknya agama Islam di daerah Magelang. Ia segera memerintahkan seorang pemuda yang bernama Hermanus Christian Cornelius, seorang sarjana Belanda yang tinggal di Semarang, untuk memeriksanya. Kemudian dua pejabat Inggris yaitu Lieutenant-Colonel Mackenzie dan Captain George Baker ikut dalam tim investigasi bersama Cornelius.
Raffles yang begitu tekun mempelajari alam pulau Jawa bersama dengan John Leyden dan William Farquhar, telah menulis hasil penelitiannya dengan ekstensif yang dikenal dengan sebutan Magnum Opus. Pada 1817 M, Magnum Opus ini diplublikasikan dalam 2 volume tebal. Dua ratus tahun sejak publikasi pertamanya, buku ini tak layak menjadi referensi akademis untuk penelitian tentang pulau Jawa. Alasannya terutama karena dalam proses penyusunannya, Raffles dengan agak sembrono memakai tulisan dan data-data yang tak jelas asalnya. Sehingga buku ini dianggap tidak ilmiah.
Artinya data-data dan informasi tentang asal usul dan pemilik candi Borobudur ini telah mendapat sanggahan dari pihak akademisi pada masa itu. Namun data-data dan informasi itulah yang hingga kini masih dipergunakan sebagai referensi sejarah Borobudur yang dahulunya telah disanggah dan tidak layak untuk di publikasikan.
Laporan mengenai Candi Borobudur dari Cornelius yang lebih dulu diterima Raffles semakin membangkitkan rasa penasarannya. Dalam catatannya, Cornelius menemukan suatu keadaan yang sangat berantakan saat pertama kali tiba di lokasi. 200 orang yang ia kerahkan tak sanggup begitu saja memugar reruntuhan candi, karena bebatuan tersebut telah tertimbun lebat hutan berabad-abad umurnya, serta erupsi vulkanik yang begitu tebal. Yang mereka lakukan semata hanya menebang sebagian pepohonan hutan dan membuat struktur candi yang berbentuk piramida itu bisa terlihat.
Pada tanggal 18 Mei 1815 Masehi, Raffles mendapat kesempatan untuk melihat sendiri reruntuhan candi Borobudur tersebut. Pada masa itu, orang-orang Inggris belum menemukan catatan arkeologis yang bisa dipercaya mengenai asal usul dari candi Borobudur itu. Sementara itu, sebagian besar orang yang tinggal di sekitar Jawa Tengah tahu, atau setidaknya pernah mendengar tentang reruntuhan batu candi itu. Mereka mendengar cerita turun-temurun mengenai sebuah susunan bebatuan yang ditinggalkan oleh kerajaannya dan kemudian tertutup abu vulkanik dan lebat pepohonan hutan. Meskipun mereka mengetahui keberadaan reruntuhan candi itu, namun mereka tidak mengetahui asal muasal dan pemilik dari candi tersebut.
Bagi sebagian orang Belanda, salah satu catatan pertama mengenai Borobudur justru bisa dilacak dari berita tentang Frederik Coyett yang pada 1733 Masehi yang mengambil beberapa serpihan patung Budha di daerah itu. Dengan demikian, klaim Raffles sebagai “penemu” candi Borobudur telah mendapat dua sanggahan.
Artinya sebelum Raffles, telah ada orang lain yang telah menemukan Borobudur ini yaitu sebagian orang yang tinggal di sekitar Jawa Tengah dan Frederik Coyett tahun 1733 M. Dan telah dijelaskan bahwa mereka tidak mengetahui asal usul dan pemilik dari Borobudur ini.
#Sejarahbangsadayak #Pendudukaslikalimantan #Kalimantantanahdayak #Dayakhebat #Candiborobudur #Warisanunesco
Информация по комментариям в разработке