DUEL MAUT POLISI vs KOPASSUS ❗❗ Oknum Polisi Arogan Menakut Nakuti Warga Ternyata Ia Anggota Kopasus
--------------------------------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER:
Video ini dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan AI untuk tujuan hiburan dan tidak bermaksud untuk mendukung, menjelekkan, atau memprovokasi pihak mana pun, termasuk institusi kepolisian dan militer. Semua adegan yang ditampilkan adalah fiksi.
Kami menghormati semua pihak terkait dan menekankan bahwa konflik dalam video ini hanyalah bagian dari cerita drama. Jangan meniru adegan yang ditampilkan dalam kehidupan nyata.
Gambar di Video hanyalah ilustrasi. Segala kesamaan nama dan tempat kejadian yang muncul dalam video ini adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Terima kasih telah menonton. Silakan gunakan video ini sebagai hiburan semata dan tetap menjaga sikap saling menghormati di kehidupan sehari-hari.
-------------------------------------------------------------------------------------------
Malam di Kota Wirasena terasa lebih sunyi dari biasanya. Jalanan lengang, hanya diterangi lampu jalan yang sesekali berkedip seperti hampir padam. Di sudut jalan dekat pasar lama, sebuah angkringan sederhana masih buka. Asap tipis mengepul dari bara arang, aroma khas sate usus dan kopi hitam bercampur dengan udara malam.
Di bangku kayu yang sudah tua, seorang pria duduk diam sambil menikmati secangkir kopi. Raka Wiradipa—begitu namanya. Berjaket hitam lusuh, wajahnya biasa saja, tak mencolok. Ia terlihat seperti warga biasa, mungkin pekerja malam atau sopir yang sedang beristirahat. Namun, matanya. Mata itu tajam dan penuh ketenangan—bukan tatapan orang sembarangan.
Dari kejauhan, suara motor menderu mendekat. Bripka Satrio Adinata, polisi yang terkenal arogan, datang dengan gaya khasnya: motor gede dinas, jaket kulit, dan wajah angkuh. Ia turun dari motornya, menatap angkringan dengan seringai kecil.
Darto, si pemilik angkringan, menunduk gugup. Ia tahu apa yang akan terjadi.
"Wah, masih buka juga, To?" suara Bripka Satrio berat, tapi penuh kesan meremehkan.
Darto tersenyum paksa. "Iya, Pak... cari rezeki."
Bripka Satrio tertawa kecil, lalu menepuk bahu Darto keras, nyaris membuat lelaki tua itu kehilangan keseimbangan.
"Rezeki ya? Tapi jangan lupa sama yang jaga keamanan, To. Kalau enggak, nanti rezekimu malah seret."
Darto menelan ludah. Sudah sering terjadi, setiap kali Bripka Satrio datang, pasti ada "uang keamanan" yang harus diberikan. Ia tak berani menolak.
Sementara itu, Raka yang duduk di bangku kayu tetap diam. Sejak tadi, ia mengamati dengan tenang.
"Hei, kamu!" Bripka Satrio tiba-tiba menunjuk Raka.
Raka mengangkat wajahnya, matanya bertemu dengan tatapan Satrio.
"Kenapa, Pak?" tanyanya santai.
"Kamu ngapain di sini? Maling ya?" Bripka Satrio menyeringai, setengah bercanda, setengah mengintimidasi.
Darto terkejut. "Pak, dia cuma pelanggan biasa..."
"Diam kamu, To! Gue tanya orang ini!" bentak Bripka Satrio.
Raka tetap duduk tenang. Ia mengangkat cangkir kopinya, menyeruput sedikit, lalu meletakkannya kembali ke meja.
"Saya cuma istirahat, Pak. Apa ada masalah?" suaranya tetap datar, tanpa sedikit pun ketakutan.
Bripka Satrio tersenyum miring. Ia tak suka melihat orang biasa yang tidak takut padanya.
"Mana KTP-mu?" tanyanya sambil menyodorkan tangan.
Raka menghela napas, lalu merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan dompet kulit yang tampak usang, membuka isinya, dan mengeluarkan sebuah kartu identitas.
Bripka Satrio merebut kartu itu dengan kasar. Ia meliriknya sekilas, lalu tertawa kecil.
"Hah? Nama keren, tapi kerjaan apa? Sopir?" tanyanya dengan nada mengejek.
Raka tak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis.
Bripka Satrio mendekat, mencondongkan wajahnya ke arah Raka. "Jangan macem-macem di kota ini. Gue yang pegang kendali di sini. Paham?"
Sekali lagi, Raka hanya tersenyum. Tapi di balik senyum itu, ada sesuatu yang membuat Darto merinding.
Suasana terasa aneh.
Darto, yang sudah lama mengenal banyak orang, bisa merasakan sesuatu yang berbeda dari Raka. Orang ini bukan orang biasa.
Namun, Bripka Satrio terlalu sombong untuk menyadarinya.
Malam itu, di bawah cahaya lampu jalan yang remang, takdir mulai bergerak. Sebuah peristiwa besar akan segera terjadi.
#CeritaThriller #AksiPolisi #DramaKejaran #KonflikHukum #BalasDendam #KeadilanSejati #FilmActionIndonesia #MisteriDanIntrik #PerjalananTanpaAkhir #KeteganganMaksimal #kisahnyata #kisahkehidupan #seribukisah72
Cerita Thriller, Aksi Polisi, Drama Kejaran, Konflik Hukum, Balas Dendam, Keadilan Sejati, Film Action Indonesia, Misteri Dan Intrik, Perjalanan Tanpa Akhir, Ketegangan Maksimal, kisah nyata, kisah kehidupan, seribu kisah72
Информация по комментариям в разработке