Secara terminologis Catus Pata terdiri dari dua kata, Catus secara semantik berasal dari kata catur yang secara numerik menunjukkan dimensi empat sementara pata berarti jalan atau arah, titik pertemuan, persimpangan yang mempertemukan dua atau lebih dimensi tertentu. Secara filosofis Catus Pata tidak hanya mereintepretasi serta merujuk pada substansi ruang dan wilayah, lebih dari itu Catus Pata adalah cerminan kualitas kelintasan ruang imajiner, dengan menempatkan waktu (kala) sebagai penanda progresi (perubahan). Catus Pata adalah pusat dari berbagai macam bentuk energi. Di tempat ini, dalam ruang imajiner ini, semua hal dinetralisir guna mencapai keharmonisan.
Dalam hubungannya dengan komposisi musik, secara konsepsional Catus Pata adalah cermin keseimbangan. Dari sudut pandang yang berbeda, pengejawantahan keseimbangan diaplikasikan dengan fitur-fitur garap kompositorik yang tidak melulu memperdengarkan konstruksi yang proporsional. Dengan berbagai pertimbangan, komposer justru menempuh jalan terbalik, memilih berangkat dari asumsi bahwa yang proporsional tidak selalu simetris. Kita dapat menyebutkan sesuatu adalah simetris karena ada yang asimetris sebagai antitesa, begitu pula sebaliknya. Pengaplikasian sukat 4/4, 5/8, 6/4,7/4; masing-masing dengan skema jarak temporal kolotomik yang tidak ajeg adalah suatu upaya untuk menvisualisasikan kekuatan dualistik yang tidak dapat dipisahkan. Satu bagian dari komposisi ini mengambil prioritas garap kamuflatif dimana sukat 4/4 yang terakumulasi ke dalam 8 ketukan untuk satu siklus gongan dengan pembagian penekanan 5/8, 6/8 dan 5/8. Gong tidak selalu menandai sukat ini sebagai bagian yang terpisah, peranan gong dibebaskan dari fungsinya sebagai penanda ritme struktural dengan melihat kemungkinan timbral yang berbeda dimana pukulannya secara simultan dipukul dengan pukulan kempur.
Komposisi ini menganut konsep sirkularitas sebagai upaya untuk memvisualisasikan prosesi mecaru yang dilakukan dengan mengelilingi Catus Pata dengan berbagai rentetan media upakara. Media upakara ini komposer analogikan sebagai vokabuler garap. Dalam keriuhan prosesi, sensibilitas terhadap kemunculan berbagai warna bunyi adalah upaya penghargaan terhadap waktu (kala) itu sendiri. Untuk itu komposer mengimitasi bunyi yang dihasilkan dari memukul tektekan ke dalam jalinan ceng-ceng yang dikerjakan dengan cara membenturkan pinggiran instrumen ceng-ceng dengan bagian dalam bawah ceng-ceng sehingga menghasilkan efek bunyi dengan meniadakan kemungkinkan vibrasi pada instrumen ceng-ceng. Selain itu, komposer juga mengimitasi bunyi kulkul (kentongan besar) yang diejawantahkan melalui instrumen gong, dimana secara fungsional peranannya tidak hanya sebagai pungtuasi akan tetapi didesain mempertegas suasana sakral. Guna memperkuat konsep pecaruan penata mengimplementasikan dengan kidung Bhuta Yadnya yang dikumandangkan saat prosesi mecaru.
Kita bisa menyebutkan bahwa satu frase adalah simetris karena disandingkan dengan bagian lain yang asimetris sebagaimana kita bisa menyebutkan bahwa benda tertentu berwarna hitam, karena kita tahu ada putih. Dalam Catus Pata intrik garap ini dilebur menjadi satu-kesatuan terintegrasi dan merupakan pusat dari energi multi dimensi. Catus Pata adalah representasi yang mengingatkan kita untuk menghargai perbedaan dan menjadikannya sebagai sumber energi sakral. Tawur Agung Kesanga, yang diawali dengan prosesi melasti yang secara filosofis penyucian atau pembersihan dari segala energi negatif. Komposer mengadaptasi “bebonangan gaya Desa Gobleg” sebagai identitas tematik pada saat prosesi melasti, dengan penambahan ornamentasi gedig ceng-ceng dan pola kendang yang diaplikasikan pada komposisi “bebonangan gaya Desa Gobleg”.
Menggambarkan perjalanan dinamis menuju klimaks, mencerminkan hiruk-pikuk dan semangat yang kuat dalam perayaan ogoh-ogoh (pengerupukan). Komposisi ini dibangun dengan pola ritmis yang cepat. Menjelang klimaks, sorakan yang riuh saat ngider ogoh-ogoh, menciptakan efek yang menegangkan sebelum akhirnya mencapai puncak “ledakan” musik yang menggambarkan pembersihan dan kemenangan atas kejahatan. Makna dari garapan musik ini adalah untuk menggambarkan proses ritual yang sarat dengan emosi, di mana kekuatan yang lebih besar mengatasi kekacauan dan kegelisahan, menghasilkan kedamaian dan keteraturan. Musik yang dinamis menuju klimaks ini menggambarkan transformasi dari ketegangan menuju resolusi, sesuai dengan filosofi ogoh-ogoh yang mewakili kemenangan spiritual.
Penanggung Jawab:
Made Wira Okta Atmadi S.Sn (Pangeran)
Komposer:
Kadek Merta Antariawan, S.Sn I Ketut Yudi Adnyana,
Kadek Teddy Mertayasa, S.Sn.
Support by:
Komunitas Seni Taruna Goak.
Komunitas Seni Dharma Sentana.
Komunitas Seni Gamelan Polos.
Damuh Urip Kamasan.
Pregina Suara Mustika. Make Up Sri Bali.
Информация по комментариям в разработке