TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA – Suasana tegang sekaligus riuh terasa di gedung olahraga Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Kalimantan Tengah di Jalan Tjilik Riwut Kilometer 2,5, Sabtu (24/1/2026), saat ajang Street War Vol 3 digelar.
Sorak penonton pecah mengiringi dua petarung yang saling berhadapan di arena.
Arena pertandingan yang dibatasi tumpukan ban menghadirkan nuansa “street”, namun atmosfer di dalam gedung tetap terkendali. Para fighter bertanding di bawah sorot lampu, dengan wasit, panitia, serta tim keamanan dan medis yang bersiaga di sekeliling arena.
Sebagian penonton terlihat duduk rapat di kursi, sementara lainnya berdiri sambil merekam jalannya pertandingan menggunakan ponsel. Teriakan dukungan terdengar silih berganti, berpadu dengan instruksi wasit yang memastikan laga berjalan tertib dan aman sesuai aturan Asosiasi Olahraga Kombat Indonesia (AOKI).
Promotor Tumbuk Hatampar, Nauval Sukarna Durasid, mengatakan ajang ini bukan sekadar pertarungan, melainkan wadah resmi bagi anak muda untuk menyalurkan energi besar mereka ke arah yang lebih positif.
“Ini memang olahraga pertarungan yang keras, bahkan bisa dibilang ekstrem. Tapi inilah wadahnya. Anak-anak muda bisa melampiaskan emosinya di tempat yang benar, dengan aturan, pembinaan, dan jenjang karier yang jelas,” ujarnya, saat ditemui TribunKalteng.com disela pertandingan.
Menurut Nauval, Street War merupakan bagian dari pengembangan olahraga kombat di Kalimantan Tengah. Hingga kini, Tumbuk Hatampar telah melaksanakan empat agenda, terdiri dari satu liga besar Tumbuk Hatampar Championship dan liga kecil Street War yang kini memasuki volume ketiga.
“Street War sudah sampai volume 3 dan hari masih berjalan. Sementara Tumbuk Hatampar Championship baru volume 1, rencananya pertengahan tahun akan ada volume 2,” jelasnya.
Street war ini mengusung tema Stop Narkoba dan Stop Tawuran sebagai pesan utama bagi generasi muda. Nauval menilai, tidak sedikit anak muda terjerumus ke hal-hal negatif karena banyaknya energi dan waktu luang yang tidak tersalurkan.
“Usia muda itu energinya besar. Kalau tidak dihabiskan di tempat yang benar, bisa lari ke narkoba atau perkelahian liar. Di sini kami sediakan wadah resmi, ada aturan dan jenjang karier,” katanya.
Pada Street War Vol 3 ini, tercatat sekitar 30 peserta, ditambah empat petarung profesional yang akan tampil.
Sementara itu, Ketua AOKI Kalimantan Tengah sekaligus Co-Promotor Tumbuk Hatampar, Leo Adano, memastikan seluruh pertandingan digelar dengan standar keamanan yang telah disetujui badan pengesah, yakni Asosiasi Olahraga Kombat Indonesia (AOKI).
“Kami menyiapkan semuanya secara proper, baik dari sisi keamanan maupun medis. Aturan pertandingan juga sudah disetujui AOKI, termasuk batasan dan toleransi serangan,” ujarnya.
Berita selengkapnya di www.tribunkalteng.com
Информация по комментариям в разработке