• SASANA WALAKA DAN SADHAKA
SASANA WALAKA DAN SADHAKA
#Sadhaka
#Wiku
#Silakrama
Dalam terminologi Hindu diwacanakan kata Walaka dan Sadhaka. Walaka, dalam kamus Jawa Kuna (Sansekerta) berarti masih muda atau belum tumbuh sepenuhnya. Sedangkan Sadhaka (sansekerta) artinya efektif, baik hasilnya, orang yang pandai atau ahli khususnya orang yang melaksanakan praktek religi (sadhana) dan berusaha mencapai kesempurnaan. Berdasarkan arti katanya, maka di antara dua kata tersebut terdapat perbedaan hak dan kewajiban, terlebih setelah seorang Walaka menjalankan proses dwijati (mengalami kelahiran untuk kedua kalinya), sehingga disebut Sadhaka atau Sulinggih atau Wiku atau Pandito, Ia yang memiliki kedudukan yang suci dan baik (terhormat).
Seorang Walaka beraktivitas serta hidup dalam masyarakat sesuai nama yang tertera dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), sekalipun mereka sehari-harinya ahli agama dan menggunakan keahliannya untuk melayani aktivitas keagamaan. Merekapun dipanggil dengan panggilan nama sesuai KTP. Pakaian yang dipakai sehari-hari maupun tatkala melayani masyarakat sama dengan pakaian yang dipakai masyarakat pada umumnya. Sekalipun pengetahuan agama seorang Walaka sudah sangat baik, jika mereka belum didwijati, maka mereka tidak diperbolehkan melakukan kewajiban Sadhaka. Jadi Sadhaka memiliki kedudukan suci dan lebih tinggi dari kedudukan seorang Walaka.
Ada beberapa perubahan yang harus dilakukan oleh seorang Walaka tatkala telah melaksanakan upacara dwijati, yaitu: 1) Amari Aran, kewajiban untuk mengubah nama sesuai KTP (saat masih Walaka) dengan nama pemberian Guru Nabe. Perubahan nama diikuti dengan perubahan penyebutan sebagai bentuk hormat; 2) Amari Wesa, yaitu kewajiban mengubah tentang cara berpakaian. Seorang Sadhaka tidak boleh lagi menggunakan pakaian celana pendek atau panjang, pakai jeans dan pakaian casual lainnya. Ada ketentuan khusus mengenai jenis pakaian Sadhaka atau sulinggih pria maupun sulinggih wanita; 3) Amari Wisaya, yaitu kewajiban untuk mengubah perilaku, karena seorang Sadhaka harus sudah melepaskan keterikatan terhadap keduniawiannya (bhiksuka asrama). Menurut kitab Silakrama, beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang Sadhaka, misalnya: 1) Sadhaka harus bakti kepada guru (ajaran guru bhakti); 2) Sadhaka harus selalu berpegang teguh pada kebenaran; 3) Sadhaka tidak boleh iri hati, menyihir, menjalankan ilmu hitam; 4) Ajaran Silakrama hendaknya betul-betul didalami karena dapat menghilangkan noda dan mengantar kepada pencapaian moksa; 5) seorang Sadhaka menggunakan bawa dan busana sesuai dengan petunjuk (guru) dan jangan sekali-kali melanggar aturan penggunaan bawa dan busana karena akan berakibat dosa dan dapat dihukum; 6) Sadhaka harus selalu dalam keadaan suci lahir dan batin; 7) Sadhaka harus memperhatikan perihal makanan; 8) Sadhaka harus memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam mendirikan dukuh, patapan atau pasraman; 9) Jauhkan diri dari segala perbuatan jelek, usahakan perbuatan baik untuk kerahayuan masyarakat; 10) harus selalu eling pada perilaku yang benar, ucapan yang benar dan pikiran yang tidak terkotori - berpegang teguh pada Sanghyang Trikaya Parisudha yang dapat mengantar pada kerahayuan; 11) Sadhaka harus berusaha pengendalian indria dan arahkan pada yang baik untuk membebaskan diri dari belenggu indria; 12) Sadhaka hendaknya tidak mengumbar keinginan dan jangan tenggelam dalam cinta; 13) seorang Sadhaka selalu ingat pada prilaku yang benar, ucapan yang benar, pikiran yang tidak ternodai oleh kekotoran, kesemuanya itu lahir dari kesucian Sanghyang Dharma; 14) seorang Sadhaka mengusahakan kerahayuan masyarakat seluruhnya, berpegang teguh pada kebenaran dan perilaku yang baik, itulah yang disebut tapa sesuai dengan Silakrama; dan 15) Sulinggih tidak hormat kepada orang banyak, oleh karena tidak tahu, itulah dosa (wiku) yang tersesat. Wiku demikian disebut "wikayanilibakenrat” (wiku yang mencurangi masyarakat). Beratnya aturan menjadi seorang Sadhaka sebagaimana dinyatakan dalam Silakrama, maka tidak heran Sadhaka dinyatakan sebagai tempat bersandar dan meminta petunjuk tentang kebenaran dan tuntunan praktek religi. Oleh karena itu, seorang Sadhaka hendaknya berpegang teguh pada Sastra, Sesana, dan Jnana. Artinya, bila dipahami betul oleh calon Sulinggih (diksita), Sulinggih, dan Nabe perihal aturan seperti tertuang dalam Silakrama Aguron-guron ini, betapa sulit utk menjalankan kehidupan sebagai Sadhaka dan memerlukan kesiapan fisik dan mental. Juga pengetahuan Sastra, Sesana, dan Jnana adalah hal yang utama yg harus senantiasa dipegang teguh oleh Sadhaka.
Bagaimana penjelasan selanjutnya, silahkan simak sesuluh Yudha Triguna melalui Yudha Triguna Channel pada Youtube, juga pada Dharma wacana agama Hindu.
Untuk mendapatkan video-video terbaru silahkan Subscribe
https://www.youtube.com/channel/UCB5R
Facebook:
www.facebook.com/yudhatriguna
Instagram:
/ yudhatrigunachannel
Website:
https://www.yudhatriguna.com
Информация по комментариям в разработке