Perang besar antar saudara, Barata-Yudha, merupakan perang yang menyedihkan, karena banjir darahnya telah menghancurkan segala sendi persaudaraan, kekeluargaan, kekuasaan, martabat, dan kehormatan. Segalanya hancur, dipunahkan oleh nafsu angkara murka. Bahkan, pemenangnya sekalipun, kehilangan banyak anggauta keluarga.
Cerita/lakon 'Karno Tandhing', merupakan salah satu episoda yang sangat terkenal dari Perang Barata-Yudha; tetapi juga sangat menyedihkan. Episode yang menceritakan perang tanding antar saudara (kakak dan adik), yaitu Adipati Karna dengan Radyan Harjuna, yang merupakan saudara satu ibu lain ayah. Pada saat itu, sejumlah panglima perang Kurawa telah gugur di medan perang. Antara lain, Resi Bisma, Radyan Jayadrata, Radyan Dursasana, Lesmana Mandrakumara, dan Resi Durna. Dendam dibalas dengan dendam. Perang semakin lama semakin tak terkendali. Darah dibalas dengan darah. Kematian dibalas dengan kematian. Perang membawa semakin banyak korban.....
Ki Narto Sabdho almarhum, dengan iringan Grup Kesenian Condong Raos, menampilkan cerita sedih ini dalam suatu pagelaran wayang kulit purwa yang sangat tradisional, apik, penuh dengan suasana sendu dan kesedihan. Sangat mengekspos suasana dan perasaan batin para pelakunya, sehingga berbagai adegannya terasa sangat dramatis.
Meskipun Ki Narto Sabdho telah lama meninggalkan kita semua. Tetapi rekamannya sampai sekarang tetap bisa didengar dan diputar di berbagai stasiun pemancar radio di seluruh Nusantara. Semua ini, menggambarkan betapa orang tetap merindukan dan mengenang sang maestro sebagai orang yang bisa membawa, mempengaruhi, dan mengguncang seluruh perasaan serta emosi pendengarnya di seluruh Nusantara. Drama dan dialognya, terbukti berhasil mempermainkan perasaan dan emosi pendengarnya. Pada masa Ki Narto Sabdho masih hidup, pagelaran wayangnya yang berlangsung semalam suntuk, selalu penuh sampai pagi. Orang-orang duduk terpaku semalam suntuk, bukan karena ada hiburan pelawak, campur-sari, 'tandhak' ledhek, ronggeng, tayub, cantiknya pesindhen, atau dangdutan seperti pagelaran wayang masa sekarang; tetapi karena segala yang ditampilkannya memang benar-benar ditampilkan tepat menghunjam langsung ke jantung hati dan perasaan para penonton atau pendengarnya. Caranya membawakan pagelaran, cerita, janturan, anta-wacana, serta dramanya; berpengaruh kepada perasaan dan emosi penontonnya. Karena itulah, maka pagelarannya selalu ditunggu orang. Bahkan sekarang, orang masih juga terpaku semalam suntuk, saat mendengarkan rekamannya.
Selamat menikmati rekaman dari masa lampau yang memikat ini.
Информация по комментариям в разработке