GIRI SETA SANG PERTAPA - satria kekasih dewa 151
"Rangga apa yang terjadi nak? Bagaimana perasaanmu sekarang? Apanya yang terasa sakit?", Dengan penuh kasih sayang wanita itu memeriksa tubuh anaknya dan tampak gugup ketika melihat bekas gigitan ular pada betis anak itu. "Kau. kau harus cepat kuperiksakan pada tabib dusun", seru Gemi yang panik. Mari kita dengarkan ..
Audio latar:
YouTube Audio Free
#sandiwararadio #satriakekasihdewa #mahkotamayangkara #tuturtinular #aryakamandanu #jambunada #sakawuni #ayuwandira #aryadwipangga #meishin #dewitanjungbiru #nagapuspa #sumpahpalapa #gajahmada #gajahenggon #adytiawarman #tribuanatunggadewi #majapahit #satriadewa #kerajaan
Gemi menyambut pulangnya Rangga Mandaka dengan terheran heran karena anak itu bergandeng tangan dengan seorang pertapa tua yang bertubuh gendut dan berwajah seperti anak kecil, kulitnya putih kemerahan dan segar.
"Rangga, apa yang terjadi dan siapakah kakek ini?" tanya janda itu dengan pandang mata khawatir. Apapun yang terjadi kepada anak itu, selalu mendatangkan perasaan khawatir di hatinya. la selalu gelisah nemikirkan nasib anak
itu, takut kalau kalau ada yang tahu bahwa Rangga Mandaka adalah putera Arya Dwipangga dan Sekar Kirana yang sepertinya dimusuhin oleh para pendekar berwatak jahat!
“Sang Hyang Widi, harap nyonya tidak khawatir. Putera nyonya baik baik saja dan karena aku tertarik sekali melihat pribadinya, maka aku ingin sekali bertemu dengan nyonya yang demikian pandainya mendidik puteranya. Sungguh
aku merasa kagum dan hormat kepada nyonya karena nyonya telah mendidik seorang putera dengan demikian baiknya.", ucap pertapa tua itu santui.
Gemi tersenyum juga wajahnya berubah kemerahan karena tentu saja ia merasa bangga menerima pujian dari seorang pertapa tua. Siapa tahu, bila kedua orang tua anak itu benar-benar telah binasa, dia berharap arwah ayah ibu kandung Rangga Mandaka akan dapat mendengarkan suara
seorang pendeta tua ini bahwa ia telah benarbenar setia dan patuh melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya, yaitu merawat dan mendidik Rangga Mandaka dengan penuh kasih sayang dan kesungguhan hati.
"Ibu," kata Rangga Mandaka dengan hati tegang karena
mendapat kesempatan menceritakan peristiwa aneh tadi, "Tadi aku bertemu dua orang manusia aneh dan aku hampir mati karena pertemuan itu. Juga kakiku digigit ular senduk kepala putih yang sangat beracun. akan tetapi aku tidak mati. Eyang tua ini yang telah menyelamatkan nyawaku”, ujar Rangga Mandaka kepada ibunya.
Wajah wanita itu seketika menjadi pucat, matanya terbelalak dan dengan menahan jeritnya, ia merangkul Rangga Mandaka .
"Rangga apa yang terjadi nak? Bagaimana perasaanmu sekarang? Apanya yang terasa sakit?", Dengan penuh kasih sayang wanita itu memeriksa tubuh anaknya dan tampak gugup ketika melihat bekas gigitan ular pada betis anak itu. "Kau. kau harus cepat kuperiksakan pada tabib dusun", seru Gemi yang panik.
"Sang Hyang Widi harap nyonya tidak khawatir. Rangga Mandaka telah terhindar dari bahaya maut, bukan karena aku, melainkan karena memang dia belum waktunya
meninggalkan dunia ini.", sahut pertapa tua itu tersenyum menenangkan ibu dari anak itu.
"Benar, ibu. Aku tidak apa apa, ibu jangan khawatir.", tambah Rangga.
"Ah, kalau begitu, kami berhutang budi kepada pertapa tua," dan wanita itu cepat menjatuhkan diri berlutut di depan pertapa tua itu. Pertapa tua itu tergopoh menyuruhnya bangkit dan diam diam dia semakin heran. Wanita inipun bukan seperti wanita dusun, melainkan seorang yang lemah lembut dan mengerti tata susila seperti orang orang berpendidikan.
Setelah disuruh bangun, Gemi bangkit berdiri lalu dengan sikap hormat sekali ia mempersilakan pertapa itu untuk
duduk di ruangan dalam. la segera sibuk menyuruh pembantunya untuk mempersiapkan makanan yang tidak mengandung daging, juga membuatkan minuman dari sari buah untuk menjamu pertapa itu makan minum. Pertapa tua itu memperkenalkan diri sebagai Giri Seta kepada Gemi dan dia tidak menolak jamuan makan yang diadakan oleh Gemi untuk menghormatInya. Dan hidangan makan minum itu menambah rasa kagumnya kepada wanita itu karena temyata nyonya rumah itu menjaga benar agar tidak ada daging dalam semua hidangan. Seorang wanita yang pandai membawa diri dan cermat. Pantas saja memiliki seorang putera seperti Rangga Mandaka .
Информация по комментариям в разработке