Lusi duduk di depan rumah kecilnya yang hampir roboh, memandangi sawah yang kering terbakar matahari. Umurnya baru 23 tahun, tapi wajahnya sering terlihat lebih tua karena kelelahan. Hidup miskin membuatnya jarang punya waktu untuk bersenang-senang. Dari kecil ia sudah terbiasa bekerja keras: membantu ibunya menanam padi, mencari kayu bakar di hutan, atau mencuci pakaian orang lain demi beberapa keping uang.
Rumah Lusi tidak lebih dari gubuk reyot berdinding bambu, dengan atap rumbia yang bocor bila hujan turun. Lantainya tanah keras yang kadang becek bila air merembes dari luar. Walaupun sederhana, bagi Lusi rumah itu tetap satu-satunya tempat untuk berteduh. Sayangnya, suasana di dalam rumah tidak pernah benar-benar damai. Ayahnya dikenal keras kepala, mudah marah, dan sering mengomel bila hasil kerja tidak sesuai harapannya. Sementara ibunya, meski sebenarnya sayang, lebih banyak tunduk pada kehendak suami.
Sejak kecil, Lusi belajar untuk tidak banyak bicara. Kalau ia melawan, ayahnya bisa berteriak atau bahkan memukul. Kalau ia diam, paling hanya dimarahi. Jadi Lusi lebih sering memilih menahan perasaan dalam hati.
Hari itu, matahari masih tinggi ketika ayahnya pulang dari sawah. Keringat membasahi tubuh kurusnya, wajahnya kusut penuh amarah.
“Lusi!” teriaknya. “Kenapa air minum belum kau isi? Aku sudah haus dari tadi!”
Lusi bergegas mengambil kendi tanah liat dan menuangkan air ke dalam gelas. Tangannya gemetar, takut dimarahi lagi.
“Ayah, tadi aku baru saja mencuci pakaian Bu Lurah, makanya—”
“Alasan! Selalu alasan!” potong ayahnya sambil menggebrak meja bambu hingga berguncang. “Kau pikir dengan kerja seperti itu bisa bikin kita kaya? Tidak! Utang kita tetap menumpuk!”
Lusi menunduk, air matanya hampir jatuh. Ia tidak berani membalas. Ibunya keluar dari dapur dengan wajah lelah, mencoba menenangkan.
“Sudahlah, Yah. Jangan marahi Lusi terus. Dia sudah berusaha.”
Ayahnya mendengus, lalu duduk sambil minum. Namun kata-katanya tadi sudah menusuk hati Lusi.
Sejak beberapa tahun lalu, keluarganya memang punya utang besar pada seorang juragan kaya di desa, Pak Wiryo. Juragan itu punya banyak sawah, rumah megah, dan ternak melimpah. Orang-orang desa sering menganggapnya dermawan karena suka memberi pinjaman. Tapi di balik itu, banyak keluarga akhirnya terjebak, termasuk keluarga Lusi.
Ayah Lusi sudah lama tidak mampu melunasi utang. Bunga pinjaman terus bertambah. Sampai akhirnya juragan itu memberi syarat: bila tidak bisa melunasi, maka Lusi harus dinikahkan dengan anak laki-lakinya, Surya.
Kabar itu membuat Lusi hancur. Surya terkenal malas, sombong, dan suka main perempuan. Hampir semua orang di desa tahu perangainya buruk. Tapi karena ia anak juragan kaya, tidak ada yang berani menentangnya.
Malam itu, setelah semua pekerjaan selesai, ibu mendekati Lusi yang sedang duduk termenung di belakang rumah.
“Lus… dengar kata ibu ya. Kalau kau menikah dengan Surya, hidupmu akan lebih baik. Kau tidak akan kekurangan lagi. Kau bisa tinggal di rumah besar, tidak perlu kerja keras. Ibu tidak ingin kau menderita terus seperti ini.”
Semoga cerita ini menghibur , dukung trus channel ini agar trus berkembang dan menyajikan kisah kisah menarik,haru,sedih,bahagia,inspiratif,dan lainnya.
#kisahnyata
#kisahinspiratif
#ceritainspirasikehidupan
#ceritainspirasi
#harimau
#harimaubenggala
#harimaujawa
#harimaumalaya
#harimauputih
#harimausumatera
#harimauselatan
#harimauutara
#ceritainspirasi
Информация по комментариям в разработке