Letda Edi Sudrajat
Ini sekelumit cerita tentang Letda Edi Sudrajat yang kelak dicatat sejarah dalam sejarah TNI sebagai Kepala Staf Angkatan Darat merangkap Menhankam dan Panglima ABRI dalam waktu bersamaan. Cerita ini dikutip dari sebuah artikel lama tentang Edi Sudrajat ketika masih menempuh pendidikan di Akademi Militer Nasional (AMN) atau sekarang Akademi Militer. Edi adalah lulusan AMN tahun 1960.
Dikisahkan dalam artikel tersebut, ketika itu pada tahun 1960, kalangan AMN sudah mengira bahwa tanda kehormatan Garuda Yaksa untuk perwira lulusan terbaik AMN Magelang yang akan diserahkan oleh KSAD akan diberikan kepada Edi. Garuda Yaksa atau sekarang Adhi Makayasa adalah tanda penghargaan bagi lulusan terbaik Akademi Militer.
Kenapa Edi begitu dijagokan? Ternyata, selama menempuh pendidikan di AMN, sudah nampak kecakapannya sebagai perwira pilihan. Dia juga banyak jasanya kepada AMN. Terutama kepada Korps Taruna.
Karena kecakapan dan kepribadiannya, Edi yang dipercaya sebagai Komandan Resimen Korps Taruna AMN.
Letda Edi Sudradjat dilahirkan di Jambi pada tanggal 22 April tahun 1938. Dia datang dari suatu keluarga besar. Ayahnya bernama Momon Wirakusumah. Edi adalah anak ketujuh dari 14 bersaudara.
Setelah dia tamat dari sekolah menengah atas bagian B di Bandung, terdorong oleh rasa tanggung jawabnya kepada negara, Edi mendaftar sebagai calon Taruna AMN yang pada saat itu untuk pertama kalinya dibuka kembali di Magelang.
Bersama dengan calon taruna lain yang jumlahnya kurang lebih 60 orang, Edi diterima sebagai Taruna AMN.
Waktu itu AMN belum berisi apa-apa. Edi lah yang untuk pertama kalinya diberi kepercayaan membentuk dan membimbing Korps Taruna. Edi juga dengan suara penuh terpilih sebagai Ketua Senat Corps Taruna Dengan tekun dan segala kecakapannya, Edi bersama stafnya membentuk tradisi-tradisi Korps Taruna AMN.
Dia yang membimbing dan melancarkan pekerjaan korps yang masih muda itu. Bukan pekerjaan yang mudah, tapi Edi menunjukkan kapasitasnya sebagai seorang pemimpin.
Selama tiga tahun mengenyam pendidikan Di AMN, Edi selalu unggul secara akademis dan jasmani. Tiga tahun, dia tetap dipercaya sebagai Ketua Senat Korps Taruna. Sampai kemudian, jabatan itu diserahkan kepada Ketua Senat Korps Taruna yang baru yakni , Sermatar Gamber Soegianto.
Edi Sudrajat tidak hanya cakap sebagai pemimpin organisasi. Dia juga unggul dalam bidang pengetahuan dan pelajaran di akademi. Sampai naik ke tingkat III, Edi selalu nomor satu dalam soal nilai intelektual dan mental. Baru dalam ujian perwira agak tergeser ke.bawah oleh Letda Atmanto dan menduduki peringkat kedua. Edi dan Atmanto memang bersaing selama pendidikan di AMN.
Bukti Edi adalah perwira cerdas, dibuktikannya dari ijasah SMA-nya. Untuk pendidikan jasmani, dia memperoleh nilai 9. Nilai akademis pelajaran lainnya juga terbaik.
Dengan nilai 9 untuk pendidikan jasmani, tidak heran jika dia secara fisik sangat kuat. Ketika mengikuti pendidikan di AMN, banyak cabang olahraga ia geluti.
Edi adalah penjaga gawang andalan tim sepakbola AMN. Pun, di cabang olahraga lainnya, Edi selalu menjadi pemain utama.
Edi muda, dikenal sebagai taruna dengan tinggi badan cukup tinggi. Tampan. Edi tidak banyak bicara. Dia dikenal sebagai sosok pendiam. Tapi, jangan tanya soal ketegasannya. Dia adalah orang teguh memegang prinsip. Tegas dan lugas. Tidak banyak bicara. Edi juga dikenal sebagai sosok yang sangat teliti dalam pekerjaannya.
Setelah dinyatakan lulus dari AMN, Edi bersama dengan 12 perwira remaja lulusan AMN angkatan 1960, dapat kesempatan mengikuti pendidikan di Sussarbangif. Tidak disangka, mantan penjaga gawang tim AMN yang pendiam ini karirnya meroket. Malang melintang di Korps Baret Merah, Edi menapaki karir dengan cemerlang. Puncaknya adalah saat Edi dipercaya memegang tiga jabatan strategis yakni sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, Menhankam dan Panglima ABRI dalam waktu bersamaan, meski hanya dalam hitungan beberapa bulan saja.
Информация по комментариям в разработке