• TATTWA SANGHYANG MAHA JNANA
#TattwaMahaJnana
#PengetahuanYangMembebaskan
#Brahmawidya
Agama Hindu di Nusantara lebih banyak membaca dan mempedomani teks-teks yang dihasilkan oleh para Kawi di antara abad VIII hingga XII. Ada banyak teks yang kemudian digunakan acuan laku terutama oleh para Wiku dan Walaka dalam melaksanakan tuntunan kepada umatnya. Di antara sekian banyak teks yang ada, salah satunya yang akan dibahas pada konten ini adalah teks atau Tattwa Sanghyang Maha Jnana, lalu apa itu Tattwa Sanghyang Majnana? Tattwa Sanghyang Mahajñana adalah salah satu naskah śiwatattwa yang mengandung ajaran brahmawidyā [ketuhanan] yang bersifat Śiwaistik. Tattwa Sanghyang Mahajnana disajikan dalam bentuk dialog antara Śiwa sebagai Bhaţāra Guru dengan Sang Kumāra sebagai sişya [murid]. Bhaţāra Guru mengajarkan hakekat tertinggi tentang Bhaţāra Śiwa dan pengetahuan yang membebaskan. Lontar Tattwa Sanghyang Jnana terdiri dari 87 śloka dengan menggunakan bahasa Sanskerta dalam bentuk śloka [pusi] dan diterjemahkan atau dijelaskan dalam bahasa Jawa Kuna dalam bentuk gañcaran [prosa] dengan gaya bahasa metafora. Bhaţāra Guru mengungkap ajaran brahmawidyā, kesadaran siwa, dan kesadaran atma yang disebut dengan mahājñana [pengetahuan agung] yang meliputi rahasia hidup dan kehidupan, serta tujuan dari hidup itu sendiri tidak lain untuk mencapai pembebasan [kalepasan]. Lalu, siapa saja yang boleh membaca Tattwa Sanghyang Mahajnana? Siapapun boleh membaca Tattwa Sanghyang Mahājñana, namun untuk memahami isi ajaran dan bisa mengimpelementasikan ajaran kalepasan tentu harus melalui seorang guru, karena praktik kalepasan harus melalui bimbingan dan tuntunan seorang guru seperti diuraikan dalam nitisasastra V.1 “patilaring atmeng tanu pagurwaken” hanya tentang lepasnya àtman dari tubuh ini kita harus berguru. Dalam Tattwa Sanghyang Mahājñana ajaran kalepasan dilaksankaan melalui aguron-guron oleh Sang Kumara kepada Bhaţàra Guru. Ajaran ini diimplementasikan bagi orang yang memutuskan untuk hidup di jalan brahman atau seorang sulinggih untuk mecapai brahman, maka harus melalui proses aguron-guron selanjutnya baru dilaksanakan dikşa. Dikşa merupakan tangga untuk mencapai Tuhan sesuai Yajur Weda XIX. 30 sebagai berikut: “wratena dikşa apnoti, dikşaya apnoti dakşinam, dakşinam śraddham apnoti, sradhaya satyam apyāte” arti bebasnya: “Dengan melaksanakan brata seseorang mencapai dikṣa, dengan dikṣa seseorang memperoleh daksina, dengan daksina seseorang mencapai úraddha, melalui úraddha seseorang menyadari Satya atau Tuhan. Dengan demikian untuk mencapai Tuhan harus melalui tangga dikûa terlebih dahulu melalui proses aguron-guron. Apa saja yang diajarkan dalam Tattwa Sanghyang Mahājñana? Bhaţāra Guru menjelaskan beberapa pertanyaan dari Kumara, yaitu mengenai konsep tidur dan jaga, konsep puruûa dan pradhana, konsep Tri Murti, Triakşara, Sapta akasa, dan yoga singkat mengenai Omkara sebagai peta sekaligus jalan kalepasan (mulih ngantawisesa). Disebutkan dalam Tattwa Sanghyang Mahājñana bahwa Oṁkāra sebagai perahu yang menyebrangkan di lautan samsara, Oṁkāra juga sebagai garuda yang membebaskan dari ikatan (ular) duniawi dan Oṁkāra sebagai api yang melebur segala mala, klesa dan papa, inilah yang diimplementasikan sebagai dagdikarana oleh sulinggih dalam menjaga kesuciannya sebagai laku kesulinggihan. Melalui argapatra menjadikan sulinggih terjaga kesuciannya dan dapat dikatakan selesai melakukan “amratistaken ańga sarira muwah anuńgalaken ikań argha kalawan ańga sariranya sang sadhaka” yakni menyucikan diri serta menunggalkan argha dengan diri sulinggih. Sehingga menyatu alam makro dengan mikro [panuńgaling bhuwana aguń kalawan bhuwana alit]. Melalui argha patra, sulinggih dapat menciptakan ātmalińga dan śiwalińga dalam diri sulinggih. Sebagaimana dijelaskan dalam Tattwa Sanghyang Maha Jnana.22 [ātmani swayam utpannaṁ swalińgam iti codyate, swalińgam pūrwam utpannam paralińgam procyate budhaiḥ]. Àtma [diri sejati] merupakan swalińga [lingga internal], mengetahui misteri swalińga atau ātma lińga sama dengan mengetahui segala keberadaan. Ketahuilah terlebih dahulu tentang swalingga, maka pengetahuan tentang bahya lingga atau para lingga akan diperoleh dengan sendirinya. Inilah yoga Śiwa sebagai upaya menyatukan atma lingga dengan para lingga untuk mencapai kalepasan.
Bagaimana penjelasan selanjutnya, silahkan simak sesuluh Yudha Triguna melalui Yudha Triguna Channel pada Youtube, juga pada Dharma wacana agama Hindu.
Untuk mendapatkan video-video terbaru silahkan Subscribe
https://www.youtube.com/channel/UCB5R
Facebook: www.facebook.com/yudhatriguna
Instagram: / yudhatrigunachannel
Website: https://www.yudhatriguna.com
Информация по комментариям в разработке