Hartono adalah seorang kakek tua berusia tujuh puluh tahun. Rambutnya sudah memutih hampir seluruhnya, tubuhnya kurus kering, dan wajahnya penuh keriput. Ia tinggal seorang diri di sebuah gubuk reyot di pinggir desa. Gubuk itu terbuat dari bambu yang sudah lapuk, atapnya dari daun rumbia yang banyak bocor jika hujan turun. Setiap kali malam datang, angin kencang membuat gubuk itu berderit seakan mau roboh. Hartono sering terbangun karena suara tikus yang berlari di sudut ruangan.
Setiap pagi, Hartono bangun lebih cepat dari orang lain. Dengan tubuh yang sudah renta, ia memaksakan diri berjalan ke hutan kecil di dekat desa untuk mencari kayu bakar. Kayu itu ia ikat dengan tali seadanya, lalu dipikul di pundak yang sudah bongkok. Kadang ia berhasil menjualnya di pasar dengan harga seribu atau dua ribu rupiah, kadang malah tidak laku sama sekali. Kalau sudah begitu, Hartono pulang dengan tangan kosong dan perut yang tetap lapar.
Tetangga-tetangganya jarang peduli. Malah sering terdengar suara ejekan ketika ia lewat.
“Eh, lihat tuh si Hartono! Udah tua masih aja kerja nguli. Nggak capek apa?” kata seorang pemuda sambil tertawa.
“Capek juga percuma, hasilnya nggak seberapa. Paling nanti juga minta-minta lagi,” sahut yang lain.
Hartono hanya diam. Ia tidak pernah membalas. Baginya, melawan hanya akan menambah sakit hati.
Di pasar pun Hartono sering menjadi bahan hinaan. Para pedagang memandangnya rendah. Ada yang tidak mau menerima kayu bakar yang ia bawa dengan alasan jelek, padahal sebenarnya mereka hanya malas berurusan dengan orang miskin sepertinya.
“Pak tua, jangan taruh barangmu dekat lapakku. Nanti bawa sial, nggak ada yang beli dagangan saya,” ujar seorang pedagang sayur.
Hartono menunduk. Ia memindahkan kayu bakarnya ke tempat lain, walau hatinya terasa perih.
Meski sering diperlakukan tidak adil, Hartono tetap berusaha jujur. Ia tidak pernah mengambil barang orang lain, apalagi mencuri. Namun anehnya, justru ia sering dituduh macam-macam. Kalau ada sandal hilang di masjid, ada saja yang berkata, “Jangan-jangan Hartono yang ambil. Dia kan miskin.” Padahal Hartono bahkan tidak pernah berani menyentuh barang yang bukan miliknya.
Kehidupan Hartono benar-benar sepi. Ia tidak punya istri maupun anak. Dulu, ia pernah menikah, tapi istrinya meninggal lebih dulu ketika mereka masih muda. Hartono dan istrinya pernah memiliki seorang anak, namun anak itu sakit-sakitan sejak kecil dan akhirnya meninggal saat berusia tujuh tahun. Sejak saat itu, Hartono hidup sendirian. Tidak ada keluarga yang menemaninya. Semua beban ia tanggung sendiri.
Kadang, ketika malam tiba, Hartono duduk di depan gubuknya menatap langit gelap. Ia teringat pada istrinya, teringat pada anaknya. Air matanya mengalir tanpa ia sadari. Ia sering bertanya dalam hati, “Kenapa nasibku begini? Kenapa hidupku penuh kesusahan sejak dulu sampai sekarang?”
Rasa lapar sudah menjadi teman sehari-hari. Jika ada sisa nasi basi dari tetangga yang dibuang, Hartono kadang mengambilnya. Ia mencuci nasi itu lalu memakannya dengan garam. Pernah juga ia hanya minum air putih sebelum tidur karena tidak ada apa pun yang bisa dimakan. Tubuh tuanya semakin kurus, tulang-tulangnya menonjol.
Namun meskipun hidupnya sangat susah, Hartono tidak pernah berhenti bekerja. Besok pagi ia tetap pergi mencari kayu, tetap mencoba menjadi kuli angkut di pasar meski bayarannya sangat kecil. Ia tidak mau hanya duduk diam menunggu mati.
Semoga cerita ini menghibur , dukung trus channel ini agar trus berkembang dan menyajikan kisah kisah menarik,haru,sedih,bahagia,inspiratif,dan lainnya.
#kisahnyata
#kisahinspiratif
#ceritainspirasikehidupan
#ceritainspirasi
#harimau
#harimaubenggala
#harimaujawa
#harimaumalaya
#harimauputih
#harimausumatera
#harimauselatan
#harimauutara
#ceritainspirasi
Информация по комментариям в разработке