NENEK CABUL - satria kekasih dewa 138
Muka Mahisa Darma jadi berobah merah, ia malu sekali karena menyadari bahwa kakek tua Prawana ini hanya bergurau untuk mempermainkan dirinya.
“Jika memang aku tidak dipengaruhi oleh obat pelemas ototnya, tentu aku akan bisa memberikan perlawanan, Paman!”, balas Mahisa Darma yakin.
“Hemm, enak saja kau bicara.kukira walaupun tanpa obat itu, jika aku datang terlambat, kau telah menyambar dan memeluk tubuh montok itu!”, sahut Prawana mengawasi Mahisa Darma lekat-lekat.
Mahisa Darma. tertawa dengan muka berobah merah. Mari kita dengarkan ..
Audio latar:
YouTube Audio Free
#sandiwararadio #satriakekasihdewa #mahkotamayangkara #tuturtinular #aryakamandanu #jambunada #sakawuni #ayuwandira #aryadwipangga #meishin #dewitanjungbiru #nagapuspa #sumpahpalapa #gajahmada #gajahenggon #adytiawarman #tribuanatunggadewi #majapahit #satriakekasihdewa #kerajaan
Prawana seperti berpikir sejenak, namun akhirnya ia sahut juga “Apa yang kuketahui, ilmu itu memang sesat, tetapi jika gadis yang melatihnya berhasil memperoleh sari keperjakaan dari pemuda-pemuda yang memang masih benar-benar bersih, tentu ilmu itu tidak akan membawa kecelakaan apa-apa padanya, hanya saja justru hal itu yang ditakuti, bisa membuat mereka panjang umur dan mati lama sekali, jika memang mereka hidup senang didunia, tentu soal itu tidak berarti apa-apa!.namun jika mereka merasa tersiksa hidup didunia, bukankah hal itu malah membuat mereka bersengsara!”.
Mahisa Darma tertawa.
“Tetapi Paman, justru hal itu tidak mungkin. Seperti gadis itu, dia hanya berhasil melatih separuh dari ilmu Rembulan Timur Mentari Barat, namun ia berhasil mempertahankan kecantikan tubuh dan wajahnya, sehingga umumnya gadis cantik disenangi pria. Tidak mungkin mereka akan hidup sengsara!”, ucap Mahisa Darma takjub.
“Nah, kau bicara begitu, baiklah aku akan menjelaskan !”, kata Prawana.
“Memang gadis yang meyakinkan ilmu Rembulan Timur Mentari Barat yang akan-awet muda, lalu jika mereka menikah, dan suami mereka menjadi tua renta, bukankah mereka jadi tersiksa karenanya!”, ucap Prawana santai.
Mahisa Darma tertawa lagi.
“Kukira gadis sesat nan binal seperti itu tidak akan menikah selamanya, ia tentu akan mudah sekali menyerahkan dirinya pada para pemuda.mana mau mereka membiarkan diri mereka jatuh ketangan seorang kakek-kakek ?”, kata Mahisa Darma yakin.
Mendengar perkataan Mahisa Darma, muka Prawana jadi masam.
“Kau telah-menyindirku!”, katanya tidak senang.
Melihat keadaan, Prawana, Mahisa Darma jadi kaget, ia cepat-cepat bertanya, “Menyindir Paman ?”, tanyanya kemudian.
“Ya !”, mengangguk Prawana.
“Tetapi Paman.aku tidak merasa menyindir!”, kata Mahisa Darma yang jadi bingung dan mengawasi tidak mengerti pada jago tua itu.
“Heran , bukankah tadi kau mengatakan gadis-gadis cantik yang melatih ilmu Rembulan Timur Mentari Barat tidak bersedia menyerahkan dirinya pada kakek-kakek ? Bukankah aku ini kakek-kakek ?”, Dan setelah berkata begitu, Prawana tertawa bergelak-gelak.
Sedangkan Mahisa Darma jadi ikut tertawa.
la baru tahu bahwa Prawanahanya bergurau saja.
Saat itu, Prawana telah berhenti tertawa dan bertanya dengan sungguh-sungguh, “Bagaimana perasaanmu menyaksikan kecantikan dan tubuh yang padat dari, gadis cabul nan binal dan montok itu ?”.
Muka Mahisa Darma jadi berobah merah, ia malu sekali karena menyadari bahwa kakek tua Prawana ini hanya bergurau untuk mempermainkan dirinya.
“Jika memang aku tidak dipengaruhi oleh obat pelemas ototnya, tentu aku akan bisa memberikan perlawanan, Paman!”, balas Mahisa Darma yakin.
“Hemm, enak saja kau bicara.kukira walaupun tanpa obat itu, jika aku datang terlambat, kau telah menyambar dan memeluk tubuh montok itu!”, sahut Prawana mengawasi Mahisa Darma lekat-lekat.
Mahisa Darma. tertawa dengan muka berobah merah.
“Bukankah dia seorang nenek-nenek bertubuh gadis ?”,
tanya Mahisa Darma seenaknya.
“Sekarang kau bisa berkata begitu, tetapi jika dibiarkan terus berdua, tentu kau yang lebih binal!”, kata Prawana senyum-senyum.
Mahisa Darma terpojokkan dan tidak bisa memberikan jawaban lagi, hanya mukanya saja yang berobah merah dan terasa panas sekali.
Tetapi Mahisa Darma kemudian bertanya “Paman, apakah selama aku tertotok tidur, perempuan cabul itu tidak datang lagi ?”.
Prawana mengangguk dua kali, “Datang !”, sahutnya.
“Datang ?”, tanya Mahisa Darma sambil mementang lebar-lebar sepasang matanya.
“Ya, dua kali dia datang kemari!”, kata Prawana.
“Lalu ?”, tanya Mahisa Darma penasaran.
“Ia minta agar aku mau menyerahkan kau kepadanya, dan ia akan pergi dari tempat ini tidak akan menggangguku lagi!”, jelas Prawana santai.
“Oh!”, seru Mahisa Darma.
Информация по комментариям в разработке