• Banten Dewa Dewi
#BantenArdhanariswara
#ApaMaknaBantenDewaDewi
#BantenYangMengandungAspekMaskulinDanFeminim
Dalam konten Yudha Triguna Channel sebelumnya telah dibahas tentang konsep Ardhanareswara dengan kontributor Ida Bagus Putu Suamba yang menyatakan bahwa konsep Ardhanareswara berkaitan dengan Tuhan dalam manifestasi sebagai aspek maskulin dan feminim. Konsep Ardhanareswara sebagai Bhatara Siwa yang mengandung dimensi maskulin dan femenim kemudian diwujudkan dalam berbgai bentuk simbolis, salah satu di antara disebut dengan banten Ardhanareswara atau juga disebut dengan banten Dewa-Dewi. Menurut Ida Bagus Putu Suamba sejumlah kitab purana memberikan uraian mengenai konsep Ardha Nareswari, misalnya Lingga Purana, Bayu Purana, Wisnu Purana, Skanda Purana,[10] Kurma Purana,[41] Markandeya Purana, Wisnudharmotara Purana, Naradiya Purana. Topik ini juga disinggung di dalam teks-teks Upanisad: Brihadaranyaka Upanisad dan Swetaswatara Upanisad. Di dalam teks-teks Sawaistik seperti yang ada di India Selatan juga ada disingggung seperti dalam Angsumadbhedagama, Kamikagama, Supredagama, dan Karanagama. Di India konsep pengarcaan Ardanariswara berkembang pada zaman Kusyana (30–375 M), dan disempurnakan pada zaman Gupta (320-600 M). Kitab ditulis pada abad ke-16 yang membahas ikonografi, Silparatna, serta naskah-naskah Matsya Purana dan Āgama seperti Angsumadbhedagama, Kamikagama, Supredagama, dan Karanagama – dalam tradisi Saiwa Siddhanta di India Selatan – memaparkan ikonografi Ardanariswara. Belahan kanan yang lebih unggul lazimnya adalah Dewa Siwa dan belahan kiri adalah Dewi Parwati; dalam citra-citra yang langka dari mazhab Kasakten, belahan kanan yang dominan dari Ardanariswara digambarkan sebagai sosok perempuan.[24] Ikonografi Ardanariswara biasanya digambarkan berlengan empat, tiga, atau dua, tetapi jarang berlengan delapan. Jika digambarkan berlengan tiga, belahan Parwati hanya memiliki satu lengan, menyiratkan peranan yang lebih rendah dalam ikon itu. Dalam tradisi Siwa, salah satu wujud Realitas Tertinggi disebut Siwa, adalah Ardhanareswara. Ardhanareswari adalah wujud kemanunggalan Dewa Siwa dan Dewi Parwati (disebut pula Mahadewi, Sakti, dan Uma). Ardanariswara digambarkan sebagai insan androgini, bertubuh separuh laki-laki dan separuh perempuan yang tidak lazim di dalam kehidupan manusia. Lazimnya tubuh sebelah kanan Ardanariswara digambarkan berwujud laki-laki, yakni wujud Dewa Siwa, lengkap dengan berbagai laksananya; yang di sebelah kiri wujud Parwati. Dalam tradisi Bali, misalnya pada kramaning sembah ketiga disebutkan: “Om Nama Dewa Adhisthanaya, Sarva Wyapi Vai Siwaya, Padmasana Ekapratisthaya, Ardhanareswaryai Namo’namah” Ya Tuhan, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat yang tinggi, kepada Siwa yang sesungguhnyalah berada di mana-mana, kepada Dewa yang bersemayam pada stana bunga teratai sebagai satu tempat, kepada Ardhanaresvarì, hamba memujaMu. Dalam tradisi Bali banten Dewa-Dewi atau kekuatan sangkan paran dibuat berdasarkan unsur dan susunan sebagai berikut. [1] Tatempeh alas paling bawah yang diisi beras satu ceeng atau kurang lebih satu kilo. [2] Tatakan taleden 40cm masrikona. [3] Kain Putih dan kuning. [4] Klakat sudamala. [5] Jinah bolong satakan. [6] Daun pisang emas berbentuk padma. [7] Daun tunjung putih berbentuk padma. [8] Daun medori berbentuk padma. [9] Daun ancak berbentuk padma. [10] Daun bingin 7 lipat (3 lembar) dilipat lanang dan istri, diselanya diisi jinah bolong 1. [11] Tipat lingga memakai sri kakili (sebum ke atas/ predana, sebun ke bawah purusa). [12] Bunga tunjung putih 1. [13] Bunga tunjung merah 1. [14] Orti pulu (uang kepeng, kunyit, kapas). [15] Tatakan menyerupai pisang-matah atau pisang lebeng 2 buah wastra putih bebed kuning. [16] Sampyan kapit udang 2 buah. [17] Raka-raka atau di dalam wakul. [18] Tumpeng putih 1 kanan, Tumpeng Kuning 1 kiri di dalam wakul. [19] Beras, benang, uang kepeng bolong-tatukon di dalam wakul. [20] Kojong rakat berisi uyah sambel, timun, tuwung, gerang taluh di taruh dalam wakul. [21] Kwangi uang kepeng 11 sebanyak 2 buah sebagai wajahnya. [22] Raka-raka dan berisi tape, pelas, tebu di luar bagian belakang masapyan kapit udang. [23] Ceper alit masrikone depan, berisi penek putih 1 kanan, kuning 1 kiri, celemik berisi rerasmen, masampyan plaus. [24] Rantasan, pasucian dan canang sari . [25]
Bungkak gading 1 untuk memohon Amerta Sunia/ Amerta para dewa), tunas dan percikan setelah berakhir upacara.
Bagaimana penjelasan selanjutnya, silahkan simak sesuluh Yudha Triguna melalui Yudha Triguna Channel pada Youtube, juga pada Dharma wacana agama Hindu.
Untuk mendapatkan video-video terbaru silahkan Subscribe
https://www.youtube.com/channel/UCB5R
Facebook: www.facebook.com/yudhatriguna
Instagram: / yudhatrigunachannel
Информация по комментариям в разработке