• Panjor Galungan
Penjor Galungan
#ApaBedaPenjorSakralDenganPenjorHiasan
#PenjorGalungan:ApaSajaUnsur-Unsurnya
#PenjorUpacaraKeagamaan
Penjor kerap terlihat di pinggir jalan sebagai penanda bahwa sedang ada suatu acara di wilayah itu. Bagi orang awam, penjor satu dengan lainnya secara sepintas kadang dianggap sama, padahal dapat saja penjor dibuat untuk tujuan berbeda. Oleh karena itu, secara umum penjor dapat dibedakan atas dua kategori besar yaitu penjor yang dibuat untuk kepentingan upacara keagamaan dan penjor hiasan. Yang dibahas pada konten ini adalah penjor untuk upacara agama dan atau penjor Galungan. Sebagaimana diketahui, umat Hindu di Bali dan yang juga dilakukan oleh umat Hindu di luar Bali dengan komunitas besar dan terpusat setiap 210 hari berdasarkan kalender Bali. Saat menyongsong, merayakan, dan beberapa hari setelahnya umat memasang penjor di depan tempat tinggal mereka. Penjor dibuat dari sebatang bambu melengkung sebagai nyasa [sarana] yang melambangkan simbol gunung sebagai stana Tuhan sekaligus sebagai simbol bhakti terhadap Tuhan atas segala anugrah dalam bentuk kemakmuran dan kesejahteraan yang diberikan. Oleh karena itu penjor upacara berbeda bentuk dan variasinya dengan penjor hiasan. Penjor hiasan yang dipentingkan adalah kreasi dan ekspresifnya, dengan meminimalkan unsur-unsur yang seharusnya dilengkapi. Karena lebih mementingkan kreasi, maka penjor hiasan acapkali terlihat lebih wah dan tentu biayanya jauh lebih mahal. Sementara penjor upacara dan hari raya Galungan sebagaimana tertera dalam lontar Tutur Dewi Tapini terbuat dari bahan-bahan yang sangat berarti dan bermakna, yaitu: 1] sebatang mambu yang dibungkus kain putih dan atau ambu sebagai symbol kekuatan Mahadewa; 2] Lamak, simbol dari Tribhuana; 3]Ubag-abig, simbol dari Rare Angon; 4] Tebu, simbol dari kekuatan Dewa Sambu; 5] Plawa, simbol dari kekuatan Dewa Sangkara; 6] Janur, simbol dari kekuatan Dewa Mahadewa; 7] Sanggah Cucuk, simbol dari kekuatan Dewa Siwa; 8] Tamiang, Simbol dari penolak kejahatan atau bala; 9] Hiasan gegantungan dan cili, simbol dari Widyadari; 10] Banten Upakara, simbol dari kekuatan Dewa Sadha Siwa; 11] Kue (Jaja gina dan jaja uli) simbol dari kekuatan Dewa Wisnu; 12] Klukuh berisi pisang, jaja, dan tape, simbol dari kekuatan Dewa Boga; 12] Kain putih kuning, simbol dari kekuatan Dewa Iswara Sampian dan Dewa Parama Siwa. Penjor Galungan sebaiknya dipasang satu hari sebelum Hari Raya Galungan atau Hari Penampahan Galungan, setelah siang hari-setelah selesai melaksanakan berbagai acara nampah. Hal tersebut bermakna pada Hari Penampahan, manusia telah melawan pikiran yang kotor, ego, dan sifat-sifat negatif. Sehingga pemasangan penjor bermakna dan memberi simbol telah menang dari peperangan melawan sifat-sifat buruk tersebut. Lebih tepatnya penjor dipasang pada Selasa Wage Wuku Dungulan, setelah lewat dari pukul 12 siang. Lalu kapan penjor Galungan itu dicabut? Penjor umat Hindu di Bali umumnya mencabut penjor 42 hari setelah Hari Raya Galungan berdasarkan Kalender Saka Bali. Setelah penjor dicabut, perlengkapan penjornya seperti sampian, lamak, dan perlengkapan Upacara Galungan yang lain dibakar serta abunya akan disimpan di kelapa gading muda yang dikasturi. Penjor saat Hari Raya Galungan umat Hindu di Bali merupakan tradisi yang akan terus dilestarikan. Pada intinya penjor merupakan simbolik ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa atas kesejahteraan dan kemakmuran umat manusia di bumi.
Bagaimana penjelasan selanjutnya, silahkan simak sesuluh Yudha Triguna melalui Yudha Triguna Channel pada Youtube, juga pada Dharma wacana agama Hindu.
Untuk mendapatkan video-video terbaru silahkan Subscribe
https://www.youtube.com/channel/UCB5R
Facebook: www.facebook.com/yudhatriguna
Информация по комментариям в разработке